Bogor, 01-Oct-2020


Lomtoro, diberbagai daerah di Indonesia lebih dikenal dengan nama petai cina. Tanaman yang berasal dari semenanjung Yucatan di Meksiko mempunyai nama latin Leucaena leucocephala merupakan salah satu dari sekian banyak hijauan pakan ternak (HPT) yang ada di Indonesia. Lamtoro merupakan tanaman pohon yang termasuk dalam kelompok tanaman leguminosa.

Lamtoro mempunyai pertumbuhan yang cepat dan dapat tumbuh dengan baik didaerah dengan curah hujan tahunan 650 mm sampai 3000 mm. Tanaman ini toleran terhadap iklim kering (300 mm) dengan periode kekeringan 6 sampai 7 bulan sehingga sangat cocok dikembangkan didaerah kering beriklim kering sebagai tanaman yang dapat menghasilkan hijauan pakan ternak sepanjang tahun. Daun lamtoro sangat disukai ternak ruminansia dan mempunyai nilai nutrisi yang tinggi sebagai pakan. Kandungan nutrisi dari lamtoro yaitu Protein Kasar (PK) ≥ 20%, Neutral Detergent Fibre (NDF) berkisar 40%, Acid Detergent Fibre (ADF) berkisar 25%, kecernaan ≥ 65% dan energi termetabolisme (ME) sebesar 11 MJ/kg.

Hijauan ini sangat cocok dipakai untuk pakan penggemukan karena kandungan nutrisinya yang tinggi sehingga dapat memenuhi kebutuhan nutrisi penggemukan. Penggunaan lamtoro sebagai pakan sangat ramah lingkungan karena dapat menurunkan produksi gas metan didalam rumen. Lamtoro juga meningkatkan kualitas tanah dan menyuburkan tanah karena dapat mengikat nitrogen atmosfir ke tanah dan daunnya memiliki kandungan nitrogen yang tinggi. Selain itu tanaman lamtoro dapat dimanfaatkan sebagai tanaman pelindung, pencegah erosi dan tanaman pagar.

Penelitian pengembangan lamtoro khususnya cultivar Tarramba untuk pakan sapi penggemukan sudah dilakukan di Nusa Tenggara Barat (NTB) dan Nusa Tenggara Timur (NTT) sejak tahun 2010. Jumlah peternak yang mengembangkan tanaman lamtoro sebagai pakan utama untuk sapi penggemukan di NTB khususnya di pulau Sumbawa sudah mencapai sekitar 2000 peternak dengan jenis sapi yang dipelihara pada umumnya adalah sapi Bali. Sapi penggemukan diberi pakan yang mengandung 70-00% lamtoro dengan lama penggemukan berkisar antara 4 sampai 12 bulan. Kenaikan berat badan yang dicapai berkisar 0,4-0,6 kg/hari. Dengan tingkat pertumbuhan tersebut peternak dapat menghasilkan sapi penggemukan dengan berat jual atau berat potong ≥ 250 kg pada umur yang lebih muda. Persentase karkas diperoleh ≥ 50% sehingga kualitas daging yang dihasilkan meningkat. 

Kualitas daging ditentukan oleh pemeliharaan, umur potong dan penangan daging paska potong. Pelayuan daging sapi Bali yang diberi pakan lamtoro pada suhu 20C selama 7 hari dihasilkan nilai shear force ≤ 5 kg/cm2 yang artinya daging sapi Bali yang diberi pakan lamtoro tergolong empuk.

Keistimewaan lain dari daging sapi yang diberi pakan Lamtoro adalah lebih sehat karena rendah kandungan asam lemak jenuh, tinggi kandungan asam linoleat, empuk/lembut, berair (juicy) dan segar. (REP/TP)