Bogor, 01-Oct-2020


Leishmaniasis merupakan salah satu dari sekian banyak penyakit zoonosis yaitu penyakit yang ditularkan oleh hewan ke manusia. Penyakit ini disebabkan oleh protozoa Leishmania spp yang salah satu vektornya adalah lalat pasir (Phlebotomus) atau agas. ¬†Leishmaniasis biasa dikenal sebagai penyakit ‚Äúorang miskin‚ÄĚ karena berkembang di wilayah yang fasilitas kesehatan kurang baik dan sanitasi yang buruk serta terkait dengan malnutrisi.

Penyakit ini menyebar dengan cepat di wilayah yang penduduknya memiliki kebiasaan tidur di alam terbuka yang dapat digigit oleh vektor Leishmaniasis. Leishmaniasis dapat menyebabkan kematian yang signifikan, banyak terjadi di negara berkembang dengan populasi padat dan terbatasnya sumber daya manusia untuk kontrol, pencegahan maupun pengobatan penyakit.

Infeksi akibat Leishmaniasis ditandai dengan demam, malaise, menggigil, penurunan berat badan, dan anoreksia. Bila terjangkit pada manusia dapat berakibat fatal, jika tidak diobati dengan tepat dan cepat. Leishmaniasis perlu diwaspadai karena Indonesia adalah negara tropis dimana habitat yang cocok untuk lalat pasir (Phlebotomus) dan tingginya mobilitas manusia dari dan menuju daerah endemis.

Ada empat bentuk Leishmaniasis pada manusia dengan berbagai manifestasi klinis, yaitu visceral Leishmaniasis (VL), juga dikenal sebagai kala-azar (KA), Cutaneous Leishmaniasis (CL), Mucocutaneous Leishmaniasis (MCL) dan Difus cutaneous leshmaniasis (DCL). Leishmaniasis yang disebabkan oleh Leismania infantum adalah yang paling berbahaya, tetapi belum pernah dilaporkan keberadaannya di Indonesia. Meskipun demikian, Leishmaniasis perlu diwaspadai di Indonesia karena negara tropis sangat cocok sebagai habitat berbagai arthropoda yang dapat berperan sebagai vektor penyakit, diantaranya lalat pasir.

Pengendalian terbaik Leishmaniasis adalah melalui kontrol vektor yang efektif untuk mengurangi kontak ke manusia. Hingga saat ini vaksin Leishmaniasis belum ditemukan dan obat yang tersedia saat ini masih memiliki tingkat bahaya tinggi. Untuk memperkecil risiko transmisi infeksi Leishmaniasis pada manusia dapat dilakukan dengan mencegah gigitan lalat pasir, menggunakan alat pelindung diri seperti penggunaan krim penangkal gigitan serangga dan pestisida di pakaian serta pemakain kelambu pada waktu tidur serta melakuan isolasi (karantina) dan memulihkan inang (pengobatan manusia) yang menderita Leishmaniasis. (REP)

Informasi lebih lanjut :Wartazoa Vol (30) No. 2