Bogor, 04-Jun-2020


Sebagai penghargaan terhadap hasil inovasi penelitian pemuliaan ayam tipe pedaging, pemerintah telah mengeluarkan surat keputusan Menteri Pertanian Republik Indonesia. Nomor 39/kpts/pk. 020/1/2017 tanggal 20 januari 2017 tentang pelepasan galur ayam SenSi -1 Agrinak yang dihasilkan oleh Badan Litbang Pertanian.

Ayam SenSi merupakan ayam hasil seleksi dari aayam Sentul yang kemudian diberi nama ayam SenSi. Inovasi teknologi ayam SenSi dimulai dengan penelitian breeding ayam Sentul  yang dilakukan di Balitnak, dengan mendatangkan indukan ayam lokal Sentul  yang berasal dari Ciamis, Jawa Barat.

Pada umur 10 minggu ayam SenSi dapat mencapai bobot badan 0.8-1 kg/ekor, dua kali lipat dibandingkan ayam  kampung biasa yang baru mencapai 0,4-0,5 kg/ekor pada umur yang sama.  

Untuk menghasilkan 1 kg bobot badan ayam ini membutuhkan 2,7- 3,0 kg pakan atau disebut juga Feed Conversion Ratio (FCR).

Ayam betinanya dapat memproduksikan telur pada umur 29 - 45 minggu sebanyak 164 butir per tahun.

Rataan bobot telurnya adalah 44 g/butir. Ayam SenSi relatif tahan terhadap serangan penyakit.

Keistimewaan dari Ayam SenSI karena dia berasal ayam lokal maka  pangsa pasarnya tinggi  terutama karena cita rasa yang khas. Harga penjualan ayam Sensi yang tinggi tidak menjadi masalah buat konsumen, dibuktikan dengan permintaan terhadap ayam ini terus meningkat. (REP)