Bogor, 22-Oct-2018       English Version


Kebutuhan bibit itik pada saat ini semakin meningkat, seiring dengan banyaknya permintaan terhadap produk ternak itik yaitu telur dan daging. Namun, kebutuhan bibit itik yang semakin tinggi tersebut belum diikuti dengan ketersediaannya.

Meskipun jenis itik relatif banyak dan tersebar hampir di seluruh wilayah Indonesia, namun produktivitasnya masih rendah terutama itik yang dipelihara secara tradisional. Salah satu penyebab rendahnya produktivitas itik lokal adalah proses molting (rontok bulu) yang menyebabkan periode berhenti bertelur menjadi lebih lama.

Pada penelitian sebelumnya dilaporkan bahwa terdapat korelasi negatif antara lamanya rontok bulu dengan produksi telur sehingga dalam satu periode satu tahun, semakin panjang berhenti bertelur menyebabkan produksi telur semakin sedikit.

Hal ini tentu saja sangat merugikan peternak, karena itik harus tetap diberi pakan, namun tidak berproduksi. Oleh karena itu, suatu upaya diperlukan untuk menangani masalah rontok bulu pada itik.

Selama ini, penanganan rontok bulu dilakukan dari aspek manajemen pakan. Namun, dampak dari kegiatan ini bersifat sementara karena berkurangnya kejadian rontok bulu tidak dapat diwariskan pada keturunannya. Sehingga perlu dipikirkan pemecahan masalah rontok bulu dari aspek lain, yaitu salah satunya dari aspek genetik.

Pengendalian masalah rontok bulu dengan pendekatan secara genetis diharapkan dapat memberikan dampak permanen, karena akan diwariskan pada keturunannya.

Langkah awal upaya pengendalian sifat rontok bulu berdasarkan genetik adalah dengan mencari atau menentukan gen pengontrolnya yaitu single major gene atau polygene, pola pewarisannya dan faktor-faktor genetis yang mempengaruhinya. Informasi yang bersifat genetis tersebut sangat berguna untuk memudahkan dalam menyusun program pemuliaan itik selanjutnya.

Pada program pemuliaan melalui seleksi telah banyak digunakan marker assisted selection (MAS) sebagai marka gen pengontrol suatu sifat, terutama sifat-sifat penting yang mempunyai nilai ekonomi

Sifat rontok bulu mempunyai nilai ekonomis karena berkaitan dengan berhentinya produksi telur, sehingga gen pengontrolnya perlu diketahui.

Apabila marka gen rontok bulu tersebut sudah diperoleh, maka seleksi dengan kriteria sifat rontok bulu pada itik akan lebih akurat, lebih cepat dan lebih efisien karena tidak perlu menunggu ternak berproduksi terlebih dahulu.

Upaya pencarian marka gen rontok bulu dapat dilakukan melalui pendekatan dengan sifat mengeram pada unggas, karena proses fisiologisnya saling terkait dengan kelangsungan produksi telur.

Kejadian rontok bulu dan produksi telur dipengaruhi oleh hormon prolaktin, yang diduga dikontrol oleh gen prolaktin.

Konsentrasi tinggi hormon prolaktin akan menghambat kerja hipofisa mengakibatkan produksi hormon gonadotropin yaitu follicle stimulating hormone (FSH) dan luteinizing hormone (LH) menurun sehingga tidak terjadi ovulasi.

Hal ini mengakibatkan berhentinya produksi telur dan pada saat yang bersamaan terjadi proses rontok bulu.

 

Sumber: WARTAZOA Vol. 25 No. 1 Th. 2015

 

 

 

SISTEM INTEGRASI SAWIT-SAPI (SISASA)

Integrasi sawit-sapi merupakan program terobosan yang strategis, tertuang dalam Renstra Kementerian Pertanian 2015-2019
dalam upaya meningkatkan produksi daging di dalam negeri serta mewujudkan ketahanan pangan nasional

 

 

 

loading...

Galeri Foto Kegiatan

 

 

 

Layanan Elektronik

 

 

Pro-Tek PPID

 

 

LAYANAN PUBLIK REFORMASI BIROKRASI e-KINERJA SIGAP PENGADUAN