Bogor, 04-Jun-2020


Glanders di Indonesia dikenal sebagai penyakit ingus jahat pada kuda, disebabkan oleh bakteri Burkholderia mallei. Wabah Glanders pada kuda sejak tahun 1990 terus meningkat di Asia dan Amerika Selatan walaupun beberapa negara di Eropa Barat, Australia dan Amerika Utara telah melakukan eradikasi. Sehingga saat ini Glanders dianggap sebagai penyakit re-emerging. Glanders bersifat zoonotic dan dikategorikan sebagai salah satu penyakit hewan yang harus dilaporkan (notifiable disease) oleh Office International des Epizooties (OIE).

Glanders bersifat kronis pada kuda dan akut pada keledai dan bagal serta sering berakibat fatal. Gejala klinis Glanders pada kuda dalam bentuk kulit, hidung dan paru-paru. Tingkat fatalitas Glanders mencapai 95% atau lebih pada kondisi septikemia dan 90-95% dalam bentuk paru-paru. Infeksi B. mallei pada manusia menyebabkan perjalanan klinis yang parah, dan berakibat fatal tanpa terapi yang tepat. Penularan penyakit secara kontak langsung dengan hewan terinfeksi melalui luka atau goresan di kulit dan melalui permukaan mukosa mata dan hidung.

Glanders di Indonesia pernah dilaporkan terdeteksi pada kuda pada tahun 1939 oleh Veterinary Institute Buitenzorg Java. Surveilans Glanders pada kuda yang dilakukan dalam rangka pemenuhan persyaratan kesehatan kuda Equine Diseases Free Zone (EDFZ) pada Asean Games 2018 lalu terdeteksi adanya titer antibodi terhadap Glanders beberapa kuda di area Jabodetabek. Oleh karena itu  Glanders pada kuda di Indonesia perlu diwaspadai mengingat tidak ada pengobatan yang efektif dan belum tersedia vaksin untuk pencegahan serta dampak ekonomi yang ditimbulkan karena menyebabkan pembatasan perdagangan internasional. Tidak adanya vaksin Glanders pada kuda maka untuk meningkatkan kewaspadaan terhadap munculnya penyakit glanders di Indonesia, perlu dilakukan strategi penanggulangan melalui monitoring dan surveilans penyakit secara berkala, perangkat deteksi dini dan biosekuriti yang ketat terhadap kuda yang masuk ke Indonesia.

 

Info lengkap :Wartazoa Vol 29 (3) tahun 2019