Bogor, 29-04-2017


Tahun 2017

Kode Judul Kegiatan /
Penanggung Jawab
Status Tahun
Mulai
Tahun
Akhir
0562.2015.001 Pengembangan Teknologi Vaksin Dan Obat Hewan Dalam Rangka Peningkatan Kesehatan Hewan Ruminansia Besar
Dr. drh. Anni Kusumaningsih, M.Sc.
Lanjutan
2015
2019
Justifikasi Salah satu cara pengendalian infeksi Salmonellosis pada ayam dapat dilakukan dengan pemberian bakteriofaga. Bakteriofaga (faga) merupakan virus yang dapat mengenal dinding sel bakteri secara spesifik melalui reseptor yang ada pada dinding sel bakteri yang selanjutnya mampu melisiskan sel bakteri dalam waktu 30-60 menit.Faga dapat dimanfaatkan untuk mengendalikan jumlah S.Enteritidis padausus ayam yang terinfeksi, dapat mencegah penularan bakteri secara vertikal pada anak ayam, penularan bakteri secara horizontal baik pada ternak lain maupun pada manusia dan penyebaran bakteri melalui rantai makanan (‘farm to fork’). Infeksi S.Enteritidis pada ayam dapat mengakibatkan kerugian ekonomi yang tinggi di peternakan dan menyebabkan foodborne disease pada manusia.Biokontrol bakteri menggunakan bakteriofaga dipilih karena faga lebih bersifat natural,mudah di dapat dari lingkungan, bersifat spesifik, efektif dan aman (tidak toksik dan tidak menimbulkan resistensi).Selain sebagai biokontrol, faga dapat dimanfaatkan sebagai alat deteksi secara spesifik terhadap keberadaan bakteri dalam sampel dan dapat digunakan untuk membedakan serotipe-serotipe bakteri yang terlihat identik.
Pengendalian infeksi cacing pada ternak dapat dilakukan dengan pengobatan menggunakan obat cacing (antelmintik). Namun, penggunaan antelmintik secara terus menerus dan dosis yang tidak tepat dapat mengakibatkan resistensi dan timbulnya residu pada tubuh hewan. Saat ini telah banyak dilaporkan masalah resistensi antelmintik terhadap cacing nematoda usus di beberapa negara, begitu pula di Indonesia. Dengan semakin berkembangnya resistensi cacing nematoda terhadap beberapa antelmintik yang beredar di pasaran dan Indonesia merupakan negara yang memiliki Plasmanutfah yang berlimpah, maka dapat dilakukan pengendalian alternatif salah satu diantaranya dengan memanfaatkan plasma nutfah yang dimiliki Indonesia yang dapat digunakan sebagai antelmintik yang aman dan efektif pada ternak.
Keluaran
s.d 2016
Tanaman herbal yang memiliki potensi dalam membunuh cacing nematoda (telur dan cacing dewasa) secara in vitro
Keluaran
2017
1.Isolat bacteriophage spesifik Salmonella Enteritidis (phage-
S.Enteritidis)
2. Formulasi dan penetapan dosis sediaan tanaman herbal untuk
membunuh cacing H. contortus secara in vitro
Keluaran
Akhir
1)1. Mempunyai isolat bacteriophage spesifik Salmonella Enteritidis (phage-S. Enteritidis) yang dapat digunakan sebagai biokontrol infeksi S. Enteritidis pada ayam dan sebagai alat diagnostik untuk deteksi dan phage typing Salmonella
2. Mempunyai stok antisera monospesifik O dan H untuk serotiping S. Enteritidis
3. Formula dan dosis sediaan tanaman herbal dalam membunuh cacing nematoda saluran pencernaan domba/kambing secara in vivo
0562.2015.002 Pengembangan Teknologi Diagnosa Untuk Penyakit Hewan pada Ruminansia Besar
Dr. drh. Susan Maphilindawati Noor, MVSC
Lanjutan
2015
2019
Justifikasi Dengan meningkatnya perdagangan dan hubungan antar negara saat ini, potensi masuknya beberapa penyakit pada ternak sangat besar. Untuk itu sangat diperlukan deteksi dini penyakit ternak dalam usaha pencegahan dan penanganan penyakit. Pengujian terhadap beberapa penyakit pada ruminansia besar dapat dilakukandengan uji serologi, isolasi maupun dengan uji molekuler. Perkembangan uji molekuler terutama uji PCR memungkinkan untuk melakukan pengujian penyakit ini dalam waktu relatif cepat (OIE 2012).
Oleh karena itu pada penelitian ini akan dikembangkan beberapa perangkat teknik diagnosis ELISA, FAT dan PCR untuk deteksi penyakit akibat infeksi bakteri (BGC, SE dan Listeriosis), virus (Jembrana dan penyakit vesikuler), dan parasit darah (Babesiosis, Surra, Thaleriosis, Anaplamosis) pada sapi yang dapat digunakan dalam rangka deteksi dini dan pengendalian penyakit pada sapi dan kerbau di Indonesia.
Keluaran
s.d 2016
a. ELISA LipL32 untuk mendeteksi infeksi Leptospira pathogen
b. Data validasi lapang ELISA LipL32
c. Kit imunostik untuk deteksi cepat kontaminan bakteri pathogenik L. monocytogenes pada daging sapi
d. isolate bakteri C. perfringens pada ayam dan daging ayam.
e. Isolat P. multocida yang telah terkarakterisasi.
Keluaran
2017
1. Antigen dan antibodi anti Campylobacter fetus dan Campylobacter venerealis
2. Teknik RT-PCR untuk deteksi virus penyakit Jembrana
3. Teknik PCR dupleks/multipleks untuk deteksi 3 parasit darah pada sapi/kerbau
4. Kit imunostik tervalidasi untuk deteksi cepat L. monocytogenes daging sapi
5. Teknik multipleks PCR untuk deteksi penyakit vesikuler akibat infeksi virus pada sapi dan babi
6. Teknik ELISA tervalidasi untuk deteksi SE pada sapi
Keluaran
Akhir
a) Teknik FAT dan PCR multipleks untuk deteksi BGC pada sapi.
b) Teknik RT-PCR untuk deteksi virus penyakit Jembrana pada sapi.
c) Teknik PCR multipleks untuk deteksi 5 spesies parasit darah (Babesia bovis, Babesia bigemina, Anaplasma marginale, Theileria sp dan Trypanosoma evansi) pada sapi/ kerbau.
d) Kit imunostik untuk deteksi cemaran bakteri patogenik L. monocytogenes pada daging sapi.
e) Teknik PCR multipleks untuk deteksi penyakit vesikuler akibat infeksi virus pada sapi dan babi.
f) Teknik ELISA untuk deteksi SE pada sapi dan kerbau.
0562.2015.003 Antisipasi Letupan/penyebaran Penyakit Dan Epidemiologi
Dr. Muharam Saepulloh, S.Si., M.Sc.
Lanjutan
2015
2019
Justifikasi Perubahan iklim menimbulkan pengaruh penting terhadap subsektor peternakan baik secara langsung maupun tidak langsung. Secara langsung, seperti cuaca ekstrim, kekeringan dan banjir, maupun secara tidak langsung, seperti perubahan agroekologi, mengakitbakan penurunan kualitas dan kuantitas hijauan pakan ternak, terjadinya interaksi host dan patogen yang tidak seimbang yang tentunya mengakibatkan munculnya penyakit epidemis serta penurunan produktivitas ternak (Thornton et al., 2009 ; Thornton, 2010).
Selama dua dekade, hanya terjadi sedikit perubahan distribusi, prevalensi dan dampak berbagai penyakit epidemik maupun endemik di berbagai negara. Namun pada masa saat ini dan masa depan, peta penyakit – penyakit tersebut akan berubah karena perubahan iklim. Beberapa penyakit diakibatkan vektor (vector borne diseases) seperti malaria, trypanosomiasis dan bluetongue, sebaran geografisnya akan bergeser ke arah wilayah dimana iklim cocok bagi vektor penyakit (Woolhouse, 2006), begitupula van Dijk et al (2010) melaporkan bahwa perubahan iklim, khususnya peningkatan suhu telah merubah populasi dan penyebaran helminthiasis di Inggris.
Penggunaan antibiotika secara berlebihan dan tanpa memperhatikan waktu henti dapat menyebabkan resistensi dan reaksi alergi pada konsumen. Hasil pengolahan data distribusi peredaran obat hewan tahun 2010-2015 yang diperoleh dari Ditjen POH (Wiyono et al 2015) memperlihatkan golongan obat hewan yang terbanyak beredar di Indonesia adalah golongan FQ (EFX dan CFX) dibandingkan jenis antibiotika lainnya. Namun sejauh ini, studi epidemiologi mengenai keberadaan residu FQ (EFX dan CFX) di Indonesia belum dilakukan, sehingga dampaknya bagi kesehatan manusia juga tidak diketahui.
Keluaran
s.d 2016
a. Diketahui agen penyebab wabah penyakit
b. Diketahui faktor penyebab terjadinya letupan/wabah penyakit hewan yang diamati.
c. Rekomendasi dalam antisipasi kejadian penyakit dan strategi pengendalian penyakit.
Keluaran
2017
- Isolat mikroba sebagai agen penyakit
- Data kejadian/epidemiologi penyakit hewan
- Rekomendasi pengendalian penyakit
Keluaran
Akhir
Dari hasil kegiatan penelitian ini akan diperoleh informasi dengan cepat agen penyebab letupan/wabah penyakit hewan, termasuk smber dan sebaran residu antibiotik pada produk ternak asal unggas.
0562.2015.006 Konservasi dan Karakterisasi Mikroba Veteriner yang Berpotensi sebagai Kandidat vaksin, Bahan diagnostik dan Probiotik
drh. Siti Chotiah
Lanjutan
2015
2019
Justifikasi Plasma nutfah mikroba di BB Litvet terutama yang berpotensi dan bernilai ekonomis merupakan bagian dari sumberdaya hayati sehingga perlu dilestarikan. Untuk mencegah penyalahgunaan dan kepunahan kekayaan materi biologi tersebut perlu dikonservasi agar tetap hidup, tidak mengalami mutasi fenotipik dan genetiknya, dan masih dapat dipakai sebagai acuan dalam analisis penyakit ternak pada waktu yang akan datang. Plasma nutfah yang masih disimpan di laboratorium kelompok peneliti masing-masing, akan dikonservasi dengan metode tertentu (Snell 1991) menurut sifat dari masing-masing plasma nutfah tersebut. Konservasi bisa dalam bentuk freeze-drying yang disimpan pada suhu –20OC sampai 18OC (suhu kamar yang sejuk) atau dalam bentuk beku –70OC atau dalam nitrogen cair (-189OC). Data informasi dan karakteristik dari plasma nutfah tersebut akan didokumentasikan didalam database di BCC dan akan dipublikasi secara terbatas didalam Daftar Koleksi Biakan Mikroba BB Litvet Culture Collection.
Keluaran
s.d 2016
100 jenis mikroba veteriner
Keluaran
2017
100 jenis mikroba veteriner
Keluaran
Akhir
500 jenis isolat mikroba veteriner
0562.2015.012 Managemen Ketatausahaan
Ir. Chaerunisa Syafitrie, M.Si.
Lanjutan
2015
2019
Justifikasi Pelaksanaan kegaiatan dilakukan berpedoman kepada ketentuan peraturan perundangan Nomor 17 tahun 2013 tentang pengelolaan keuangan negara, keputusan/kebijakan yang ditetapkan Kementerian Pertanian, serta keputusan Kuasa Pengguna Anggaran (KPA) yang ada baik kegiatan penguatan dan pengelolaan satker maupun pengelolaan layanan perkantoran.

Metode pelaksanaan kegiatan Pengelolaan Layanan Perkantoran dilakukan melalui anggaran DIPA petikan Balai Besar Penelitian Veteriner tahun anggaran berjalan. Prosedur pengelolaan dan penguatan satker dan pengelolaan layanan perkantoran dilakukan secara sistematis melalui berbagai mekanisme pengaturan pengelolaan.

Dalam pelaksanaan kegiatannya pengelolaan administrasi keuangan dan perlengkapan melakukan kegiatan antara lain konsultasi kegiatan administrasi ke eselon pembina, pengumpulan dan pengolahan data keuangan, meneliti kebenaran dokumen yang menjadi persyaratan kelengkapan pertanggungjawaban, meneliti ketersediaan dana yang bersangkutan, membebankan pengeluaran sesuai dengan MAK pengeluaran yang bersangkutan, melaksanakan pengendalian terhadap pelaksanaan anggaran, penyusunan laporan keuangan, menetapkan mekanisme kerja yang tertuang dalam surat Keputusan KPA/PPK sehingga tercipta prosedur dan mekanisme pelaksanaan kegiatan.
Keluaran
s.d 2016
1. Terlaksananya pengelolaan administrasi kegiatan,
2. Terlaksananya kegiatan kepegawaian,
3. Terlaksananya kegiatan pengelolaan keuangan,
4. Terlaksananya kegiatan peningkataan dan kemampuan pegawai,
5. Terlaksananya kegiatan PNBP,
6. Terlaksananya kegiatan akreditasi manajemen.
Keluaran
2017
1. Terlaksananya pengelolaan administrasi kegiatan,
2. Terlaksananya kegiatan kepegawaian,
3. Terlaksananya kegiatan pengelolaan keuangan,
4. Terlaksananya kegiatan peningkataan dan kemampuan pegawai,
5. Terlaksananya kegiatan PNBP,
6. Terlaksananya kegiatan akreditasi manajemen.
Keluaran
Akhir
Terlaksananya kegiatan penguatan dan pengelolaan Satker dengan baik sesuai dengan anggaran yang tersedia.
0562.2015.013 Manajemen Program dan Evaluasi, Pelayanan Teknis
Dr. Muharam Saepulloh, S.Si., M.Sc.
Lanjutan
2015
2019
Justifikasi Kegiatan perencanaan program dan evaluasi dilaksanakan di lingkup BBLitvet. Kegiatan tersebut dimulai dari Januari sampai Desember 2017. Kegiatan ini sifatnya rutin dan selalu dilaksanakan setiap tahun. Kegiatan ini mencakup: 1) Pendokumentasian proposal (RPTP, RKTM, ROKTM, ROPP tahun 2017); 2) Penyusunan matriks kegiatan; 3) Penyusunan rencana kerja (Renja); 4) Penyusunan RKAKL sebagau bahan dasar penyusunan DIPA tahun 2017; 5) Penyusunan kegiatan Uji Profisiensi; 6) Penyusunan kegiatan koordinasi penelitian; 7) Penyusunan kegiatan akreditasi laboratorium; 8) Penyusunan kegiatan akreditasi laboratorium (KNAPPP); 9) melakukan Monitoring dan evaluasi kegiatan penelitian; 10) melakukan pengendalian internal
Keluaran
s.d 2016
1. Dokumen Matrik Program
2. Dokumen Rencana Operasional (ROPP/RODHP)
3. Dokumen Penelitian, Manajemen dan Diseminasi (RPTP/RDHP/RKTM)
4. Dokumen Revisi POK/DIPA
5. Laporan hasil pembahasan ROPP/RODHP/RPTP/RDHP
6. Laporan hasil pembahasan RPTP/RDHP/RKTM
7. Laporan Rencana Kerja Anggaran Kementerian /Lembaga (RKAKL) dan DIPA
8. Laporan Penyelenggaraan Uji Profisiensi Veteriner
9. Laporan Koordinasi Penelitian
10. Laporan Akreditasi Laboratorium ISO 17025
11. Laporan Akreditasi Laboratorium (KNAPP)
12. Laporan monitoring dan evaluasi kegiatan penelitian
13. Laporan SPI
Keluaran
2017
1. Dokumen Matrik Program
2. Dokumen Rencana Operasional (ROPP/RODHP)
3. Dokumen Penelitian, Manajemen dan Diseminasi (RPTP/RDHP/RKTM)
4. Dokumen Revisi POK/DIPA
5. Laporan hasil pembahasan ROPP/RODHP/RPTP/RDHP
6. Laporan hasil pembahasan RPTP/RDHP/RKTM
7. Laporan Rencana Kerja Anggaran Kementerian /Lembaga (RKAKL) dan DIPA
8. Laporan Penyelenggaraan Uji Profisiensi Veteriner
9. Laporan Koordinasi Penelitian
10. Laporan Akreditasi Laboratorium ISO 17025
11. Laporan Akreditasi Laboratorium (KNAPP)
12. Laporan monitoring dan evaluasi kegiatan penelitian
13. Laporan SPI
Keluaran
Akhir
1. Dokumen Matrik Program
2. Dokumen Rencana Operasional (ROPP/RODHP)
3. Dokumen Penelitian, Manajemen dan Diseminasi (RPTP/RDHP/RKTM)
4. Dokumen Revisi POK/DIPA
5. Laporan hasil pembahasan ROPP/RODHP/RPTP/RDHP
6. Laporan hasil pembahasan RPTP/RDHP/RKTM
7. Laporan Rencana Kerja Anggaran Kementerian /Lembaga (RKAKL) dan DIPA
8. Laporan Penyelenggaraan Uji Profisiensi Veteriner
9. Laporan Koordinasi Penelitian
10. Laporan Akreditasi Laboratorium ISO 17025
11. Laporan Akreditasi Laboratorium (KNAPP)
12. Laporan monitoring dan evaluasi kegiatan penelitian
13. Laporan SPI
0562.2015.018 Pembayaran Gaji dan Tunjangan
Ir. Chaerunisa Syafitrie, M.Si.
Lanjutan
2015
2019
Justifikasi Pelaksanaan kegaiatan dilakukan berpedoman kepada ketentuan peraturan perundangan Nomor 17 tahun 2013 tentang pengelolaan keuangan negara, keputusan/kebijakan yang ditetapkan Kementerian Pertanian, serta keputusan Kuasa Pengguna Anggaran (KPA) yang ada baik kegiatan penguatan dan pengelolaan satker maupun pengelolaan layanan perkantoran.
Metode pelaksanaan kegiatan Pengelolaan Layanan Perkantoran dilakukan melalui anggaran DIPA petikan Balai Besar Penelitian Veteriner tahun anggaran berjalan. Prosedur pengelolaan layanan perkantoran dilakukan secara sistematis melalui berbagai mekanisme pengaturan pengelolaan
Keluaran
s.d 2016
---
Keluaran
2017
Kegiatan Pengelolaan Layanan Perkantoran merupakan tupoksi Bagian Tata Usaha pada umumnya, secara langsung terkait dengan urusan keuangan, perlengkapan, kepegawaian dan rumah rumahtangga, dengan target keluaran selama kurun waktu 1 tahun, yaitu Terlaksananya pembayaran Gaji dan Tunjangan.
Keluaran
Akhir
Terlaksananya pembayaran Gaji dan Tunjangan.
0562.2015.019 Penyelenggaraan Operasional dan Pemeliharaan Perkantoran
Ir. Chaerunisa Syafitrie, M.Si.
Lanjutan
2015
2019
Justifikasi Pelaksanaan kegaiatan dilakukan berpedoman kepada ketentuan peraturan perundangan Nomor 17 tahun 2013 tentang pengelolaan keuangan negara, keputusan/kebijakan yang ditetapkan Kementerian Pertanian, serta keputusan Kuasa Pengguna Anggaran (KPA) yang ada baik kegiatan penguatan dan pengelolaan satker maupun pengelolaan layanan perkantoran.
Metode pelaksanaan kegiatan Pengelolaan Layanan Perkantoran dilakukan melalui anggaran DIPA petikan Balai Besar Penelitian Veteriner tahun anggaran berjalan. Prosedur pengelolaan dan penguatan satker dan pengelolaan layanan perkantoran dilakukan secara sistematis melalui berbagai mekanisme pengaturan pengelolaan
Keluaran
s.d 2016
---
Keluaran
2017
1. Terpenuhinya kebutuhan sehari hari
2. Terpenuhinya langganan daya dan jasa
3. Terpeliharanya fasilatas perkantoran
4. Terwujudnya pelaksanaan operasional kantor
5. Terselengaranya pembinaan dan pengelolaan security
Keluaran
Akhir
terlaksananya penyelenggaraan operasional dan pemeliharaan perkantoran.
0562.2015.024 Analisis Kebijakan Veteriner Mendukung Pengembangan Sistem Kesehatan Hewan Nasional
Dr. drh. Agus Wiyono
Lanjutan
2015
2019
Justifikasi Sebagai tindak lanjut Permentan 16 tahun 2013, Direktorat Jenderal Peternakan dan Kesehatan Hewan telah menetapkan kebijakan prioritas pengendalian dan penanggulangan PHMS. Penyakit antraks merupakan salah satu dari 5 PHMS prioritas tersebut.
Kasus antraks pada ternak di Indonesia secara sporadis muncul di beberapa daerah endemis terutama wabah antraks seringkali berkaitan dengan curah hujan tinggi dan banjir.Kebanyakan kasus antraks terjadi di daratan rendah yang mempunyai perbedaan musim dan secara langsung berkaitan dengan jumlah curah hujan.Upaya pencegahan dan penanggulangan antraks pada ternak membutuhkan usaha yang sangat besar yang menyangkut berbaia pihak yang terkait.Berbagai aspeksosial,ekonomi, dan budaya juga mempunyai peranan yang sangat besar dalam penanggulangan antraks. Oleh karena itu analisis kebijakan sangat sangat diperlukan untuk mengambil langkah-langkah yang efektif dalam eradikasi antraks ada ternak.Melalui kegiatan penelitian ini diharapkan hasil analisis kebijakan melalui permodelan System Dinamycs dalam memberikan masukan dalam menentukan arah pengendalian antraks.
Keluaran
s.d 2016
a. Rekomendasi Kebijakan Pengendalian dan Penanggulangan Rabies di Indonesia menuju Indonesia Bebas Rabies 2020
b. Rekomendasi Kebijakan Pengendalian dan Penanggulangan Brucellosis di Indonesia menuju Indonesia Bebas Rabies 2025 – Kajian Awal
Keluaran
2017
1. Rekomendasi kebijakan yang bersifat responsif berupa model sistem dinamik pengendalian Antraks di Indonesia dan issue veteriner terkini lainnya;
2. Rekomendasi kebijakan yang bersifat antisipatif terkait penanganan AMR dan issue veteriner terkini lainnya.
Keluaran
Akhir
Analisis kebijakan veteriner mendukung pengembangan SISKESWANAS terutama sub-sistem penelitian dan pengembangan
0562.2016.007 Pendampingan, Pengembangan, Koordinasi, Sistem Integrasi Ternak Tanaman (SITT)
Dr. drh. Yulvian Sani
Lanjutan
2016
2019
Justifikasi Pemerintah telah bertekad untuk mewujudkan swasembada daging sapi secara berkelanjutan, karena ketergantungan pada impor telah menghabiskan devisa yang cukup besar, yaitu sekitar Rp. 4,715 trilyun, atau setara dengan 200.794 ton daging pada tahun 2014 (MLA, 2014). Hal itu tertuang dalam program pemerintah pada RPJMN 2015-1019 dimana salah satu prioritasnya adalah peningkatan produksi daging sapi di dalam negeri. Dengan demikian peningkatan populasi sapi dan produktivitas menjadi sasaran utama dalam program peningkatan produksi daging sapi.
Keluaran
s.d 2016
- Tersedianya rekomendasi teknologi spesifik lokasi kegiatan integrasi sawit-sapi,
- Narasumber pelaksanaan kegiatan integrasi sawit sapi berbasisi inovasi teknologi
- Tersedianya publikasi teknologi tepat guna sebagai materi penyuluhan,
- Hasil evaluasi adopsi teknologi.
- Informasi dari pelaku tentang (umpan balik) pelaksanaan integrasi sawit-sapi di lapangan
Keluaran
2017
- Tersedianya rekomendasi teknologi spesifik lokasi kegiatan integrasi sawit-sapi,
- Narasumber pelaksanaan kegiatan integrasi sawit sapi berbasisi inovasi teknologi
- Tersedianya publikasi teknologi tepat guna sebagai materi penyuluhan,
- Hasil evaluasi adopsi teknologi.
- Informasi dari pelaku tentang (umpan balik) pelaksanaan integrasi sawit-sapi di lapangan
Keluaran
Akhir
Teradopsinya inovasi teknologi Balitbangtan ke pengguna sehingga total produksi dalam kawasan meningkat
0562.2016.009 Manajemen Kerjasama Pendayagunaan Hasil, Jasa Penelitian
Dr. drh. Bambang Ngaji Utomo, M.Sc.
Lanjutan
2016
2019
Justifikasi BB Litvet sebagai laboratorium rujukan nasional pada kenyataannya menerima banyak permintaan untuk melaksanakan transfer teknologi dalam bidang veteriner dan kesehatan masyarakat veteriner. Kerjasama perlu dilakukan dalam upaya peningkatan kapabilitas serta kemampuan sumber daya manusia, serta hilirisasi/diseminasi hasil penelitian dan transfer teknologi sesuai dengan yang dibutuhkan oleh masyarakat.
Diharapkan setiap kegiatan kerjasama dapat berjalan baik serta terjadi interaksi timbal balik yang saling menguntungkan bagi kedua belah pihak. Dengan terjalinnya kerjasama antara mitra, intantansi lain atau lembaga penelitian nasional dan internasional diharapkan dapat meningkatkan kapabilitas SDM serta diperoleh metode atau inovasi yang baru untuk meningkatankan kompetensi peneliti di BB Litvet serta hasil-hasil penelitian di BB Litvet serta tersebarnya produk hasil penelitian BB Litvet di masyarakat.
Keluaran
s.d 2016
1. Terjalinnya kerjasama antara BBLitvet dengan PUSVETMA untuk alih teknoli vaksin IBR
2. Terjalinnya kerjasama antara BBLitvet dengan PT. Caprifarmindo dalam pembuatan vaksin ETEC
3. Terjalinnya kerjasama antara BBLitvet dengan PT. Caprifarmindo dalam pembuatan vaksin AI bivalen
4. Terjalin kerjasama antara BBLitvet dengan PT. Cafrifarmindo dalam transfer teknologi pembuatan antigen ND GTT 11
Keluaran
2017
1. Terlaksananya kegiatan tindak lanjut kerjasama penelitia
2. Terlaksananya diseminasi Teknologi Peternakan
3. Terlaksananya pengembangan perpustakaan digital
4. Terwujudnya workshop hasil-hasil penelitian
Keluaran
Akhir
Sumberdaya dan sarana penelitian di BB Litvet dapat dimanfaatkan oleh instansi atau lembaga lain dalam bidang IPTEK Veteriner
0562.2016.019 Gedung dan Bangunan
Ir. Chaerunisa Syafitrie, M.Si.
Lanjutan
2016
2019
Justifikasi Untuk meningkatkan kinerja Balai Besar Penelitian Veteriner yang sesuai dengan tugas dan fungsinya dibidang Penelitian Veteriner semakin dituntut untuk mampu memberikan pelayanan prima, transparansi, dan akuntabel maka diperlukan sarana dan prasarana yang mampu menunjang tercapainya Visi dan Misi Balai Besar Penelitian Veteriner. Dalam melaksanakan tugas pokok dan fungsi di atas, maka Balai Besar Penelitian Veteriner Bogor akan melaksanakan kegiatan perluasan Pembangungan Sarana Perkantoran, renovasi Atap Laboratorium SMART-D. Kondisi saat ini Laboratorium Bakteriologi mengalami kerusakan. Berdasarkan struktur organisasi Bbalitvet, maka kegiatan pengadaan pembangunan gedung dilaksanakan oleh Bagian Tata Usaha.
Keluaran
s.d 2016
---
Keluaran
2017
Tersedianya sarana laboratorium yang layak.
Keluaran
Akhir
Tersedianya sarana laboratorium yang layak.
0562.2016.030 Pengembangan Teknologi Vaksin dan Obat Hewan Dalam Rangka Peningkatan Kesehatan Hewan Non Ruminansia Besar
Dr. Muharam Saepulloh, S.Si., M.Sc.
Lanjutan
2016
2019
Justifikasi Penyakit Infectious Bronchitis (IB) pada ayam masih sering terjadi, beberapa isolat lokal virus IB diperoleh dari peternakan ayam petelur komersial yang mengalami klinis penyakit IB pada tahun 2015. Adanya varian virus vaksin IB dilapang memungkinkan munculnya varian virus IB baru di Indonesia, untuk itu perlu dilakukan studi kekerabatan untuk mengetahui karakter genetic isolat virus IB lapang. Demikian pula halnya dengan penyakit IBD merupakan penyakit yang sangat menular pada ayam, terutama ayam muda dengan menyebabkan kerusakan pada organ Bursa Fabricius. Penyakit ini dapat menyebabkan mortalitas dan morbiditas yang sangat tinggi, sehingga menimbulkan kerugian yang besar bagi peternak. Sementara itu, Hog Cholera merupakan salah satu nama penyakit yang masuk dalam daftar penyakit hewan menular strategis (PHMS). Untuk mendukung pemberantasan Hog Cholera di daerah tertular maka diperlukan beberapa strategi pengendalian penyakit diantaranya ketersedian perangkat diagnostic yang memadai dan ketersediaan vaksin yang berasal dari isolate local. Sedangkan BB Litvet Culture Collection (BCC) memiliki koleksi sumber daya genetik bakteri potensial penghasil bakteriosin, yang terdiri dati kelompok bakteri Gram negatif dan Gram positif. Bakteri-bakteri tersebut secara invitro dapat menghambat pertumbuhan bakteri patogen pada ternak diantaranya Salmonella enteritidis, Salmonella typhimurium, Escherichia coli verotoxigenic (VTEC) serotipe O157:H7, Escherichia coli enterotoksigenik (ETEC) serotipe K99, Staphylococcus aureus dan Listeria monocytogenes. Untuk itu BB Litvet perlu mengembangkan potensi bakteriosin yang dihasilkan sehingga dapat dimanfaatkan sebagai alternatif pengganti antibiotik pada ternak didalam mengendalikan bakteri patogen bawaan ternak. Sehingga ternak menjadi sehat dan produknya tidak terkontaminasi bakteri patogen bawaan ternak.
Keluaran
s.d 2016
1. Isolat virus IB sebagai bahan untuk pembuatan vaksin IB inaktif
2. Karakteristik virus Hog Cholera isolat lokal sebagai bahan untuk pembuatan vaksin Hog Kholera inaktif
Keluaran
2017
1. Karakteristik virus IB isolat lokal
2. Isolat virus IBD yang terkarakterisasi
3. Formula vaksin Hog Cholera inaktif dan data uji keamanan, inaktivasi, potensi
4. Dosis optimal obat hewan bakteriosin
Keluaran
Akhir
1. Vaksin Inaktif IB isolat lokal
2. Vaksin IBD isolat lokal
3. Vaksin inaktif HC isolat lokal
4. Obat Hewan bakteriosin
0562.2016.031 Pengendalian Penyakit Hewan Zoonosis dan Keamanan Pangan Pada Hewan Non Ruminansia Besar
Dr. drh. Nlp. Indi Dharmayanti, M.Si.
Lanjutan
2016
2019
Justifikasi Nipah dan Hendra merupakan penyakit eksotik yang sangat berbahaya terutama bagi kesehatan manusia sehingga berdampak nyata pada segi selain ekonomi, politik, sosial. Sementara itu status Indonesia yang endemis virus influenza subtipe H5 dan masih merupakan ancaman bagi Indonesia memungkinkan bersirkulasinya virus ini dan hewan lainnya seperti kelelawar perlu diteliti lebih dalam, serta ditemukannya virus influenza subtipe baru H17 dan H18 pada kelelawar buah membutuhkan penelitian untuk mengetahui sirkulasi virus ini pada kelelawar di Indonesia. Middle East respiratory syndrome (MERS), adalah novel coronavirus yang menyebabkan penyakit pernapasan yang parah, yang pertama dilaporkan pada pasien dari di Saudi Arabia pada tahun 2012 (de Grootetal., 2013). Virus MERS Co V juga dilaporkan ditemukan pada kelelawar. Pada penelitian ini selain mengidentifikasi virus influenza subtipe H5, H17 dan H18 juga akan mengidentifkasi kemungkinan sirkulasi virus CoV termasuk MERS-CoV pada kelelawar yang dijual dipasar di Indonesia serta sirkulasi virus Henipa di kelelawar disekitar hutan di Indonesia.
Penyakit zoonosis lainnya yang sampai sekarang masih merupakan ancaman adalah penyakit influenza subtipe H5N1. Bersirkulasinya virus avian influenza yang mengalami mutasi dari berbagai subtipe menyebabkan terjadinya reassortant antar virus avian influenza sehingga menyebabkan munculnya virus avian influenza dengan genetik yang berbeda dan kemungkinan dengan patogenisitas yang lebih patogen atau sebaliknya.
Disamping teknik biologi molekuler, teknik imunologis merupakan andalan dalam diagnosis AI. Teknik imunologis merupakan pilihan untuk pengembangan diagnosis yang praktis dan komersial. Faktor penentu keunggulan suatu immunoassay adalah kualitas (spesifitas, afinitas dan aviditas) antibodi yang digunakan. Disamping itu, immunoassay yang ditujukan untuk pemakaian luas dan komersial harus menggunakan antibodi yang disamping sensitivitas dan spesifitas tinggi, harus dapat diproduksi dengan kualitas yang stabil dari waktu ke waktu. Pilihan yang dapat memenuhi kriteria tersebut adalah monoklonal antibodi. Pada penelitian ini juga dikembangkan teknologi antibodi monoklonal yang spesifik terhadap semua virus avian influenza dan spesifik terhadap hemaglutinin H5 dan Neuraminidase N1.
Keluaran
s.d 2016
Data virus avian influenza yang mengalami genetik drift dan shift
2. Jenis subtipe virus avian influenza yang bersirkulasi di Indonesia
3. Data karakter genetik protein M2 virus avian influenza subtipe H5N1 clade 2.3.2 asal Indonesia dan kepekaannya terhadap obat amantadin
4. Data infeksi dan pathotipe lineage virus west nile pada unggas di Indonesia
5. Regensia perangkat diagnostik alternatif untuk deteksi virus AI
Keluaran
2017
Teridentifikasinya virus Henipa, JE atau virus lainnya yang berasal dari kalong Pteropus spp. di Indonesia
2. Data prevalensi infeksi JE pada kalong Pteropus spp. di Indonesia bagian Timur
3. Karakteristis genetik virus isolat yang diperoleh
4. Data Informasi keberadaan Coronavirus pada kelelawar buah
5. Data Informasi keberadaan influenza subtipe H5, H17 dan H18 pada kelelawar buah
6. Data jenis seleksi yang mengendalikan evolusi virus inlfuenza
7. Patogenesitas molekuler virus influenza AI (yang mengalami reassortant) pada unggas
8. seleksi master seed vaksin AI
9. Klon phagemid antibodi (sekurang kurangnya 2 klon) specifik terhadap nucleoprotein yang kompetitif dengan serum hewan/ unggas yang sebelumnya divaksin atau terinfeksi dengan virus H5N1
10. Glicerol stock HuFabL-2 library
11. Dua siklus biopanning HuFabL-2 terhadap hemagglutinin H5
Keluaran
Akhir
Tersedianya alat dan inflormasi serta perangkat diagnostic untuk pengendalian penyakit hewan/Zoonosis
0562.2016.038 Pendampingan, Koordinasi, Bimbingan dan Dukungan Tekonologi UPSUS Daging, TSP, TTP, dan Komoditas Utama Kementan
Dr. drh. Bambang Ngaji Utomo, M.Sc.
Lanjutan
2016
2019
Justifikasi Berdasarkan Surat Keputusan Menteri Pertanian Republik Indonesia Nomor 1243/Kpts/OT.160/12/2014 tentang Kelompok Kerja Upaya Khusus Peningkatan Produksi Padi, Jagung dan Kedelai Melalui Program Perbaikan Jaraingan Irigasi dan Sarana Pendukungnya disebutkan bahwa Balai Besar Penelitian Veteriner (BB Litvet) mendapatkan wilayah pendampingan di Kabupaten Kotawaringin Timur, Gunung Mas, Kapuas dan Katingan. Sedangkan sebagai Koordinator Propinsi adalah Ka BB Mektan
Kegiatan UPSUS yang berupa pengembangan jaringan irigasi, Optimasi lahan dan bantuan Alsintan diperlukan pengawalan yang ketat agar program yang dicanangkan tersebut tepat guna dan tepat sasaran demi berhasilnya program swasembada pangan. Kegiatan UPSUS dilakukan melalui pendampingan, yaitu melakukan monitoring secara rutin dan berkala serta verifikasi lapangan. Permasalahan yang ada di lapangan diidentifikasi sebagai bahan masukan untuk suksesnya program UPSUS. Monitoring rutin dan pelaporan dilakukan setiap minggu sekali dan sudah harus masuk pada hari Kamis untuk kemudian dikompilasi, hal ini memerlukan komunikasi yang baik dengan teman-teman Dinas dan para Lo di Provinsi.
Pendampingan dengan melakukan monitoring yang ketat sangat penting untuk dilakukan. Pengalaman sebelumnya pada MTI (Okmar 2015-2016) mampu mendorong untuk merealisasikan luas tanam melebihi target. Laporan minggu ke 4 pada bulan Maret, 3 dari 4 kabupaten yang menjadi tanggung jawab BB Litvet mampu didorong melebihi target (Tabel 1), bahkan di akhir bulan Maret 1 kabupaten yang sebelumnya belum mampu memenuhi target, sudah mampu melampaui target. Dilaporkan total realisasi tanam untuk Prov. Kalteng melebihi target yaitu 104,02%, suatu prestasi yang luar bisa dan kontribusi terbesar adalah di wilayah Kab. Kapuas yang menjadi tanggung jawab BB Litvet.
Keluaran
s.d 2016
 
Keluaran
2017
1. Pemahaman yang sama dalam pelaksanaan di lapangan program UPSUS, TSP dan TTP
2. Data rutin secara berkala pada pelaksanaan program-program yang diterapkan pada Upaya Khusus (UPSUS),
3. Data riel pelaksanaan UPSUS di lapangan
4. Adanya bimbingan, pelatihan dan demo teknis budidaya dan operasional alsintan
5. Laporan mingguan dan harian
6. Laporan akhir pelaksanaan UPSUS
Keluaran
Akhir
Terlaksananya Pendampingan, Koordinasi, Bimbingan dan Dukungan Tekonologi UPSUS Daging, TSP, TTP, dan Komoditas Utama Kementan
0562.2017.035 Pengembangan Teknologi Diagnosa Untuk Penyakit Hewan Pada Unggas
Dr. Dra. Romsyah Maryam, M.Med.Sc
Baru
2017
2019
Justifikasi C. perfringens merupakan salah satu bakteri patogen yang paling sering diisolasi dalam wabah penyakit foodborne pada manusia, setelah beberapa patogen lain seperti Campylobacter dan Salmonella
Proses pengawasan bahan pakan dan pakan ternak membutuhkan metode yang mudah, cepat , akurat dan ekonomis seperti halnya ELISA. Pada peneliian TA 2015 telah dihasikan pereaksi ELISA (antigen OTA-KLH/OTA-BSA, antibodi anti OTA-KLH/anti OTA-BSA, konjugat OTA-HRP) yang dapat digunakan untuk mendeteksi OTA dengan format kompetisi langsung (direct competitive ELISA).
Penyakit IBD merupakan penyakit yang sangat menular pada ayam, terutama ayam muda dengan menyebabkan kerusakan pada organ Bursa Fabricius. Penyakit ini dapat menyebabkan mortalitas dan morbiditas yang sangat tinggi, sehingga menimbulkan kerugian yang besar bagi peternak. Deteksi penyakit secara cepat di lapangan merupakan salah satu upaya dalam pencegahan dan pengendalian penyakit ini. Dengan mendapatkan hasil uji yang cepat di lapangan, maka penerapan strategi pencegahan seperti vaksinasi dan biosekuriti dapat segera dilakukan. Salah satu upaya deteksi cepat di lapangan adalah dengan menggunakan immunochromatograpic rapid test untuk mendeteksi virus IBD dari ayam yang terinfeksi.
Keluaran
2017
1. Antigen yang spesifik dan terkarakterisasi untuk pengembangan alat deteksi Clostridium sp.
2. Kit Enzyme Linked Immunosorbent Assays (ELISA) okratoksin yang tervalidasi.
3. Prototipe Immunochromatographic test strip untuk deteksi cepat virus Infectious Bursal Disease (IBD).
Keluaran
Akhir
1. Antigen Clostridum sp yang spesifik dan terkarakterisasi
2. Kit ELISA Okratoksin
3. Immunochromatograpic test strip IBDV