Bogor, 04-Jun-2020


Salah satu penyakit pada babi adalah African swine fever atau ASF atau demam babi Afrika. Penyakit ini merupakan penyakit infeksius. Bersifat hemoragik yang disebabkan oleh virus DNA beruntai ganda, family Asfarviridae. Virus ini menyebabkan demam berdarah dengan tingkat kematian yang tinggi pada babi domestik dan babi liar. Perdarahan biasanya terjadi pada telinga, punggung dan kaki.

Virus ini menyebabkan kematian dan mempunyai dampak ekonomi yang besar. Hingga saat ini pencegahan dan pengobatan penyakit yang efektif, masih belum tersedia. Penyakit ASF tidak bersifat zoonosis sehingga tidak menimbulkan dampak bagi kesehatan manusia.

Virus ASF sangat tahan terhadap perlakuan fisik seperti ultrasonografi dan suhu rendah. Namun dengan pemanasan 56°C selama 70 menit dan 90°C selama 30 menit, virus ini akan inaktif. Penyimpanan virus ASF pada suhu -80°C dapat bertahan selama bertahun tahun. Sedangkan pada suhu -20°C bertahan hingga 65 minggu.

 Penyakit ASF ditularkan melalui kontak langsung maupun tidak langsung dan melalui gigitan kutu caplak (Ornithodorus sp) yang telah mengandung virus ASF.

Penularan secara langsung adalah melalui cairan tubuh hewan yang terinfeksi seperti air liur, sekresi pernapasan, urin dan feses. Sedangkan penularan secara kontak tidak langsung melalui fomit atau benda benda lain yang tercemar virus ASF termasuk pemberian pakan sampah (swill feeding).

Penyakit ini telah menyebar ke seluruh Asia dalam waktu yang relatif singkat pada tahun 2019. Di Indonesia dikenal sejak akhir tahun 2019, merupakan penyakit eksotis yang masuk ke Indonesia. Oleh karena itu pencegahan ASF hanya dapat dilakukan dengan melakukan biosekuriti yang ketat, penerapkan regulasi lalu lintas babi dan produk babi ke suatu wilayah atau negara. (REP)

 

Informasi lebih lanjut :Wartazoa Vol 30 (1) tahun 2020