Bogor, 23-Jan-2021


Kurang optimalnya capaian efisiensi reproduksi sapi potong antara lain disebabkan oleh panjangnya jarak beranak dan rendahnya tingkat kebuntingan. Salah satu upaya yang dilakukan agar target reproduksi dapat tercapai adalah dengan melakukan perbaikan pengelolaan reproduksi melalui penanganan gangguan organ reproduksi, seperti hipofungsi ovarium.

Hipofungsi ovarium merupakan penyakit atau gangguan pada organ reproduksi sapi betina.  Gangguan pada reproduksi dapat diobati dengan pemberian suplemen. Hermix atau Herbal Mix  adalah suplemen aditif yang mengandung vitamin A (retinol),  vitamin D3 (cholecalciferol),  vitamin E (tocoferol), zinc dan herbal kelor (Moringa oliefera)  serta bahan penyusun lainnya. Hermix tersedia dalam bentuk bolus, yaitu  bentuk tablet besar yang digunakan untuk hewan besar. Ini dimaksudkan agar pemberiannya kepada ternak sapi mudah dan praktis.

Kombinasi ini berfungsi untuk menggertak hipothalamus untuk membantu sekresi hormon leutenizing (LH) dan Folikel stimulating hormon (FSH) pada sapi betina. Kedua hormon tersebut berfungsi merangsang pematangan sel.

Hermix ini diberikan dengan cara per oral, langsung diberikan ke mulutnya (seperti memberi obat cacing) pada sapi induk yang mengalami hipofungsi ovarium. Pemberian dengan dosisnya dua bolus per 3 hari. Hermix bisa diperoleh di Loka Penelitian Sapi Potong (Lolit Sapo) Grati, salah satu Unit Pelaksana Teknis Balitbangtan yang berada dibawah koordinasi Pusat Penelitian dan Pengembangan Peternakan (Puslitbangnak).

Penelitian terkait Herbal mix telah dilaksanakan pada tahun 2019 oleh Lolit Sapo dan sudah diujicobakan antara lain di Kabupaten Pamekasan, Kabupaten Lumajang, serta Kabupaten Sumenep. Hasil uji coba  tersebut menunjukkan bahwa  90% ternak yang  menderita hipofungsi  ovarium bisa disembuhkan setelah diberi Hermix. 

“Suplemen ini berguna untuk mengatasi terjadinya hipofungsi ovarium pada sapi betina yang diakibatkan oleh gangguan pertumbuhan folikel dan corpus luteum,” ungkap Lukman Affandy, peneliti senior Lolit Sapo.

Lebih lanjut dijelaskan Lukman, corpus luteum adalah massa jaringan kuning di dalam ovarium yang dibentuk oleh sebuah folikel yang telah masak dan mengeluarkan ovumnya. Corpus luteum akan berhenti memproduksi hormon progesteron pada saat ovum tidak dibuahi dan berkembang menjadi Corpus albikan. (LA/REP)