Bogor, 29-04-2017


Tahun 2017

Kode Judul Kegiatan /
Penanggung Jawab
Status Tahun
Mulai
Tahun
Akhir
0563.2015.003 Pemantapan Galur dan Pembentukan Rumpun Baru Sapi Potong Lokal
Dr. Ir. Aryogi, M.P.
Lanjutan
2015
2019
Justifikasi Galur baru sapi PO Terseleksi adalah hasil seleksi sapi PO yang adaptif pakan marginal, secara genetik di identifikasi SNP berdasar genom bobot lahir, bobot setahun, dan kualitas semen sapinya.
Rumpun baru persilangan antara sapi PO dan Bali, mempunyai keunggulan: lebih tahan terhadap penyakit Jembrana dan parasit, mempunyai perdagingan padat, pemanfaatan nutrien pakan yang efisien, dan tenaga kerja yang kuat.
Keluaran
s.d 2016
a. populasi sapi PO 770 ekor, terdiri atas :
1) 254 ekor induk dan 16 ekor pejantan penghasil calon sapi PO Terseleksi
2) 228 ekor (114 jantan ; 114 betina) calon sapi PO Terseleksi umur 7 – 12 bulan
3) 272 ekor sapi non penghasil sapi PO Terseleksi, berbagai status fisiologis, diantaranya 3 pe-jantan untuk persilangan dengan sapi Bali, 30 ekor calon bibit lepas sapih terseleksi, serta 8 ekor calon pejantan terseleksi (TG 135cm, umur 2th)
b. SNP dan konstruksi primer terkait berat lahir calon sapi PO Terseleksi (1 SNP dan 1 konstruksi primer)
c. SNP terkait dengan berat badan umur 12 bulan calon sapi PO Terseleksi (1 SNP)
d. standar nutrien calon galur sapi PO Terseleksi umur lepas sapih – 12 bulan (1 standar ransum)
e. F1 sapi persilangan PO dengan Bali (1 rumpun)
f. data/informasi proses kelahiran, performans pro-duksi dan ketahanan penyakit Jembrana dan parasit calon rum-pun persilangan sapi PO dengan Bali umur 7 – 12 bulan (1 data)
g. populasi sapi Madura 165 ekor (diantaranya 40 ekor calon bibit lepas sapih terpilih)
h. populasi sapi Bali 165 ekor (diantaranya 40 ekor calon bibit lepas sapih/dara/muda terpilih).
Keluaran
2017
a. populasi sapi PO 840 ekor, terdiri atas :
1) 254 ekor induk dan 16 ekor pejantan penghasil calon sapi PO Terseleksi
2) 230 ekor (115 jantan ; 115 betina) calon galur sapi PO Terseleksi umur 7 – 12 bulan
3) 206 ekor (103 jantan ; 103 betina) calon galur sapi PO Terseleksi umur 13 – 24 bulan
4) 134 sapi non penghasil sapi PO Terseleksi, ber-bagai status fisiologis, diantaranya 3 pejantan untuk persilangan dengan sapi Bali, 30 calon bibit lepas sapih terseleksi, serta 8 ekor calon pejantan terseleksi (TG 135 cm, umur 2th)
b. SNP dan konstruksi primer terkait berat badan umur 12 bulan calon galur sapi PO Terseleksi (1 SNP dan 1 konstruksi primer)
c. SNP terkait berat badan umur 18 bulan calon galur sapi PO Terseleksi (1 SNP)
d. kuantitas dan kualitas semen calon galur sapi PO Terseleksi
e. standar ransum calon galur sapi PO Terseleksi umur 13 – 18 bulan (1 standar)
f. data/informasi berat dan ukuran tubuh, serta ketahanan penyakit Jembrana dan parasit calon rumpun persilangan sapi PO dengan Bali umur 13 – 18 bulan
g. populasi sapi Madura 180 ekor (diantaranya 20 ekor calon pejantan terpilih) dan sapi Bali 180 ekor (diantaranya 20 ekor calon pejantan terpilih).
Keluaran
Akhir
a. populasi sapi PO 1000 ekor, terdiri atas :
1) 254 ekor induk dan 16 ekor pejantan penghasil calon sapi PO Terseleksi
2) 230 ekor (115 jantan ; 115 betina) calon sapi PO Terseleksi, umur 7 – 12 bulan
3) 208 ekor (104 jantan ; 104 betina) calon sapi PO Terseleksi, umur 13 – 24 bulan
4) 104 ekor (52 jantan ; 52 betina) sapi PO Terselek- si, umur 25 – 36 bulan
5) 52 ekor (26 jantan ; 26 betina) sapi PO Terselek-si, umur ≥ 36 bulan
6) 30 ekor calon bibit lepas sapih terseleksi (kumulatif 150 ekor)
7) 8 ekor calon pejantan sapi PO terseleksi (kumu-latif 40 ekor), umur 2 th dengan TG 135cm
8) 98 sapi PO lainnya berbagai status fisiologis.
b. SNP dan konstruksi primer terkait berat lahir; umur 12, 18 dan 24 bulan sapi PO Terseleksi (kumulatif)
c. SNP terkait berat badan umur 36 bulan sapi PO Terseleksi
d. standar ransum galur sapi PO Agrinak, untuk umur lepas sapih sampai ≥ 30 bulan (4 standar ransum, kumulatif)
e. calon rumpun silangan sapi PO dengan sapi Bali (1 rumpun)
f. data/informasi berat dan ukuran tubuh, serta ketahan-an penyakit Jembrana dan parasit calon rumpun per-silangan sapi PO dengan Bali, umur sapih – 36 bulan
g. Populasi sapi Madura 200 ekor (diantaranya 20 ekor calon bibit lepas sapih sapi Madura terpilih, kumulatif 100 ekor)
h. Populasi dasar sapi Bali 200 ekor (diantaranya 20 ekor calon bibit lepas sapih sapi Bali terpilih, kumulatif 100 ekor).
0563.2015.007 Penyelenggaraan Operasional dan Pemeliharaan Perkantoran
Andi Mulyadi, S.P.
Lanjutan
2015
2019
Justifikasi Untuk mencapai menejemen dan tata organisasi yang baik, diperlukan penyelenggaraan operasional dan pemeliharaan perkantoran dalam bentuk pelayanan yang dilakukan untuk merawat dan memelihara aset pemerintah baik berupa gedung kantor maupun alat-alat penunjang pelaksanaan penelitian.
Keluaran
s.d 2016
• Laporan penyelenggaraan operasional dan pemeliharaan perkantoran (2 laporan).
Keluaran
2017
• Laporan penyelenggaraan operasional dan pemeliharaan perkantoran (1 laporan).
Keluaran
Akhir
• Laporan penyelenggaraan operasional dan pemeliharaan perkantoran (1 laporan).
0563.2015.016 Peralatan dan Fasilitas Perkantoran
Noor Hudhia Krishna, S.Pt., M.Si.
Lanjutan
2015
2019
Justifikasi Eksistensi Badan Litbang Pertanian beserta seluruh jajarannya, tidak terlepas dari perubahan ingkungan strategis baik internal maupun eksternal. Dalam mewujudkan perannya dalam pembangunan pertanian yang makin kompetitif, Badan Litbang Pertanian dituntut memiliki peran yang diakui (impact recognition) dan nilai ilmiah tinggi (scientific recognition) untuk pencapaian status sebagai lembaga penelitian berkelas dunia “a world class research institution”. Pengetahuan ilmiah bersifat sistemik, sebagai produk dalam memperolehnya dibutuhkan proses atau metode. Pengetahuan yang memiliki nilai ilmiah tinggi dihasilkan dari kegiatan penelitian melalui metode yang dapat dipertanggungjawabkan secara ilmiah. Metode yang digunakan sangat menentukan kualitas dari pengetahuan yang diperoleh. Pada penelitian terapan terutama yang pengambilan datanya dilakuakan secara eksperimental, penggunan metode yang benar tidak akan menjadi optimal ketika peralatan yang digunakan untuk menentukan nilai dari sebuah parameter tidak dalam kemampuan optimalnya.
Untuk menjaga atau mengembalikan peralatan laboratorium pada kondisi optimalnya, meningkatkan keselamatan analis dan lingkungan serta menambah kemampuan analisis parameter baru, Loka Penelitian Sapi Potong bermaksud mengadakan beberapa peralatan baru untuk laboratorium. Pengadaan barang-barang tersebut dibiayai oleh Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) yang dalam prosesnya diharapkan dapat dilaksanakan secara efektif dan efisien, mengutamakan penerapan prinsip-prinsip persaingan usaha yang sehat, transparan, terbuka, dan berlaku adil bagi semua pihak.
Untuk menjamin pengadaan barang dan jasa yang memenuhi prinsip-prinsip tersebut maka proses pengadaan tersebut harus mengacu pada perundang-undangan dan peraturan yang berlaku. Peraturan tersebut adalah Keputusan Presiden Republik Indonesia No. 80 Tahun 2003 tentang Pedoman Pelaksanaan Pengadaan Barang/Jasa Pemerintah beserta peraturan-peraturan penyempurnanya, yaitu Peraturan Presiden Republik Indonesia No. 54 Tahun 2010 tentang Pengadaan Barang/Jasa, Peraturan Presiden RI Nomor 35 Tahun 2011 tentang Perubahan atas Perpres RI No. 54 Tahun 2010 tentang Pengadaan Barang/Jasa Pemerintah dan Peraturan Presiden RI Nomor 4 Tahun 2015 tentang Perubahan ke-empat atas Perpres RI No. 54 Tahun 2010 tentang Pengadaan Barang/Jasa Pemerintah dan Penjelasannya.
Keluaran
s.d 2016
a. Alat Bantu Kandang Percobaan (3 unit)
b. Alat Bantu Kebun Percobaan (4 unit)
c. Alat Bantu Pendukung ISO 17025 (9 unit)
Keluaran
2017
a. Peralatan Laboratorium (1 Unit)
b. Laporan pengadaan Peralatan Laboratorium (1 laporan).
Keluaran
Akhir
a. Peralatan Laboratorium (1 Unit)
b. Laporan pengadaan Peralatan Laboratorium (1 laporan)
0563.2015.018 Pengelolaan Gaji dan Tunjangan
Andi Mulyadi, S.P.
Lanjutan
2015
2019
Justifikasi Pembayaran gaji dan tunjangan merupakan hak pegawai setelah melaksanakan tugasnya sebagai wajiban yang diembannya. Pembayaran gaji dan tunjangan merupakan pemberian layanan terhadap pegawai yang telah melaksaanakan pelayanan baik teknis maupun administrasi. Pembayaran gaji dan tunjangan merupakan pelayanan administrasi mengurus dan memberikan hak-haknya pegawai yang perlu diterima setelah melakukan pelayanan teknisnya, berupa upah, tunjangan dan hak-hak lainnya. Tujuan dan sasaran kegiatan kegiatan pembayaran gaji dan tunjangan adalah untuk meningkatkan kualitas dan kuantitas kinerja pegawai melalui peningkatan kerjasama antar pegawai, memotivasi dan merangsang kegairahan kerja berupa memberikan peningkatan penghasilan berupa tambahan upah atau honorarium.
Keluaran
s.d 2016
• Layanan pembayaran gaji dan tunjangan (24 bulan layanan)
Keluaran
2017
• Layanan pembayaran gaji dan tunjangan (12 bulan layanan)
Keluaran
Akhir
• Layanan pembayaran gaji dan tunjangan (60 bulan layanan)
0563.2015.022 Diseminasi Teknologi Sapi Potong Mendukung Upsus Daging, TSP, dan TTP
Dr. Ir. Dicky Pamungkas, M.Sc.
Lanjutan
2015
2019
Justifikasi Kegiatan inovasi teknologi sapi potong bukan sekedar penyebarluasan informasi teknologi, akan tetapi diharapkan para calon pengguna dapat menerapkan teknologi tersebut dalam kegiatan usaha sapi potong sehingga dapat meningkatkan kesejahteraannya. Hasil Identifikasi calon Lokasi, Koordinasi, bimbingan dan Dukungan Teknologi UPSUS PJK, ASP, ATP, dan Komoditas Utama Kementan yang merupakan bagian dari kegiatan Diseminasi Loka Penelitian Sapi Potong (Pamungkas et al., 2015) telah menginisiasi beberapa Lokasi pendampingan, diantaranya: 9 lokasi TTP (Kab. Pacitan, Jatim; Kab. Timor Tengah Selatan, NTT; Kab. Lamongan, Jatim; Kab. Tanah Laut, Kalsel; Kab. Tanjung Lago Sumsel; Kab.Tegal, Jateng; kab. Bima, NTT; Kab. Banggai, Sulteng; Kota Palangkaraya, Kalteng), 3 Lokasi TSP (KP Maros, Balitsereal, Sulsel; KP Jakenan, Balingtan, Pati Jateng; dan KP Banjarbaru, Balittra, Kalsel). Sedangkan lokasi LLIP/SITT juga telah didukung oleh Lolitsapi adalah di kab. Pagar Alam, Sumsel, Kab.Tanjung Jabung Barat, Jambi, serta Kab. TTS, NTT. Pendampingan teknologi usaha budidaya sapi potong yang telah dilakukan oleh Lolitsapi melalui beberapa skema sebagai berikut: (1) inventarisasi permasalahan dan pembuatan grand design dari program TTP, TSP, atau LLIP/SITT spesifik lokasi, (2) melakukan diskusi kelompok terfokus, (3) Mengikuti Workshop dan Soft Launching Program, (4) Melakukan base-line survey, dan (5) Mendiseminasikan teknologi budidaya ternak sapi potong (meliputi: implementasi formulasi pakan, pengetahuan pemilihan bahan pakan ternak, managemen perkandangan, kesehatan ternak, manajemen reproduksi/perkawinan ternak, pemasaran, dan pengelolaan pasca panen). Bentuk dukungan lain adalah berupa konsultansi/rekomendasi teknis pembangunan prototype kandang kelompok untuk system usaha pembibitan dan kandang individu untuk system usaha penggemukan. Hasil identifikasi calon lokasi dan bimbingan/pendampingan teknologi budidaya sapi potong di masing-masing lokasi masih perlu dikaji tertus dan dilanjutkan sesuai dengan dinamika dan perkembangan terkini, terkait dengan lokasi baru, master plan atau road map dari masing-masing lokasi TTP/TSP di seluruh provinsi di Indonesia. Oleh karena itu koordinasi dan komunikasi stake holder internal UPT Balitbangtan menjadi factor strategis dalam menentukan keberhasilan pencapaian output dan outcome.
Keluaran
s.d 2016
• Laporan dukungan kegiatan pendampingan dan pengawalan upsus padi, jagung, kedelai, TSP, TTP serta Peningkatan produksi komoditas utama kementan (2 laporan).
Keluaran
2017
• Laporan bimbingan dan dukungan teknologi menunjang UPSUS Daging, TSP, TTP, dan komoditas utama Kementan (1 laporan).
Keluaran
Akhir
a. Terbentuknya Taman Tekno Pertanian, Taman Sains Pertanian, dan Model integrasi sapi potong-tanaman pangan/perkebunan spesifik lokasi berbasis business plan yang mendukung pencapaian swasembada pangan.
b. Peningkatan kesejahteraan masyarakat dan penguatan ketahanan pangan melalui kawasan TTP, TSP, LLIP/SITT
0563.2015.023 Pengelolaan dan Pemanfaatan Bibit Sumber Sapi Potong
Ir. Ainur Rasyid
Lanjutan
2015
2019
Justifikasi Kebutuhan daging sapi potong dalam negeri yang terus meningkat, dan belum mampu diimbangi produksi bakalan sapi potong lokal, akan menyebabkan pengurasan sapi bibit untuk untuk dijadikan sebagai penghasil daging. Upaya meningkatkan produksi daging sapi potong dalam negeri dan mengurangi ketergantungan impor, adalah meningkatkan produktivitas sapi potong lokal dan meningkatkan kinerja reproduksi sapi induk melalui pengelolaan dan pemanfaatan bibit sumber sapi potong bebas penyakit reproduksi.
Sapi potong lokal (PO, Bali dan Madura) tersebar luas di seluruh wilayah sentra sapi potong, populasi dan produktivitasnya ditengarahi mengalami penurunan akibat pemotongan sapi betina produktif, persilangan dengan Bos taurus yang telah berlangsung lama, penggunaan bibit yang kualitasnya relatif rendah dan terbatasnya pejantan yang berkualitas.
Performan bibit sapi UPBU tahun 2014 dilaporkan bahwa bobot badan rata-rata untuk bobot lahir sebesar 28,4 kg (jantan) dan 25,8 kg (betina), bobot sapih (205 hari) sebesar 132,4 kg (jantan) dan 124,9 (betina), bobot umur 12 bulan sebesar 179,2 kg (jantan) dan 154,2 kg (betina) , dan umur 18 bulan untuk ternak jantan sebesar 215,4 kg dan untuk ternak betina sebesar 205,0 kg (Rasyid et al,. 2014). Selanjutnya dilaporkan bahwa penyebaran bibit tahun 2014 sebanyak 15 ekor sapi dara, dan 16 ekor pejantan dengan performans pejantan rata rata untuk bobot badan sebesar 439,4 ± 63,1 kg dan tinggi badan sebesar 138,8 ± 5,3 cm. Penyebaran bibit tahun 2015 tercatat sebesar 20 ekor (Jawa Timur dan Sumatera Selatan) dan 2 ekor pejantan untuk kelompok tani di Kabupaten Tuban Jawa Timur (Rasyid, et al,. 2015).
Keluaran
s.d 2016
• Bibit (jantan dan betina) dan pejantan sapi PO tersebar sebanyak 40 ekor.
Keluaran
2017
• Bibit (jantan dan betina) dan pejantan sapi PO tersebar sebanyak 20 ekor.
• Populasi dasar bibit sapi potong sebanyak 200 ekor
Keluaran
Akhir
• Bibit (jantan dan betina) dan pejantan sapi potong tersebar sebanyak 100 ekor.
0563.2016.012 Pendampingan Sistem Integrasi Tanaman Ternak
Dr. Yenny Nur Anggraeny, S.Pt., M.P.
Lanjutan
2016
2019
Justifikasi Sistem integrasi tanaman - ternak merupakan salah satu alternatif dalam meningkatkan produksi padi, daging, susu, dan sekaligus meningkatkan pendapatan petani (Haryanto et al., 2002). Sistem integrasi tanaman ternak telah dikaji melalui pendekatan zero waste oleh Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian yang bertujuan untuk mengoptimalkan pemanfaatan sumber daya lokal seperti pemanfaatan hasil samping pertanian sebagai pakan ternak dan kotoran ternak ternak untuk diproses menjadi pupuk organik yang berfungsi memperbaiki unsur hara yang dibutuhkan tanaman (Dirjen Bina Produksi Peternakan, 2002)
Penerapan sistem integrasi tanaman ternak memberikan keuntungan diantaranya 1) diversivikasi penggunaan sumberdaya produksi 2) mengurangi terjadinya resiko usaha 3) evesiensi penggunaan tenaga kerja 4) evesiensi penggunaan input produksi 5) mengurangi ketergantungan energi kimia dan biologi serta masukan sumber daya lainnya 6) sistem ekologi lebih lestari serta tidak menimbulkan polusi sehingga ramah lingkungan 7) meningkatkan output, dan 8) mampu mengembangkan rumah tangga petani yang berkelanjutan.
Penerapan sistem integrasi tanaman perkebunan lada dan kambing di Desa Sukamarga, Kecamatan Abung Tinggi, Kabupaten Lampung Utara provonsi lampung selain dapat mengurangi biaya produksi pengadaan kompos juga dapat memperbaiki kualitas tanah, meningkatkan produktivitas tanaman lada juga daapat meningkatkan pendapatan.
Keluaran
s.d 2016
• Laporan diseminasi teknologi terapan sederhana untuk optimalisasi usaha sapi terintegrasi tanaman pangan (jagung) dan perkebunan (kelapa sawit).
Keluaran
2017
• Laporan diseminasi teknologi terapan sederhana untuk optimalisasi usaha sapi terintegrasi tanaman perkebunan (tebu atau sawit).
Keluaran
Akhir
• Teknologi sistem Integrasi tanaman ternak (tanaman pangan,perkebunan dan hortikultura dengan sapi potong) serta mendesiminasikan teknologi terapan sederhana untuk optimalisasi usaha sapi terintegrasi tanaman ternak.
0563.2016.014 Layanan Manajemen Litbang Peternakan dan Veteriner
Dr. Ir. Aryogi, M.P.
Lanjutan
2016
2019
Justifikasi Kegiatan Penyusunan Program dan Anggaran Loka Penelitian Sapi Potong dilakukan dalam rangka mendukung kegiatan penelitian dan pengelolaan satker untuk menciptakan akurasi keterukuran program kegiatan yang akan dilakukan pada tahun depan. Loka Penelitian Sapi Potong sebagai lembaga penelitian telah melakukan fungsi ini dan mempunyai dampak yang signifikan untuk menciptakan akurasi program dan efektivitas pelaksanaan, sehingga kedua fungsi tersebut tetap dipertahankan dalam kegiatan RKTM 2016.
Kegiatan SPI dipengaruhi oleh faktor sumber daya manusia yang mampu menilai ruang lingkup dan keandalan sistem pengendalian intern dalam pencapaian sasaran pembangunan pertanian, melalui perwujudan penyelenggaraan dan tata kepemerintahan yang baik (Good governance), sehingga sesuai dengan Permentan Nomor : 40/Permentan /OT.140/5/2009, tentang pelaksanaan dan penerapan SPI yang berjalan secara efisien, efektif, transparan dan akuntabel.
Kegiatan operasional dan pemeliharaan kandang percobaan, kebun percobaan dan laoratorium adalah untuk mendukung kegiatan penelitian sesuai dengan tugas pokok dan fungsi Loka Penelitian Sapi Potong. Diterapkannya sistem managemen mutu laboratorium sehingga data yang dihasilkan tepat, akurat, terpercaya dan tertelusur sehingga dapat mengingkatkan kepercayaan masyarakat yang menggunakan jasa analisa di laboratorium, produktifitas dan profesionalisme laboratorium meningkat seiring dengan peningkatan kualitas sumber daya manusia dan managemennya dan pengakuan internasional.
Keluaran
s.d 2016
-
Keluaran
2017
• Manajemen Program dan Evaluasi, Pelayanan Teknis (5 laporan).
Keluaran
Akhir
• Manajemen Program dan Evaluasi, Pelayanan Teknis (5 laporan).