• An Image Slideshow
  • An Image Slideshow
  • An Image Slideshow
  • An Image Slideshow
  • An Image Slideshow
  • An Image Slideshow
  • An Image Slideshow
  • An Image Slideshow
  • An Image Slideshow
  • An Image Slideshow
  • An Image Slideshow
 
  • An Image Slideshow
  • An Image Slideshow
  • An Image Slideshow
  • An Image Slideshow
  • An Image Slideshow
  • An Image Slideshow
  • An Image Slideshow
  • An Image Slideshow
  • An Image Slideshow
 
  • An Image Slideshow
  • An Image Slideshow
  • An Image Slideshow
  • An Image Slideshow
  • An Image Slideshow
  • An Image Slideshow
  • An Image Slideshow
  • An Image Slideshow
  • An Image Slideshow
  • An Image Slideshow
   

Peningkatan produktivitas ayam kampung melalui penggunaan bahan pakan lokal

Dibaca: 13044 kali

Produktivitas daging dan telur ayam kampung yang masih rendah dan sangat bervariasi antar individu dapat ditingkatkan melalui (1) teknologi formulasi pakan dan (2) optimalisasi penggunaan bahan pakan lokal. 

1. Teknologi Formulasi Pakan

Sampai saat ini belum tersedia patokan kebutuhan zat-zat nutrisi yang sesuai untuk pertumbuhan dan produksi ayam kampung, sehingga peternak pada umumnya memberikan pakan berdasarkan patokan kebutuhan untuk ayam ras . Kondisi ini menyebabkan tidak efisien dalam penggunaan pakan, karena produktivitas ayam kampung lebih rendah dibandingkan dengan ayam ras  (Suwindra et al., 1982). Untuk mengatasi hal tersebut telah dihasilkan patokan kebutuhan zat-zat nurisi berdasarkan imbangan protein dan asam amino  dengan energi metabolis dalam pakan ayam kampung.  

Imbangan Protein dan Energi Metabolis

Pakan ayam sebaiknya disusun berdasarkan keseimbangan protein dan energi metabolis yang sesuai dengan kebutuhan untuk pertumbuhan dan produksi (Daghir,1995; Waldroup, 1997). Beberapa hasil penelitian melaporkan bahwa pertumbuhan dan produktivitas ayam kampung sangat dipengaruhi oleh imbangan protein dan energi metabolis pakan. Pemberian pakan yang mengandung  14 % protein dan energi metabolis  2900 kkal/kg dapat meningkatkan pertambahan bobot badan ayam kampung umur 0-6 minggu yaitu dari 35,9 g   menjadi 45,5 g/ ekor/minggu (26,7%), serta memperbaiki konversi pakan dari 6,6 menjadi 4,0(38,6%) (Resnawati,et al.,1989;  Resnawati,et al.,1991).  Persilangan ayam pelung x kampung yang diberi ransum mengandung imbangan protein 19 % dan energi metabolis 2900 kkal/kg dapat meningkatkan bobot karkas dari 52,6 % menjadi 56,3%(6,6%)(Iskandar dan Resnawati, 1999). Kebutuhan protein dan energi ayam kampung periode starter (20 %,EM 2800 kkal/kg) dan grower(15 %, EM 2700 kkal/kg). Patokan kebutuhan untuk ayam kampung pedaging adalah 15 % protein (0-6 minggu) dan 19 % (>6-12 minggu) dengan energi metabolis 2900 kkal/kg (Iskandar , 1998). Keadaan ini menggambarkan bahwa kebutuhan imbangan protein dan energi metabolis untuk ayam kampung lebih rendah dari patokan kebutuhan untuk ayam ras (NRC, 1984). 

Pakan  ayam kampung periode bertelur selama 120 hari yang mengandung protein 16 % dan energi metabolis 2700 kkal/kg  menghasilkan produksi telur 20 butir /ekor/120 hari dan konversi pakan 10,3 (Gultom et al.,1989). Produksi telur dapat ditingkatkan 48,7% dan memperbaiki konversi pakan 33,9% dengan pakan yang mengandung imbangan protein 18% dan energi metabolis 2700 kkal/kg,serta penambahan eggs stimulant (Yuwono et al.,1995). Ayam kampung yang diberi pakan mengandung 14- 24 % protein dan 2900-3200 kkal /kg energi metabolis , dapat meningkatkan bobot telur dari 33,8 g menjadi 37,6 g (10,1%), namun tidak mempengaruhi kualitas telur (Bintang et al., 1988). Patokan kebutuhan ayam kampung petelur adalah 15 % (0-12 minggu), 14 % (> 12-22 minggu) dan 15 % (> 22 minggu) dengan energi metabolis 2600 kkal/ kg (Iskandar, 1991). Keseimbangan  protein dan energi metabolis dalam pakan ayam kampung yang memenuhi  kebutuhan untuk pertumbuhan  dan produksi telur dapat meningkatkan efisiensi penggunaan pakan 10-30 %.

Imbangan Asam Amino dan Energi Metabolis

Formula pakan yang disusun berdasarkan kandungan protein dan energi metabolis, selanjutnya dikembangkan berdasarkan kebutuhan asam  aminonya. Beberapa hasil penelitian membuktikan bahwa pakan tidak dapat dimanfaatkan ternak secara efisien apabila komposisi asam-asam amino esensial tidak seimbang, juga keseimbangan asam amino esensial dan non esensial tidak memenuhi kebutuhan    (Holsheimer et al.,1992; Dalibard dan Paillard,1995). Lisin dan methionin merupakan asam amino esensial yang ketersediaannya terbatas dalam bahan pakan, sehingga perlu ditambahkan asam amino sintetis dalam formulasi pakan. Pemberian pakan yang mengandung imbangan asam amino lisin dengan energi metabolis  2,9-3,3 g /Mkal pada ayam kampung umur 0-12 minggu, mencapai konversi pakan 4,3-4,7(9,8%) , pada umur 13 – 22  minggu dengan imbangan asam  amino lisin dan energi metabolis 2,8 – 3,0 g/Mkal konversi pakannya berkisar 7,3-7,7(5,5%). Penambahan DL-methionin dan sistin pada kadar 0,70-0,95 % dalam pakan ayam ras pedaging dapat memperbaiki konversi pakan dari 1,67 menjadi 1,79 (6,2 %) (Beste et al.,1994).

Ayam lokal dan persilangannya umur 12 minggu yang diberi pakan mengandung imbangan asam amino metionin dan lisin antara 0,3 - 0,4   dengan kadar protein 15 % dan energi metabolis 2900 kkal/kg , dapat memperbaiki konversi pakan dari 3,5 menjadi 3,3 (4,5%) (Iskandar et al., 2001). Pakan yang mengandung protein 16 % dan energi metabolis 2650-2750 kkal/kg dengan penambahan asam amino lisin (0,12%)  dan metionin (0,12%) diberikan pada ayam kampung berumur 5-6 bulan selama 24 minggu, dapat meningkatkan produksi telur dari 38,1 % menjadi 41,6 % (8,5%) dan  memperbaiki nilai konversi pakan dari 5,8 menjadi 5,2 (11%) (Zainuddin et al., 2001). Dampak dari penambahan asam amino sintetik dalam pakan ayam kampung pada periode pertumbuhan maupun produksi telur dapat meningkatkan 5-10 % efisiensi penggunaan pakan.


2.  Optimalisasi Pemanfaatan Bahan Pakan Lokal

Bahan pakan lokal konvensional maupun inkonvensional terdiri dari sumber protein nabati, protein hewani dan energi. Penggunaan bahan pakan lokal  yang berasal dari limbah pertanian dan limbah industri mempunyai kendala antara lain rendahnya kandungan zat nutrisi dan adanya zat anti nutrisi yang dapat menurunkan produktivitas ternak (Sathe,1994). Pemberian bahan pakan dalam bentuk mentah dapat mengganggu perkembangan dan fungsi organ tubuh, sehingga dapat menghambat proses pencernaan dan menurunkan efisiensi penggunaan pakan (Liener,1969 ; Tangtaweewipat dan Eliot, 1989).  Oleh karena itu telah dikembangkan  teknologi pengolahan yang mudah diaplikasikan  untuk mengoptimalkan penggunaan bahan pakan lokal  dalam pakan ayam kampung  maupun ayam ras, karena diasumsikan bahwa daya toleransi penggunaan bahan pakan untuk ayam ras dapat diaplikasikan pada ayam kampung.

Bahan Pakan Sumber Protein Nabati

Bahan pakan yang biasa digunakan sebagai sumber protein nabati seperti bungkil kedelai, bungkil kacang tanah dan bungkil kelapa  untuk pakan ayam ketersediaannya masih berfluktuatif dan bersaing dengan ternak lainnya serta harganya relatif mahal. Pengujian terhadap beberapa bahan pakan sumber protein nabati alternatif seperti bungkil biji kapuk, bungkil biji kemiri dan bungkil biji karet masing-masing sebanyak 10 % pada ayam kampung, dapat memperbaiki konversi pakan dari 4,6 menjadi 4,1 (11,5%).

Teknologi pengolahan dapat meningkatkan daya toleransi ayam terhadap penggunaan bahan pakan lokal . Pemberian tepung biji saga pohon (Adenanthera pavonina, LINN) sebanyak 7,5 % dalam pakan ayam kampung dapat meningkatkan bobot badan pada umur 9 minggu dari 677 g menjadi 763 g (11,9 %) dan memperbaiki konversi pakan dari 4,02 menjadi 3,15 (21,7%) (Hau et.al., 2006). Biji saga dan bungkil biji saga yang dimasak baik disangray, direbus maupun dikukus dalam pakan ayam, dapat ditingkatkan penggunaannya dari 5 % menjadi 15-20% dan memperbaiki konversi pakan dari 2,5 menjadi 2,4 (4,5%).

Begitu juga  kacang gude (Cajanus cajan Mill sp.) yang direbus dapat meningkatkan penggunaannya dalam pakan ayam dari 30% menjadi 40 % serta memperbaiki konversi pakan dari 3,1 menjadi 2,5(18,8%). Ampas tahu yang difermentasi dapat ditingkatkan   penggunaannya dari 5 % menjadi 12 % pada pakan ayam pedaging (Nur et al.,1977). Dengan demikian proses pengolahan dapat meningkatkan penggunaan bahan pakan lokal sumber protein nabati dan efisiensi penggunaan pakan (5-15%).

Bahan Pakan Sumber Protein Hewani

Bahan pakan lokal sumber protein hewani memiliki keunggulan karena kandungan asam-asam aminonya lengkap, sehingga sangat baik untuk pertumbuhan dan produksi ternak. Namun bahan pakan konvensional seperti tepung ikan, tepung daging dan tepung darah harganya mahal dan tidak stabil. Beberapa bahan pakan sumber protein hewani yang dapat digunakan untuk pakan ayam adalah sebagai berikut tepung cacing tanah dapat mensubstitusi tepung ikan dalam pakan ayam pedaging pada umur 0-5 minggu sebanyak 15% ,dan dapat memperbaiki nilai konversi pakan dari 2,1 menjadi 1,9(4,3%) dan persentase bobot karkas dari 68 % menjadi 72 % (5,9%) (Resnawati, 2004; 2005; 2006). Penggunaan tepung cangkang udang kering 5,2 % dalam pakan ayam kampung periode pertumbuhan dapat mencapai bobot badan 669 g pada umur 8 minggu (Kompiang et al., 1994), sedangkan penggunaan 37,5 % dalam pakan ayam kampung petelur menghasilkan pruduksi telur cukup baik sekitar 50 % ( Winarti dan Bariroh, 1998). Tepung bekicot diberikan 22,6 % dan silase bekicot 32 % dalam pakan memberikan respon yang baik terhadap produksi ayam ras petelur (Kompiang, 1984). Tepung daging keong mas dapat digunakan sebanyak 4 % dalam pakan ayam ras pedaging(Harmentis et al.,1998). Aplikasi dari bahan pakan  lokal alternatif sebagai sumber protein hewani, dapat digunakan untuk mensubstitusi tepung ikan dalam formulasi pakan.

Bahan Pakan Sumber Energi

Sampai saat ini bahan baku pakan yang digunakan sebagai sumber energi  antara lain adalah  jagung dan dedak padi yang ketersediaan dan harganya masih berfluktuasi. Penggunaan tepung sagu (Metroxylon Sp.) hingga 20 % dalam pakan  ayam kampung periode pertumbuhan, menghasilkan nilai konversi pakan yang rendah yaitu 3,1 (Nataamijaya et al.,1988). Pemberian ampas sagu non fermentasi 10% dibandingkan dengan ampas sagu fermentasi 25% dalam pakan ayam kampung, memberikan respon yang baik terhadap pertumbuhan dengan memperbaiki nilai konversi pakan  dari 3,3 menjadi 3,1  (5,2%) (Ulfah dan Bamualim, 2002). Pemberian tepung ubi kayu sebanyak  50% yang ditambah dengan 0,3 % sodium tiosulfat dalam pakan ayam pedaging dapat memperbaiki konversi pakan dari 2,3 menjadi 1,9 (13,2%)  (Ketaren, 1999).

Bahan pakan sumber energi lain yang biasa digunakan untuk pakan adalah minyak goreng. Pemberian minyak dapat meningkatkan palatabilitas, daya cerna dan efisiensi penggunaan pakan. Namun penggunaan minyak goreng masih bersaing dengan kebutuhan konsumsi manusia, sehingga harganya relatif mahal. Untuk mengantisipasi hal ini, maka telah diupayakan untuk  mendapatkan minyak alternatif . Penambahan  3 % minyak kelapa dan minyak kacang tanah dalam pakan ayam ras pedaging ,nilai konversi pakannya 2,3.  Minyak biji saga pohon yang ditambahkan sebanyak 7,5 % dalam pakan ayam ras pedaging dapat memperbaiki nilai konversi pakan dari 2,3 menjadi 2,1 (8,6%). Pemanfaatan bahan pakan sumber energi alternatif dapat mengurangi penggunaan bahan pakan yang bersaing dengan kebutuhan konsumsi manusia.

Berdasarkan bahasan dan hasil-hasil penelitian yang diperoleh, maka untuk implementasinya diperlukan strategi  pengembangan penggunaan bahan pakan lokal sebagai pakan ayam kampung.

 

Sumber :

Orasi Ilmiah Pengukuhan Profesor Riset : Prof. Dr. Ir. Heti Resnawati, MS




Home | Hubungi Kami | Forum | Site Map | Tim Redaksi
(c) Copyright 2009 - 2014 Puslitbangnak
Jl. Raya Pajajaran Kav E59 Bogor 16151 Jawa Barat, Indonesia
Phone. +62 251 8322183, +62 251 8328383
e-Mail: medpub@litbang.pertanian.go.id - puslitbangpeternakan@gmail.com

               





www.litbang.pertanian.go.id