Bogor, 16-Nov-2018


Program Swasembada Daging Sapi telah dicanangkan Pemerintah beberapa kali, dan yang terakhir diubah menjadi Program Swasembada Daging Sapi dan Kerbau 2014 (PSDSK 2014). Ditargetkan bahwa pada tahun 2014 impor daging dan sapi hidup hanya sekitar 10 persen dari total kebutuhan nasional. Namun kenyataannya target ini belum dapat diwujudkan, karena justru kebijakan impor yang diarahkan Kementerian Perdagangan telah mendorong impor daging dan sapi siap potong lebih besar. Oleh sebab itu, kita perlu focus untuk mengupayakan agar populasi sapi dan kerbau terus meningkat, dan produksi daging sapi di dalam negeri bertambah.

Saat ini produksi daging sapi di dalam negeri masih mengandalkan pasokan dari Nusatenggara, Bali, dan Jawa. Hal-hal yang positif dan sudah dilakukan masyarakat di beberapa wilayah tersebut perlu diungkapkan, antara lain penggemukkan sapi Bali di Timor dalam suatu sistem bagi hasil. Pengembangan village breeding centre di Jawa Tengah yang mengembangkan sapi PO juga merupakan bentuk pembelajaran yang perlu diketahui. Proses pendampingan dalam uapaya pengembangan sapi juga perlu mendapat perhatian, antara lain dengan meningkatkan peran peneliti dan penyuluh di BPTP. Ke depan, pengembangan sapi harus memanfaatkan wilayah yang berlimpah pakan di kawasan kebun sawit, antara lain di Sumatera dan Kalimantan.

Penelitian dan pengkajian Sistem Integrasi Sawit-Sapi telah dilakukan oleh tim Badan Litbang Pertanian sejak tahun 2003 yang lalu di PT Agricinal-Bengkulu. Sebelum kajian tersebut, peneliti dari Lolit Kambing Potong Sumatera Utara (ex-Sub BPT yang bergabung dengan BPTP Sumatera Utara) sudah menginisiasi penelitian awal dan sangat terbatas dalam memanfaatkan limbah perkebunan untuk pakan ternak.

Pengembangan sapi di PT Agricinal semula dilakukan untuk meringankan dalam pengumpulan tandan buah segar (TBS) yang menjadi salah satu pekerjaan terberat para pemanen. PT Agricinal mengintroduksi ternak sapi Bali sebagai tenaga penarik gerobak atau pengangkut TBS untuk memperingan pekerjaan tersebut. Introduksi sapi Bali ini ternyata cocok dengan kondisi setempat sehingga para pemanen dapat bekerja lebih produktif, efektif, mudah dan nyaman serta mendapatkan tambahan penghasilan dari sapi yang dipelihara.

Model Sistem Integrasi Sawit-Sapi yang telah berhasil dijalankan di PT Agricinal Bengkulu kemudian menjadi inspirasi dan pendorong para peminat sistem integrasi untuk dapat diterapkan di lokasi-lokasi lain di Indonesia. Proses diseminasi sistem integrasi sawit sapi yang telah dijalankan dan teknologi yang dihasilkan oleh Badan Litbang Pertanian telah berkembang di lokasi-lokasi lainnya. Para peneliti Badan Litbang Pertanian melakukan penelitian di laboratorium, melakukan pengkajian di lapang dan membantu mengatasi permasalahan di dalam pengembangan sistem integrasi sawit sapi di lokasi pengembangan yang baru.

Saat ini berbagai model sistem integrasi sawit sapi di lokasi pengembangan baru muncul di Indonesia, sebagai proses adaptasi dan penyesuaian sesuai dengan kondisi lokal spesifik. Proses ini merupakan proses yang wajar agar usaha yang terintegrasi ini dapat berjalan lebih menguntungkan, efisien dan ramah lingkungan. Berbagai model Sistem Integrasi Sawit-Sapi yang telah berhasil berkembang dengan baik digambarkan dalam beberapa makalah di buku bunga rampai ini. Berbagai model yang telah berhasil dikembangkan tersebut dapat menjadi inspirasi bagi pengembang sistem integrasi di lokasi pengembangan baru. Tidak tertutup kemungkinan akan berkembang model sistem integrasi yang lebih inovatif sesuai keadaan sosial, kultural dan geografi Indonesia yang sangat beragam.

Indonesia saat ini sedang menghadapi tantangan untuk mencukupi kebutuhan daging sapi di dalam negeri yang ke depan akan terus bertumbuh. Konsentrasi ternak tersebar di wilayah yang sering mengalami kesulitan pakan di saat kemarau/kering, terutama di Nusa Tenggara, Bali dan Jawa. Sementara itu, kawasan yang berlimpah pakan, seperti perkebunan kelapa sawit di Sumatera dan Kalimantan relative kosong ternak. Melihat kecenderungannya, luasan kebun kelapa sawit di Indonesia ke depan akan terus bertumbuh, dan saat ini luasnya lebih dari 9 juta ha. Seiring hal tersebut memberi peluang yang sangat besar untuk pengembangan sapi melalui Sistem Integrasi Sawit-Sapi dalam suatu sistem pertanian bioindustri yang ramah lingkungan.

Sistem integrasi ini akan berkembang dengan pesat apabila pekebun atau pengusaha kebun sawit dapat merasakan secara langsung manfaatnya, antara lain dalam hal: (i) pengurangan penggunaan pupuk kimia yang harganya semakin mahal, (ii) meningkatnya kesuburan lahan karena penggunaan bahan organic yang berasal dari pengolahan kotoran ternak, (iii) meningkatnya produktivitas tanaman akibat kesuburan lahan terjaga, (iv) bertambahnya pendapatan pekebun/pengusaha dari penjualan ternak, dan (v) peluang pemanfaatan untuk meringankan beban pengumpul TBS.

Saya berharap buku bunga rampai ini dapat berguna dan menjadi inspirasi bagi berbagai pihak yang berminat dalam mengembangkan Sistem Integrasi Sawit-Sapi di Indonesia.

File fulltext :

Cover Depan(12.519 Kb)
Model Pengembangan Sistem Integrasi Tanaman-Sapi Berbasis Inovasi (11.210 Kb)

 

loading...

 

 

 

Layanan Elektronik

 

 

Pro-Tek PPID

 

 

LAYANAN PUBLIK REFORMASI BIROKRASI e-KINERJA SIGAP PENGADUAN