• An Image Slideshow
  • An Image Slideshow
  • An Image Slideshow
  • An Image Slideshow
  • An Image Slideshow
  • An Image Slideshow
  • An Image Slideshow
  • An Image Slideshow
  • An Image Slideshow
  • An Image Slideshow
  • An Image Slideshow
 
  • An Image Slideshow
  • An Image Slideshow
  • An Image Slideshow
  • An Image Slideshow
  • An Image Slideshow
  • An Image Slideshow
  • An Image Slideshow
  • An Image Slideshow
  • An Image Slideshow
 
  • An Image Slideshow
  • An Image Slideshow
  • An Image Slideshow
  • An Image Slideshow
  • An Image Slideshow
  • An Image Slideshow
  • An Image Slideshow
  • An Image Slideshow
  • An Image Slideshow
  • An Image Slideshow
   

Sosialisasi Rencana Aksi Nasional Pemanfaatan Sumber Daya Genetik Ternak untuk Pangan dan Pertanian

Pusat Penelitan dan Pengembangan Peternakan (Puslitbangnak) bekerjasama dengan Universitas Diponegoro melaksanakan sosialisasi ‘Rencana Aksi Nasional Pemanfaatan Sumber Daya Genetik Ternak untuk Pangan dan Pertanian’ di Semarang, Jawa Tengah pada 12 Desember 2014.

Kapuslitbangnak Dr. Bess Tiesnamurti sebagai pembicara pertama menjelaskan strategi nasional dan rencana aksi sumber daya genetik hewan (SDGH) untuk pangan dan pertanian. Rencana aksi ini mengacu pada konferensi teknis internasional SDGH untuk pangan dan pertanian pertama yang dilakukan oleh Organisasi Pangan dan Pertanian/Food and Agriculture Organization (FAO) di Interlaken, Swiss pada 7 September 2007.

Status SDGH sektor peternakan dilaporkan 7.616 rumpun di dunia. Dari jumlah itu, 20% di antaranya terancam berisiko dan hampir satu rumpun hilang tiap tahunnya. Produksi peternakan semakin menggunakan rumpun terbatas, sedangkan keragaman genetiknya menurun. Saat ini, negara-negara menghadapi tantangan yang kompleks dalam memilih cara terbaik untuk memanfaatkan, mengembangkan dan melestarikan SDGH untuk pangan dan pertanian.

Terdapat empat prioritas strategis rencana aksi global untuk aksi SDGH yang dapat diterapkan oleh setiap negara: (1) Karakteristik, inventarisasi dan monitoring perkembangan terkait dengan resiko kepunahan SDGH; (2) Pemanfaatan berkelanjutan dan pengembangan; (3) Konservasi; dan (4) Kebijakan, kelembagaan dan pengembangan kapasitas.

Prioritas strategi point pertama yang telah dilakukan oleh Indonesia yaitu mengeluarkan Peraturan Menteri Pertanian Nomor 19/Permentan/OT.140/2/2008 tentang Penetapan dan Pelepasan Rumpun atau Galur Ternak, memberikan informasi lengkap mengenai karakteristik ternak/hewan asli dan lokal dan Direktorar Perbibitan, Ditjen PKH dan lembaga terkait terus mendorong penetapan/pelepasan rumpun/galur lainnya. Penetapan ternak lokal sudah dilakukan untuk sekitar 43 rumpun/galur dan sebanyak dua galur/rumpun unggul telah dilepas.

Pertemuan ini dihadiri oleh perwakilan dari BPTP Jawa Tengah; Dosen Fakultas Peternakan dan Pertanian Undip, Dinas Peternakan dan Kesehatan Hewan Provinsi Jawa Tengah, Dinas Peternakan Kabupaten Blora, Temanggung, Banjarnegara, Semarang, Kendal, Grobogan dan Kota Magelang; serta mahasiswa Fakultas Peternakan dan Pertanian Undip. (REP/IKH)

 

Pembentukan Galur Baru Ternak Melalui Upgrading

Pusat Penelitan dan Pengembangan Peternakan (Puslitbangnak) bekerjasama dengan Universitas Diponegoro melaksanakan sosialisasi ‘Rencana Aksi Nasional Pemanfaatan Sumber Daya Genetik Ternak untuk Pangan dan Pertanian’ di Semarang, Jawa Tengah pada 12 Desember 2014.

Prof. Dr. Subandriyo sebagai pembicara kedua memaparkan pembentukan rumpun atau galur baru ternak dari sumber daya genetik hewan (DGH). Salah satu cara pembentukan rumpun/bangsa murni adalah dengan upgrading atau grading up, yaitu topcross dari rumpun murni terhadap rumpun lain. Cara ini merupakan yang cepat dan murah untuk membentuk sejumlah besar rumpun murni.

Rumpun yang baru dibentuk pada negara yang sudah berkembang, pengakuannya diusulkan oleh breeder association kepada Department of Agriculture. Sedangkan, di negara yang sedang berkembang, pengakuan rumpun baru atau rumpun lokal diatur dengan undang-undang, peraturan pemerintah maupun peraturan menteri. Di Indonesia diatur dalam Peraturan Pemerintah Republik Indonesia Nomor 48 Tahun 2011, tentang Sumber Daya Genetik Hewan dan Perbibitan Ternak dan Peraturan Menteri Pertanian Republik Indonesia Nomor 117/Permentan/SR.120/10/2014, tentang Penetapan dan Pelepasan Rumpun atau Galur Hewan (Peraturan sebelumnya Nomor 19/Permentan/OT.140/2/2008).

Penetapan adalah pengakuan rumpun yang sudah ada (rumpun asli/lokal), sedangkan pelepasan adalah pengakuan rumpun baru hasil penelitian. Penetapan rumpun/galur hewan asli/lokal berdasarkan Permentan tahun 2008 dan 2014 antara lain, sapi Bali, sapi Madura, sapi Jabres, sapi Pesisir, sapi Aceh, sapi PO, kerbau Kalang, kerbau Gayo, kambing Kaligesing, kambing Senduro, kambing Kacang, domba Batur, domba Dombos, domba Garut, itik Alabio, itik Mojosari, ayam Kedu. Pelepasan rumpun/galur hewan hasil penelitian masih sangat terbatas (kuda pacu Indonesia), ayam KUB dan domba Compass Agrinak.

Pembicara ketiga (Whitono), dalam pemaparannya, menjelaskan rumpun/galur yang potensial sebagai sebagai sumberdaya genetik ternak di Jawa Tengah. Sementara, pembicara keempat (Prof. Dr. Edy Kurnianto, MS, MAgr) dalam pemaparannya menjelaskan sumberdaya genetik ternak berkelanjutan. Banyak rumpun ternak yang telah beradaptasi dengan kondisi lokal Indonesia merupakan potensi besar sebagai penyedia bahan baku pangan dan industri.

Penyilangan ternak asli dan ternak lokal (khususnya sapi) dengan ternak eksotik (impor) telah berhasil meningkatkan produksi daging dan susu secara nasional, tetapi implementasi program persilangan tidak dilakukan secara terencana dan terarah, ,maka mutu genetik ternak lokal Indonesia menjadi rendah. Sebagian besar komoditas ternak asli/lokal di Indonesia tidak/kurang diperhatikan, usaha perbibitan ternak lokal kurang dikembangkan sehingga tidak tersedia ternak berkualifikasi bibit dalam jumlah besar.

Beberapa strategi untuk menjaga populasi sumberdaya genetik ternak yaitu dengan pemahaman mengenai pelestarian plasma nutfah, insentif bagi pembudidaya ternak asli/lokal, monitoring dan evaluasi perkembangan populasi ternak asli/lokal untuk penentuan status populasi, pemanfaatan teknologi secara terprogram, konservasi, peraturan daerah/kebijakan yang memihak peternak ternak asli/lokal.

Model konservasi in situ merupakan model yang tepat untuk melestarikan keberadaan ternak asli dengan mempertahankan kondisi agroekosistem yang ada dan memanfaatkan perkembangan teknologi peternakan, sedangkan konservasi ex situ untuk upaya mengembangkan ternak konsumsi melalui perkawinan silang. Keterlibatan peternak menjadi foktor kunci dalam keberhasilan kegiatan konservasi dan perguruan tinggi memberikan kontribusi yang besar dalam memanfaatkan sumberdaya genetik dan pelestariannya.

Pertemuan ini dihadiri oleh perwakilan dari BPTP Jawa Tengah; Dosen Fakultas Peternakan dan Pertanian Undip; Dinas Peternakan dan Kesehatan Hewan Provinsi Jawa Tengah; Dinas Peternakan Kabupaten Blora, Temanggung, Banjarnegara, Semarang, Kendal, Grobogan dan Kota Magelang; serta mahasiswa Fakultas Peternakan dan Pertanian Undip. (REP/IKH)

 

Perkembangan Implementasi Permentan Sawit-Sapi

Pusat Penelitian dan Pengembangan Peternakan (Puslitbangnak) melaksanakan Seminar Bulanan di Aula Puslitbangnak pada 10 Desember 2014. Dalam seminar tersebut dibahas mengenai perkembangan implementasi Peraturan Menteri Pertanian (Permentan) No. 105 Tahun 2014 tentang Integrasi Usaha Perkebunan Kelapa Sawit dengan Usaha Budi Daya Sapi Potong.

Acara dibuka oleh Kepala Bagian Tata Usaha Puslitbangnak, Ir. Anny Slamet, MM. Kemudian, seminar dilanjutkan dengan penyampaian materi yang disampaikan Prof. Dr. Sjamsul Bahri sebagai pembicara utama. Materi yang dibawakan adalah “Beberapa Pemikirian Pengembangan Sapi di Perkebunan Sawit sebagai Masukan dari Sosialisasi Permentan Nomor 105 Tahun 2014”.

Sebagian dari materi yang disampaikan adalah mengenai perlunya pemikiran agar dibuat Peraturan Daerah (Perda) mengenai integrasi sawit-sapi. Selain itu, perlu juga dipikirkan adanya dukungan insentif bagi perusahaan swasta yang melaksanakan integrasi sawit-sapi. Insentif yang sangat diharapkan adalah kemudahan dalam mendapatkan bibit ternak. “Permentan perlu terus disosialisasikan agar terimplementasi dengan baik” ujar Prof. Dr. Sjamsul Bahri.

Pemeliharaan ternak sapi dapat dilakukan dengan cara digembalakan dan intensif. Pemeliharaan dengan cara digembalakan yaitu ternak dilepas di area perkebunan sawit, sedangkan dengan cara intensif adalah pemeliharaan dengan cara dikandangkan.

Tema kedua yang disampaikan dalam Seminar Bulanan adalah “Peran Indonesia dalam Pengendalian Myiasis di Asia dengan Program Sterile Insect Technique” yang disampaikan oleh Dr. April H. Wardhana, S.KH, M.Si., PhD. Seminar ini dihadiri oleh peneliti dari Balitnak, BBblitvet, BPATP, Ditjen PKH, BBPKH, Dinas Peternakan dan Perikanan Kabupaten Bogor, BPPT, Dit. Kesmavet PP dll. (REP/IKH)

   

Perkebunan Sawit Swasta dan BUMN Serius Garap Integrasi Sawit-Sapi

Integrasi perkebunan sawit dengan peternakan sapi potong yang dikembangkan oleh Pusat Penelitian dan Pengembangan Peternakan (Puslitbang Peternakan) terus mengalami peningkatan. Perkebunan sawit swasta dan Badan Usaha Milik Negara (BUMN) yang bergerak di perkebunan sawit semakin banyak yang melakukan integrasi sawit-sapi.  Time Peneliti dari Puslitbang Peternakan melakukan kunjungan lapang ke PT. Bakrie Sumatera Plantations (BSP) dan PT. Perkebunan Nusantara III (PTPN III) di Sumatera Utara pada 26-30 November 2014. Dua perusahaan tersebut melaksanakan kajian integrasi sawit-sapi dengan metode penggembalaan.

PT. BSP membuka lahan perkebunan sawitnya untuk penggembalaan ternak sapi milik peternak rakyat, salah satunya berada di perkebunan Gurach Batu Estate, Asahan, Sumatera Utara. Pembukaan lahan untuk penggembalaan sapi milik peternak rakyat merupakan komitmen PT. BSP untuk mengembangkan integrasi sawit-sapi. Menurut Manager Gurach Batu Estate PT. BSP Adni Sahid mengatakan, perkebunan sawit mendapatkan manfaat dari keberadaan sapi di lahan perkebunan karena bisa mengurangi gulma dan mampu memanfaatkan limbah sawit.

Dalam pelaksanaan penggembalaan ternak, PT. BSP memberlakukan aturan ketat. Sapi hanya bisa digembalakan di lahan sawit yang sudah berusia tua. “Lahan yang bisa digunakan untuk penggembalaan sapi hanya di lahan sawit berusia lebih dari 10 tahun,” ujar Adni Sahid. Hal itu untuk mencegah adanya sapi yang memakan daun dan buah sawit, karena kebun sawit yang masih berusia muda memiliki tinggi pohon yang masih rendah, sehingga daun dan buahnya bisa dijangkau oleh sapi yang sedang digembalakan.

Dalam waktu dekat, PT. BSP akan membeli sapi untuk dikembangkan di lahan sawit. Rencana pembelian itu masih dalam tahap pembuatan proposal yang akan diajukan kepada manajemen. PT. BSP berharap bisa menjalin kerjasama dengan Puslitbang Peternakan dalam pembuatan proposal persiapan kajian sawit-sapi tersebut. PT. BSP juga berharap Puslitbang Peternakan melakukan kajian dan riset lebih mendalam mengenai sawit-sapi, khususnya mengenai teknik pemanfaatan kotoran ternak menjadi pupuk organik sawit.

Pengembangan integrasi sawit-sapi juga dilakukan oleh PTPN III. Perusahaan ini memiliki unit khusus yang mengelola peternakan sapi. PTPN III memiliki 8 kandang sapi yang masing-masing berkapasitas 1.300 ekor.  Saat ini, kandang yang sudah diisi sapi sebanyak 6 kandang dengan populasi masing-masing kandang rata-rata sebanyak 100 ekor. Total sapi yang dipelihara sebanyak 599 ekor dengan tujuan pemeliharaan untuk penggembalaan.

PTPN III juga melakukan pemeliharaan ternak dengan cara penggembalaan di kebun sawit. Menurut Kepala Unit Sapi PTPN III Heriyanto Sitompul, sapi perlu digembalakan untuk mengurangi stres. PTPN III melakukan penggembalaan sapi secara rutin setiap hari sejak pukul 13.00 hingga 17.00. (IKH)

 

Pelatihan Pengajuan Akreditasi Jurnal Elektronik

Dalam upaya meningkatkan kualitas pengelolaan Jurnal Elektronik (E-Journal) Pusbindiklat LIPI bekerjasama dengan Badan Kebijakan Fiskal Kementerian Keuangan dan Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi  mengadakan Pelatihan Pengajuan Akreditasi Jurnal Elektronik  dengan Aplikasi Jurnal Nasional (ARJUNA) bertempat di Auditorium Ir. Sadikin Sumintawikarta, Kawasan Pertanian Cimanggu - Bogor, pada tanggal 3 Desember 2014.

Pusat Penelitian dan Pengembangan Peternakan (Puslitbangnak) mengirimkan pengelola Jurnal Ilmu Ternak dan Veteriner (JITV) dan Wartazoa,  peserta lain yang hadir pada acara tsb. berasal  dari  kota Bogor dan Bandung, Yogjakarta dan Makassar.

Acara diawali dengan sambutan dari Sekretaris Badan Kebijakan  Fiskal, Kementerian Keuangan, yang menyampaikan manfaat koneksi internet terhadap pengurangan biaya, serta harapan adanya karya tulis ilmiah yang lebih berkualitas. Kemudian dilanjutan dengan sambutan dari Sekretaris Utama LIPI yang menyampaikan paradigma pengelolaaan jurnal ilmiah sudah mulai bergeser dari cara manual ke arah elektronik.

Materi lainya yang disampaikan dalam acara ini yaitu Standar E-Jurnal (Prof. Dr. Salamin), Pendukung E-Journal Document Identifier, Pengindeks dan Profil (Daniel Siahaan), Mengakses ARJUNA (akreditasi Jurnal Nasional) (Dr. Kahar Muzahar  dan Ahmad M., MT). (REP)

   

Halaman 1 dari 2




Home | Hubungi Kami | Forum | Site Map | Tim Redaksi
(c) Copyright 2009 - 2014 Puslitbangnak
Jl. Raya Pajajaran Kav E59 Bogor 16151 Jawa Barat, Indonesia
Phone. +62 251 8322183, +62 251 8328383
e-Mail: medpub@litbang.pertanian.go.id - puslitbangpeternakan@gmail.com

               





www.litbang.pertanian.go.id