Bogor, 21-Jun-2018       English Version


Permintaan daging sapi selalu naik dengan semakin meningkatnya jumlah penduduk dan pendapatan masyarakat, sehingga upaya peningkatan produksi daging sapi harus didukung oleh peningkatan populasi. Pemeliharaan sapi potong masih didominasi di Pulau Jawa dimana lahan untuk pemeliharaan sangat terbatas, dan sumber hijauan pakan lebih banyak berasal dari limbah pertanian. Oengan adanya alih fungsi lahan pertanian ke bidang non-pertanian lainnya, semakin menyulitkan pengembangan sapi di Pulau Jawa.

Di pihak lain, perkembangan kawasan perkebunan kelapa sawit sudah mencapai lebih dari 10 juta Ha di seluruh Indonesia, dimana sebagian besar berada di Pulau Sumatera dan Kalimantan. Kawasan ini diyakini mempunyai potensi yang sangat besar untuk menyediakan bahan pakan sapi, baik dari vegetasi yang tumbuh di antara tanaman kelapa sawit maupun produk samping tanaman kelapa sawit seperti daun, pelepah dan tandan buah kosong. Oisamping itu, limbah industri minyak kelapa sawit seperti bungkil inti sawit dan solid sawit juga dapat menjadi sumber bahan pakan yang bernilai gizi tinggi.

Sehubungan dengan hal itu, Pusat Penelitian dan Pengembangan Peternakan melalui Tim Kajian Antisipatif dan Responsif Kebijakan Strategis Peternakan dan Veteriner telah mendiskusikan isu-isu kebijakan yang diperlukan dalam mengakselerasi pengembangan usaha budidaya sapi di perkebunan kelapa sawit bersama stakeholder terkait secara komprehensif. Berbagai informasi telah dikumpulkan dari berbagai pihak melalui pelaksanaan Roundtable Meeting (RTM) di Bogar pada tanggal 27 Mei 2015.

Selengkapnya (file Download)

 

 

 

SISTEM INTEGRASI SAWIT-SAPI (SISASA)

Integrasi sawit-sapi merupakan program terobosan yang strategis, tertuang dalam Renstra Kementerian Pertanian 2015-2019
dalam upaya meningkatkan produksi daging di dalam negeri serta mewujudkan ketahanan pangan nasional

 

 

 

loading...

Galeri Foto Kegiatan

 

 

 

Layanan Elektronik

 

 

Pro-Tek