Bogor, 24-11-2017       English Version


Upaya Khusus Sapi Indukan Wajib Bunting atau dikenal dengan Upsus SIWAB menjadi salah satu kegiatan yang kini pemerintah dorong untuk mencapai swasembada daging 2026. Dengan adanya program itu diharapkan ada perbaikan sistem manajemen reproduksi sapi milik peternak.

Dirjen Peternakan dan Kesehatan Hewan, Ke­menterian Pertanian, I Ketut Diarmita mengatakan, peme­rintah menargetkan ada 4 juta ekor sapi akseptor dan 3 juta ekor sapi bunting. Untuk mencapai target tersebut, ada beberapa kegiatan yang dilakukan. Di antaranya, menyediakan alat dan sarana inseminasi buatan yakni 6,6 juta dosis semen beku.

Kegiatan lain penanganan 300 ribu ekor sapi betina yang mengalami gangguan reproduksi. Untuk itu dilakukan pemberian pakan penguat (konsentrat) pada ternak yang mengalami gangguan reproduksi. “Kami juga mempunyai program untuk mengurangi pemo­tongan sapi betina produktif melalui pengendalian pemotongan. Kegiatan ini bekerjasama de­ngan Polri di 17 provinsi di 40 kabupaten,” ungkapnya.

Data Ditjen Peternakan dan Kesehatan Hewan, total Inseminasi Buatan (IB) dari Januari-27 Juli 2017 sudah sebanyak 1.928.103 ekor (47,9%) dari target 4.026.948 ekor pada tahun 2017. Total kebuntingan kumulatif yang dicapai dari Januari-27 Juli 2017 yakni 682.234 ekor (22,62%) dari total target bunting 3.016.334 ekor. Sedangkan total kelahiran pada periode yang sama sebanyak 441.787 ekor.

Untuk mendukung lancarnya kegiatan SIWAB, tentu harus ada dukungan inovasi teknologi yang bisa menjamin masa kehamilan hingga lahirnya pedet dengan selamat. Kepala Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian, M. Syakir mengatakan, untuk mendukung pelaksanaan dan mendorong Upsus SIWAB, Ba­lit­bangtan melalui Pusat Pene­litian dan Pengembangan Peter­nakan (Puslitbangnak) sudah menen­tukan lokasi percontohan dalam implementasi teknologi peternakan dan ventiner. Lokasi tersebut berdasarkan potensi wilayah  pengembangan sapi dan kerbau. 

Daerah tersebut adalah Ka­bu­paten Gowa (Sulsel), Kab. Pati (Jateng), Kab. Lamongan (Jatim), Kab Kotawingin timur (Kalimantan Tengah) dan Kab Langkat (Sumatera Utara). “Di lokasi denfarm tersebut, dilakukan aplikasi teknologi hulu hilir dari produksi sapi. Mulai dari hormon untuk sinkronisasi birahi, deteksi kebuntingan, vaksin, hingga peng­gunaan pakan tambahan bagi ternak,” kata Syakir.

Tak hanya itu, Balitbang juga sudah berhasil meramu formulasi pakan yang bisa dimodifikasi berdasarkan potensi lokal yang ada di daerah setempat. Menariknya, pakan tersebut juga bisa diracik sendiri oleh peternak. 

”Dengan inovasi teknologi ter­sebut diharapkan permasalahan produksi dan reproduksi sapi dapat, diatasi sehingga terjadi peningkatan produktivitas dan produksi sapi dan kerbau. Ke depan kami mengharapkan teknologi (hasil balitbangtan) dapat diadopsi petani dan memiliki dampak ekonomi,” katanya.

Kepala Pusat Penelitian dan Pengembangan Peternakan (Pus­litbangnak), Atien Priyanti, menam­bahkan, dalam program Upsus SIWAB tersebut terdapat dua program utama yaitu peningkatan populasi melalui Inseminasi Buat­an (IB) dan Intensifikasi Kawin Alam (Inka). Dalam dua program tersebut, berkaitan dengan upaya penerapan sistem manjemen reproduksi yang baik.

Meliputi, pemeriksaan sta­tus reproduksi dan gangguan re­produksi, pelayanan IB dan kawin alam, pemenuhan semen beku dan N2 Cair, pengendalian betina produktif, dan pemenuhan hijauan pakan ternak dan konsentrat. 

“Kegiatan ini terintegrasi meng­gunakan pendekatan pe­ran aktif masyarakat dengan meng­­optimalkan pemanfaatan sum­berdaya peternakan untuk mencapai kebuntingan 3 juta ekor dari 4 juta akseptor sapi/kerbau pada tahun 2017,” ungkap Atien.

Gerak SIWAB Daerah

Upsus SIWAB melalui IB dan intensifikasi  kawin  alam (Inka) bagi sejumlah daerah bisa dilaksanakan dengan baik. Di  NTT yang memiliki populasi sapi sebanyak 900 ribu ekor/tahun bukan hal baru bagi peternak sapi. Karena itu pelaksanaan SIWAB di provinsi tersebut untuk menghasilkan satu indukan de­ngan satu pedet hingga Agustus 2017 sudah berjalan cukup baik.

Kepala UPT Pembibitan Ternak dan Produksi Makanan Ternak, Dinas Peternakan NTT, Agustinus Umbu Hera mengatakan, pihaknya menargetkan indukan sapi yang menjadi akseptor pada tahun 2017 sebanyak 146 ribu ekor. Dari jumlah itu yang sudah dilakukan kawin suntik (IB) per Agustus 2017 sudah sebanyak 25.165 ekor. Bahkan, dari target tersebut sebanyak 23.000 ekor sapi sudah bunting.

Dia memperkirakan dari target akseptor tahun ini sebanyak 146 ribu ekor, hingga akhir tahun 2017 diharapkan sebanyak 83 ribu ekor yang bunting. Target jumlah sapi yang buting tersebut diyakini bakal tercapai. Pasalnya, sampai Agustus sudah tercapai sebanyak 58 ribu ekor. 

“Kalau soal IB bukan masalah bagi peternak. Hanya saja, minim­nya tenaga di lapangan yang melakukan IB belum optimal,” katanya. Pelaksanaan IB di NTT, hingga 7 Agustus 2017 sudah seba­nyak 1.707 ekor sapi. Kemudian, yang sudah bunting 1.924 ekor dan yang sudah lahir 1.087 ekor.

Sementara itu program SIWAB di Jawa Tengah, dari target tahun 2017 sebesar 514.984 ekor. Capaian kinerja per 15 Juli 2017 (hasil evaluasi Semester I) sebesar 354.292 akseptor yang telah di-IB (Inseminasi Buatan) atau sebesar 68,80% dari target. “Jika dirata-ratakan bulanan mencapai 130% lebih dari target yang telah ditetapkan,” kata Kepala Dinas Peternakan dan Kesehatan Hewan Provinsi Jawa Tengah, Agus Wariyanto.

 

Sumber: http://tabloidsinartani.com/read-detail/read/e-paper-tabloid-sinar-tani-inovasi-pendukung-upsus-siwab/

 

 

 

 

 

SISTEM INTEGRASI SAWIT-SAPI (SISASA)

Integrasi sawit-sapi merupakan program terobosan yang strategis, tertuang dalam Renstra Kementerian Pertanian 2015-2019
dalam upaya meningkatkan produksi daging di dalam negeri serta mewujudkan ketahanan pangan nasional

 

 

 

 

Galeri Foto Kegiatan

 

 

 

Layanan Elektronik ( e-Government )

 

International SeminarKP-HSTP

Pro-Tek RECISPPID