Bogor, 07-Mar-2021


Pusat Penelitian dan Pengembangan Peternakan (Puslitbangnak)  kembali melaksanakan Seminar Berkala Inovasi Teknologi Peternakan dan Veteriner (TPV) pada tanggal 17 Februari 2021. Ini merupakan seminar perdana di tahun 2021 dan diselenggarakan secara luring di Aula Puslitbangnak dengan kapasitas terbatas dan menerapkan protokol kesehatan serta secara daring menggunakan aplikasi Zoom yang diikuti hingga 100 peserta.

Seminar dibuka oleh Kepala Puslitbangnak Dr. drh. Agus Susanto, M.Si. yang dalam sambutannya menyampaikan bahwa kegiatan ini merupakan acara rutin  Puslitbangnak setiap minggu ketiga setiap bulannya. Dijelaskannya seminar berkala ini dimaksudkan sebagai media diseminasi hasil-hasil penelitian dan pengembangan lingkup Puslitbangnak yang diharapkan dapat memberikan manfaat besar kepada semua pihak yang berkaitan dengan peternakan maupun veteriner sekaligus feed back untuk Puslitbangnak sendiri.

Dr. Agus  berharap tema-tema seminar berkala ini dapat menginspirasi penelitian-penelitian berikutnya sebagai bentuk pengembangan lanjutan. “Tema seminar bulan ini sangat menarik, tentang penyakit zoonosis yang sangat merugikan dan kesejahteraan hewan coba. Informasi penelitian (zoonosis) yang disampaikan bisa menginspirasi riset-riset berikutnya dan memberikan dorongan untuk pengambilan keputusan ataupun diagnostik dalam menghadapi Covid-19. Sedangkan semua penelitian yang menggunakan hewan coba harus memenuhi klirens etik kesejahteraan hewan,” ungkapnya.

Dr. dh. Wasito,  peneliti di Balai Besar Pengkajian dan Pengembangan Teknologi Pertanian (BBP2TP) yang bertindak sebagai narasumber pertama, menyatakan bahwa peneliti lingkup Puslitbangnak sangat memahami tentang klirens etik penggunaan hewan coba. Hal tersebut disampaikannya dalam paparannya yang berjudul “Pengetahuan Peneliti terhadap Klirens Etik Penggunaan Hewan Coba”.

Pria yang juga anggota Tim Komisi Kesejahteraan Hewan Coba Balitbangtan (KKHB) ini telah melakukan penelitian kepada peneliti lingkup Puslitbangnak dan BBP2TP melalui geogle form. Penelitian yang bertujuan untuk mengetahui sejauhmana pengetahuan peneliti tentang klirens etik penggunaan hewan coba ini menunjukkan peneliti di Puslitbangnak/Balitnak, BB Litvet, Lolit Kambing, Lolit Sapi, and BPTP sangat memahami pentingnya klirens etik untuk hewan coba. Skor masing-masing dari UPT tersebut secara berurut adalah 78%, 100%, 89%, 92% dan 61%.

Narasumber kedua Drh. Dwi Endrawati, peneliti di Balai Besar Penelitian Veteriner,  memaparkan “Karakterisasi Molekuler Kapang Dermatofita Berdasarkan PCR-RFLP Daerah Internal Transribed Spacer”. Disampaikannya dermatofitosis biasa disebut Ringworm atau Tinea, dikenal juga dengan kurap, adalah penyakit yang menyerang kulit, rambut dan kuku. Penyakit ini disebabkan oleh kapang dermatofita. Terdapat tiga genus dermatofita yaitu Epydermophyton, Trichophyton dan Microsporum. Target sasaran infeksinya adalah substrat keratin pada epidermis (kulit, kuku, rambut).

Dermatofitosis termasuk penyakit zoonosis yang dapat menular dari hewan ke manusia atau sebaliknya. Diagnosa dermatofitosis dapat dilakukan dengan cara: menggunakan woods lamp, pewarnaan natif (menggunakan KOH 10-20%), dibiakkan dalam media Saboroud Dekstrose Agar, dan secara molekuler.

Pada penelitian wanita yang akrab disapa Dwi ini dilakukan isolasi identifikasi paralel antara pemeriksaan dengan natif, dibiakkan dalam media agar dan dengan molekuler (PCR-RFLP). Hasil penelitian menunjukkan bahwa terdapat satu isolat Trichophyton mentagrophytes dan tujuh isolat Microsporum canis. Uji dilanjutkan dengan RFLP menggunakan enzim Dde I, Mva I dan Hinf I. Hasil menunjukkan bahwa penggunaan teknik RFLP ini menghasilkan pola potong pita pada gel yang berbeda antara T. mentagrophytes dan M. canis. (REP)