Bogor, 24-09-2017       English Version


Saat ini berbagai negara telah melarang penggunaan antibiotic growth promoters (AGP) dan ractopamine yang digunakan untuk memacu pertumbuhan ternak. Indonesia juga sedang mempertimbangkan untuk melarang penggunaan kedua macam bahan imbuhan pakan tersebut. Kebijakan ini akan memberikan implikasi pada sisi produksi ternak, konsumen hasil ternak dan juga berpengaruh terhadap ekonomi (importasi maupun perdagangan). Sebenarnya larangan ini telah diatur dalam UU No. 18 tahun 2009, juncto No. 41 tahun 2014 tentang Peternakan dan Kesehatan Hewan, dalam pasal 22 ayat 4c, yang menyebutkan "setiap orang dilarang menggunakan pakan yang dicampur hormon tertentu danjatau antibiotik imbuhan pakan". Namun demikian masih diperlukan kebijakan untuk dapat melaksanakan UU tersebut dengan benar, memperhitungkan dampaknya terhadap industri peternakan, selain aspek keamanan pangan.

Pemberlakuan peraturan larangan penggunaan AGP dan ractopamine sudah seharusnya diikuti dengan jaminan ketersediaan alternatif penggantinya. Hasil-hasil penelitian dan kajian penggunaan bahan pengganti AGP dan ractopamine sebagai imbuhan pakan dari segi produksi dan ekonomis sangat diperlukan. Sehubungan dengan hal itu, Pusat Penelitian dan Pengembangan Peternakan melalui Tim Kajian Antisipatif dan Responsif Kebijakan Strategis Peternakan dan Veteriner telah melakukan Roundtable Meeting tentang "Alternatif Pengganti Penggunaan Antibiotic Growth Promoters (AGP) dan Ractopamine Mendukung Keamanan Pangan Nasional" di Jakarta pada tanggal 7 Maret 2017 dengan menghadirkan beberapa narasumber terkait. Materi papa ran narasumber dan hasil-hasil diskusi dirangkum dalam buku ini.

 

Selengkapnya (file Download)

 

 

SISTEM INTEGRASI SAWIT-SAPI (SISASA)

Integrasi sawit-sapi merupakan program terobosan yang strategis, tertuang dalam Renstra Kementerian Pertanian 2015-2019
dalam upaya meningkatkan produksi daging di dalam negeri serta mewujudkan ketahanan pangan nasional