• An Image Slideshow
  • An Image Slideshow
  • An Image Slideshow
  • An Image Slideshow
  • An Image Slideshow
  • An Image Slideshow
  • An Image Slideshow
  • An Image Slideshow
  • An Image Slideshow
  • An Image Slideshow
  • An Image Slideshow
 
  • An Image Slideshow
  • An Image Slideshow
  • An Image Slideshow
  • An Image Slideshow
  • An Image Slideshow
  • An Image Slideshow
  • An Image Slideshow
  • An Image Slideshow
  • An Image Slideshow
 
  • An Image Slideshow
  • An Image Slideshow
  • An Image Slideshow
  • An Image Slideshow
  • An Image Slideshow
  • An Image Slideshow
  • An Image Slideshow
  • An Image Slideshow
  • An Image Slideshow
  • An Image Slideshow
   

The 6th Livestock Research Group Meeting

Indonesia sudah menjadi anggota Livestock Research Group (LRG) sejak tahun 2008, yang setiap tahun mengadakan pertemuan untuk membahas penelitian dan aktivitas yang berkaitan dengan mitigasi gas rumah kaca dari setiap negara anggota LRG dalam rangka pengendalian emisi gas rumah kaca dari sektor peternakan.

Pertemuan tahunan ke-6 anggota LRG diselenggarakan di Indonesia oleh Badan Litbang Pertanian melalui Pusat Penelitian dan Pengembangan Peternakan pada tanggal 14 – 15 Nopember 2014 bertempat di Jogjakarta Plaza Hotel-Yogyakarta. Pertemuan dihadiri oleh 60 peserta yang berasal dari 25 negara, setiap negara anggota diminta untuk partisipasi dua wakil anggota LRG.

Acara dibuka oleh Kepala Puslitbang Peternakan (Dr. Bess Tiesnamurti) mewakili Kepala Badan Litbang Pertanian dalam sambutannya disampaikan bahwa di Indonesia berperan aktif di dalam mitigasi gas rumah kaca dan membuka kerjasama penelitian dengan luar neger dengan syarat sesuai dengan karakteristik dan geografi Indonesia dan sejalan dengan kebijakn nasional.

Selanjutnya pertemuan/diskusi dipimpin oleh chair LRG Martin Scholten (Wageningen UR, Belanda) dan co - chairs Harry Clark (New Zealand Agricultural Greenhouse Gas Research Centre).  Agenda pertemuan adalah laporan perkembangan penelitian dan kerjasama internasional dari masing-masing negara yang terkait dengan LRG dan membahas rencana kerja 12 bulan ke depan dari LRG dan kemungkinan kerjasama penelitian serta membangun network  diantara negara-negara anggota.

Pada tanggal 16 Nopember 2014 ada kegiatan tambahan pertemuan 11 negara di Asia untuk membangun kerjasama penelitian dalam bidang inventori dan mitigasi gas rumah kaca dari bidang peternakan, pertemuan tersebut di koordinir oleh Global Research Alliance.

 

Menuju Humas Profesional Untuk Indonesia Baru

Jabatan fungsional pranata humas melakukan kegiatan perencanaan, pelayanan informasi dan kehumasan, hubungan eksternal dan internal, audit komunikasi kehumasan dan pengembangan pelayanan informasi dan kehumasan. Pranata humas sebagai salah satu jabatan fungsional yang berada dibawah binaan Kementerian Komunikasi dan Informatika telah melaksanakan Pra Kongres Pranata Humas pada tanggal 11-12 November 2014 di Yogjakarta. Kegiatan ini bertujuan mewadahi pengembangan profesi dan sinergi pembinaan jabatan fungsional pranata humas.

Acara dibuka oleh Direktur Komunikasi Publik Tulus Subardjono yang dilanjutkan dengan talk show dengan Dirjen Informasi dan Komunikasi Publik, Ermil Tabrani (Praktisi) dan Lena Satika (Perhumas Yogja). Rangkaian dari kegiatan ini: Seminar Humas Pemerintah, Workshop Kehumasan, Pameran Pendidikan dan Kehumasan, Kompetisi Kehumasan dan Festival oleh-oleh nusantara. Workshop kehumasan meliputi: Sertifikasi humas atau publik relations, Penulisan ilmiah kehumasan, Monitoring isu kehumasan dan Klinik penilaian angka kredit. Pra kongres ini membahas: Tata tertib, Program dan Organisasi.

Pra Kongres ini wajib diikuti oleh pranata humas, dihadiri 400 orang pranata humas dari berbagai kementerian antara lain: Pertanian, Perhubungan, Kehutanan, Sosial, Keuangan, Kesehatan, Pemberdayaan Perempuan dan PA, Agama, Kelautan Dan Perikanan, Perdagangan, Pemuda dan Olah Raga, Pekerjaan Umum, Tenaga Kerja dan Transmigrasi, Pendidikan dan Kebudayaan, Lembaga Penerbangan Dan Antariksa Nasional, Basarnas, LIPI, Badan Pusat Statistik, Bapeten, Lembaga Administrasi Negara, Kejaksaan Agung, Batan, BPPT, BNBP, Lembaga Sandy Negara, Setjen DPR RI dan BMKGdll. (REP)

 

Kongres Internasional Asia-Australasian Association Of Animal Production (AAAP) Societies Ke-16

Indonesia mendapat kehormatan untuk menjadi tuan rumah Kongres Internasional Asia-Australasian of Animal Production (AAAP) Societies ke-16 yang diselenggarakan di Yogyakarta.  Dalam sejarah penyelenggaraan Kongres AAAP, Indonesia telah menjadi tuan rumah untuk yang kedua kalinya.  Indonesia pernah menjadi tuan rumah pada Kongres AAAP ke-7 yang diselenggarakan di Denpasar, Bali.  AAAP yang saat ini beranggotakan 18 negara, didirikan pada tahun 1980 dengan tujuan mengabdikan diri untuk mewujudkan produksi ternak yang efisien di kawasan Asia-Australasia melalui kerjasama nasional, regional, internasional dan konferensi akademik.  Aktivitas utama AAAP adalah Penyelenggaraan Kongres AAAP setiap 2 tahunan, Publikasi the Asian-Australasian Journal of Animal Sciences dan Prosiding Kongres AAAP, Simposium dan Pemberian penghargaan bagi ilmuwan AAAP.

Kongres AAAP ke-16 diselenggarakan atas kerjasama antara Universitas Gadjah Mada, Ikatan Sarjana Peternakan Indonesia (ISPI), dan Kementerian Pertanian.  Lokasi penyelenggaraan berpusat di Gedung Grha Sabha Pramana, Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta.  Tema Kongres AAAP ke-16 ini adalah “Sustainable Livestock Production in the Perspective of Food Security, Policy, Genetic Resources and Climate Change”.  Disamping seminar, secara parallel juga diselenggarakan beberapa Simposium di sekitar venue dan field trip.  Kongres ini merupakan forum komunikasi antara para peneliti, akademisi, industri, dan pemangku kepentingan di antara negara-negara Asia-Australasia yang berupaya untuk terus meningkatkan produksi pangan protein hewani melalui kolaborasi dan kerjasama antar ilmuwan yang telah memberikan kontribusi signifikan terhadap produksi ternak di wilayah tersebut. 

Kongres AAAP ke-16 dibuka oleh Staf Ahli Menteri Pertanian Bidang Inovasi dan Teknologi Pertanian (Dr. Mat Syukur) mewakili Menteri Pertanian tanggal 11 November 2014.  Sekitar 1.000 orang dari 42 negara hadir dalam kongres ini baik sebagai pemakalah oral, poster maupun listener.  Kongres berikutnya (ke-17) telah ditetapkan akan diselenggarakan di Jepang tahun 2018.  (EH)

   

The 2nd Meeting Of Animal Genetic Resources National Coordinator Of Asia Region

Pertemuan Kedua Koordinator Nasional Wilayah Asia Sumberdaya Genetik Hewan (SDGH) telah dilakukan di BPTP Jogjakarta, DI Yogyakarta, Indonesia. Pertemuan dilaksanakan pada tanggal 10 November 2014 oleh Pusat Penelitian dan Pengembangan Ternak (Puslitbang Peternakan) bekerjasama dengan Koordinator Nasional Wilayah Asia dari Sumberdaya Genetik Hewan (SDGH) untuk Pangan dan Pertanian. Pertemuan ini dihadiri National Coordinator dari Thailand, Malaysia dan Indonesia dari 29 negara yang diundang untuk hadir dalam pertemuan ini.  Dari Indonesia hadir peneliti dan pengambil kebijakan dari UPT lingkup Puslitbang Peternakan, BB Penelitian Veteriner, BB Biogen, BPTP Yogyakarta dan Jawa Tengah, BPTU di lingkungan Ditjen PKH (Pelaihari, Baturraden, Padang Mangatas, Sembawa, Denpasar), Dinas Pertanian dan Peternakan Yogyakarta, Sleman dan Bantul.

Ka Puslitbang Peternakan (Dr. Bess Tiesnamurti) mewakili Ka Badan Litbang Pertanian menyampaikan wellcome address sekaligus membuka pertemuan tersebut.  Ditunjuk dalam pertemuan ini Dr. David Steane sebagai Chair Person dan Dr. Anneke Anggraeni sebagai Rapporteur.  Dalam sesi pertama Dr. Kalaya Boonyanuwat dari Thailand menyampaikan presentasi “Report of the 1st Meeting of Animal Genetic Resources National Coordinator in Asia Region”, kemudian Dr. David Steane menyampaikan presentasi tentang “The State of World’s Animal Genetic Resources for Food and Agriculture” dan selanjutnya Dr. Bess Tiesnamurti menyampaikan presentasi mengenai “Access and Benefit-Sharing for Animal Genetic Resources for Food and Agriculture”. Pada sesi kedua Dr. Kalaya Boonyanuwat menyampaikan presentasi tentang “Programe of Work on Climate Change and Animal Genetic Resources for Food and Agriculture”.

Pertemuan ini menindak lanjuti hasil Pertemuan Pertama yang sebelumnya dilakukan di Bangkok, Thailand dari tanggal 9 - 11 September 2013.  Chair person (Dr. David Steane), saat itu mengusulkan dibentuk Focal Point di Wilayah Asia untuk SDGH, dengan keuntungan yang mungkin didapat berupa : 1). pertukaran informasi antara negara anggota terkait SDGH, 2). bantuan dan advisori teknis dari FAO kepada negara anggota, dan 3). peluang untuk mendapatkan dana untuk regional lebih besar dibandingkan terhadap individual negara. Negara peserta menyetujui dibentuknya Regional Focal Point (RFP) untuk Wilayah Asia, kemudian dibentuk “interim steering committee”.  Diskusi berkembang membahas topik presentasi yang disampaikan dari ketiga pembicara tersebut.  Pada pertemuan ini diusulkan akan melanjutkan Pertemuan Ketiga Koordinator Nasional Wilayah Asia dari Sumberdaya Genetik Hewan (SDGH) Pangan dan Pertanian setiap dua tahun mengikuti kegiatan AAAP ke 17 yang akan dilakukan di Negara Jepang.

 

Kambing Kacang (Kambing Lokal Indonesia)

Peternakan kambing di Indonesia yang masih berskala kecil perlu diusahakan secara komersial. Sejalan dengan pertumbuhan penduduk dan peningkatan daya beli masyarakat. Kebutuhan daging saat ini belum mencakupi permintaan, ditambah lagi kebutuhan acara ternak Qurban bagi yang beragama islam.
Pengembangan bangsa kambing mengarah kepada dua produk utama (daging dan susu) bangsa kambing mampu beradaptasi sangat baik terhadap kondisi iklim yang beragam.

Kambing Kacang merupakan kambing lokal Indonesia, memiliki nilai ekonomi dan disukai oleh petani, konstribusi ternak kambing terhadap total pendapatan pertanian untuk ruminansia kecil sangat substansial. Produksinya juga memegang peranan penting untuk menumbuhkan aktivitas pendapatan sebagian besar petani kecil, selain menjadi sumber protein hewani untuk menunjang ketahanan pangan nasional.

Upaya untuk mengoptimalkan potensi kambing Kacang diawali dengan menginventarisasi  berbagai sifat kualitatif, kuantitatif yang selanjutnya ditetapkan sebagai salah satu rumpun ternak nasional. Langkah ini dilakukan selain untuk mendapatkan legalitas formal secara nasional maupun internasional, juga sebagai upaya melestarikan sumber daya genetik ternak (SDGT) agar pemanfaatannya dapat dilakukan secara berkelanjutan. Saat ini, kambing Kacang telah ditetapkan sebagai Rumpun kambing Kacang berdasarkan Keputusan Menteri Pertanian Nomor 2840/KPTS/LB,430/8/2012.

Sumber: Rumpun Kambing Kacang di Indonesia (Batubara et al. 2012)

 

   

Halaman 1 dari 2




Home | Hubungi Kami | Forum | Site Map | Tim Redaksi
(c) Copyright 2009 - 2014 Puslitbangnak
Jl. Raya Pajajaran Kav E59 Bogor 16151 Jawa Barat, Indonesia
Phone. +62 251 8322183, +62 251 8328383
e-Mail: medpub@litbang.pertanian.go.id - puslitbangpeternakan@gmail.com

               





www.litbang.pertanian.go.id