Produk Teknologi Peternakan dan Veteriner

Inventor: Aryogi,  Yudi Adinata, Mariyono, Lukman Affandhy, Yenny Nur Anggraeny, Dicky Pamungkas, Ainur Rasyid, M. Luthfi, S
Nomor Paten: -

Inventor:
L Hardi Prasetyo, Triana Susanti, Pius P Ketaren, Argono R Setioko, Maijon Purba
Balai Penelitian Ternak

Inventor:

Tike Sartika, Sofjan Iskandar, Beni Gunawan, Heti Resnawati, Desmayati
Balai Penelitian Ternak

Inventor: Ismeth Inounu, Bess Tiesnamurti, Nur Hasanah Hidajati, Eko Handiwirawan
Nomor Paten: -
Unit Kerja: Balai Penelitian Ternak

Inventor: Subandriyo, Bambang Setiadi, Bess Tiesnamurti, Eko Handiwirawan
Nomor Paten: -
Unit Kerja: Balai Penelitian Ternak
  • Itik MA Agrinak
  • Kambing Boerka
  • Ayam Kub
  • Gamal

Facebook Like Box

Aflatoksin merupakan mikotoksin yang dihasilkan oleh kapang Aspergillus flavus dan Aspergillus parasiticus. Terdapat beberapa jenis aflatoksin utama, yaitu aflatoksin B1, B2, G1 dan G2. Keempat jenis aflatoksin tersebut biasanya ditemukan bersama dalam berbagai proporsi pada berbagai jenis pangan dan pakan hewan. Aflatoksin B1 biasanya paling mendominasi dan bersifat paling toksik. Aflatoksin B1 dan B2 dihasilkan oleh A. flavus dan A. parasiticus. Sedangkan aflatoksin G1 dan G2 hanya dihasilkan oleh A. parasiticus. Jika aflatoksin B1 dan G1 masuk ke dalam tubuh hewan ternak melalui pakannya, maka senyawa tersebut akan dikonversi di dalam tubuh hewan tersebut menjadi aflatoksin M1 dan M2, yang dapat diekskresikan dalam susu dan urin.

Aflatoksin dapat dijumpai pada berbagai bahan pangan, Namun, komoditas yang mempunyai tingkat risiko tertinggi terkontaminasi aflatoksin adalah jagung, kacang tanah dan biji kapas (cotton seed). Pada sejumlah spesies hewan, aflatoksin dapat menyebabkan nekrosis akut, sirosis dan karsinoma hati serta berpotensi mempengaruhi sistem kekebalan tubuh. Tidak ada hewan yang resisten terhadap efek toksik akut aflatoksin.

Sebagaimana halnya penanganan toksin fumonisin, untuk itu dibutuhkan pula perangkat deteksi cepat yang mudah dan ekonomis untuk deteksi aflatoksin. Kegiatan pengembangan kit ELISA aflatoksin B, telah dilakukan oleh BB Litvet dan telah dapat dirakit kit ELISA aflatoksin B, untuk analisis kandungan aflatoksin pada sampel pakan dan jagung. Keunggulan Kit ELISA Aflatoksin hasil inovasi BB Litvet adalah (1) Bisa mengektraksi 40 sampel sederhana sekaligus; (2) Analisisnya lebih cepat 15 menit dan hasilnya lebih sensitif serta spesifik daripada alat serupa buatan luar negeri; (3) Harganya relatif lebih murah 1/3 dari komersial; dan (4) Kit ELISA bisa disimpan selama dua bulan pada suhu 4oC. Dengan tersedianya teknik deteksi yang dikembangkan, kontrol kualitas pakan dan jagung diharapkan dapat dilakukan secara lebih cepat dan berkesinambungan.

Kit fumelisa merupakan kit untuk mendeteksi toksin fumonisin. Fumonisin yaitu jenis mikotoksin yang dihasilkan oleh kapang Fusarium verticilliodes dan Fusarium proliferatum yang tumbuh sebagai patogen pada komoditas pertanian seperti jagung, gandum, sorgum dan padi. Fumonisin dikategorikan sebagai senyawa karsinogenik grup 2B dan termasuk lima mikotoksin penting di dunia. Fumonisin diketahui sebagai penyebab kanker esofagus dan radang ginjal pada manusia, leukoensepalomalasia pada kuda, pembengkakan paru-paru pada babi, toksisitas pada kardiovaskuler pada kuda dan babi, kematian akut pada domba, serta penurunan kekebalan pada ayam. Di Indonesia, fumonisin ditemukan pada bahan pakan (jagung, dedak) dan pakan komposit.

Dalam rangka keamanan pangan, monitoring kontaminasi fumonisin dalam bahan pakan dan pangan perlu dilakukan dengan cepat dan akurat. Untuk itu, dibutuhkan perangkat deteksi cepat yang mudah serta ekonomis dan itu dapat dilakukan dengan Kit Fumolisa hasil inovasi dari BB Litvet.

Kit Fumolisa tersebut adalah (1) berbasis antibodi monoklonal (Sub Klom 2B1F6F7), dikembangkan untuk mendeteksi fumanisim B1 (FB1) pada produk pertanian dan pakan ternak; (2) Memiliki performans yang baik untuk mendeteksi fumonisin pada jagung dan pakan; (3) Antibodi bereaksi spesifik terhadap FB1 (100%) dan FB2 (4,9%) dengan batas deteksi 0,5 ng/ml (ppb); dan (4) Dapat membantu mengatasi keracunan fumonisin pada produk pertanian dan pakan ternak.

Salah satu penyakit yang sering terjadi pada unggas yang banyak menimbulkan kerugian industri unggas dan peternak ayam adalah koksidiosis yang disebabkan oleh parasit genus Eimeria spp.

Salah satu tanaman yang memiliki potensi menghambat pertumbuhan protozoa adalah Sapindus rarak (lerak) karena memiliki kandungan senyawa sekunder saponin yang bersifat antimikroba terutama pada jamur dan protozoa serta fungsinya sebagai anti-koksidia.

Mineral dalam pakan ruminansia berfungsi untuk memenuhi kebutuhan harian dan untuk aktivitas mikroba di dalam rumen. Di dalam rumen mineral ikut menentukan kecernaan serat terutama lignoselulosa. Mikro mineral yang berperan aktif dalam membantu aktivitas metabolisme mikroba rumen adalah Zn, Se, Co, Cu dan Mo. Pakan yang berupa hijauan di Indonesia sering dilaporkan defisiensi Zn. Defisiensi Zn dapat lebih ditoleransi oleh ternak bila kadar Ca dalam pakan lebih rendah.


Untuk mengatasi masalah di atas, penggunaan Zn organik yang diproduksi di luar negeri lebih banyak digunakan dibandingkan dengan Zn anorganik. Zink organik merupakan Zn yang terikat dengan protein atau asam amino. Zink yang berikatan dengan protein disebut Zn-proteinat sedangkan yang berikatan dengan gugus asam amino metionin disebut Zn-metionat. Sementara itu, Zn-biokompleks adalah hasil fermentasi Zn pada bahan pakan yang berkadar protein tinggi.


Penambahan 50 mg/kg Zn-metionat pada ternak domba dapat meningkatkan pertambahan bobot hidup yang lebih baik sebesar 35,42% dibandingkan dengan yang tanpa penambahan Zn-metionat. Selain itu, juga dapat meningkatkan efisiensi penggunaan serat, serta perbaikan nilai FCR sebesar 20,16%.

Teknologi pemisahan sperma telah banyak dilakukan dan mungkin bisa mempengaruhi efisiensi biologis dan ekonomis. Sexing spermatozoa adalah upaya pemisahan kromosom X dan Y pada spermatozoa ternak untuk menentukan jenis kelamin ternak yang dilahirkan.
1). Spermatozoa mempunyai dua jenis kromosom yang berbeda yaitu X dan Y. Keberhasilan membuahi sel telur dapat menghasilkan anak betina (XX) dan jantan (XY).
2).  Dibandingkan dengan spermatozoa X, spermatozoa Y memiliki kepala yang lebih kecil, lebih ringan dan lebih pendek, sehingga spermatozoa Y lebih cepat bergerak. Spermatozoa X mengandung kromatin lebih banyak, sehingga mengakibatkan ukuran kepala spermatozoa X lebih besar. Dikarenakan spermatozoa Y bergerak lebih cepat akan diikuti kematian yang lebih cepat pula dibandingkan spermatozoa X.

IB adalah suatu proses perkawinan yang dilaksanakan dengan memasukkan spermatozoa (semen) ke saluran reproduksi ternak betina oleh manusia yang meniru proses alami. Tujuan utama IB adalah untuk lebih mendayagunakan perbaikan mutu genetik (bibit) ternak melalui peningkatan efisiensi penggunaan pejantan unggul. Keberhasilan IB dengan metode trancervical berkisar antara 40-60%.

Pengolahan semen meliputi penampungan, pengenceran dan penyimpanan. Cara penyiapan semen cair: 1) lakukan penampungan semen; 2) tentukan konsentrasi semen untuk IB. Sekali penampungan dapat terjadi 2-3 kali ejakulasi. Volume semen setiap ejakulasi sekitar 0,3-1,2 ml.

Kepadatan spermatozoa yang cukup aman untuk keberhasilan IB sekitar 100-200 juta/ml. Sedangkan kepadatan spermatozoa semen kambing/domba per ejakulasi berkisar 2-4,5 milyar/ml. Maka pengenceran dapat dilakukan 10-15 kali dan dosis inseminasi buatan 0,25-0,5 ml.

Semen yang telah dicampur dengan bahan pengencer apabila untuk digunakan dalam waktu pendek (4-5 hari) dapat disimpan pada suhu 4-70C (lemari pendingin) atau ke dalam straw guna menyimpan pada suhu -1960C (liquid nitrogen) untuk dibekukan.