Bogor, 23-Jan-2021


Kementerian Pertanian melepas varietas rumput Stenotaphrum secundatum var. Steno Agrinak sebagai varietas unggul Hijauan Pakan Ternak (HPT) berdasarkan Keputusan Menteri Pertanian Nomor 12553/KPTS/HK.160 /F/11/2020 tanggal 26 November 2020. Rumput yang dikenal juga dengan sebutan Steno Agrinak ini merupakan hasil penelitian Loka Penelitian Kambing Potong (Lolit Kapo) , Pusat Penelitian dan Pengembangan Peternakan, salah satu UPT dibawah koordinasi Badan Peneltian dan Pengembangan Pertanian.

Penelitian terhadap rumput  Stenotaphrum secundatum (rumput steno) ini merupakan upaya dalam memenuhi ketersediaan hijauan pakan untuk pengembangan ternak ruminansia. Dengan tersedianya HPT dalam jumlah yang cukup didukung dengan kualitas yang baik tentunya akan mendukung keberhasilan pengembangan ternak ruminansia. 

Rumput steno memiliki keunggulan dengan adaptasi yang tinggi terhadap kondisi naungan atau intensitas cahayanya rendah. Selain itu, rumput steno juga dinilai cocok untuk dataran rendah maupun dataran tinggi, sangat cepat berkembang dan tumbuh cepat, memiliki rhizoma dan stolon yang padat. Rumput steno juga  memiliki perakaran sangat kuat dan  mampu berkompetisi dengan gulma. 

Pemulia dari Balai Penelitian Ternak (Balitnak) Dr. Achmad Fanindi mengatakan, pemuliaan rumput Steno Agrinak yang dilakukan bersama-sama dengan peneliti dari Lolit Kapo ini menggunakan metode seleksi massa positif mulai tahun 2016 hingga 2018 di Kebun Percobaan Lolit Kapo. Sedangkan, sumber bibit rumput Stenotaphrum secundatum var. Steno Agrinak pada awalnya diperoleh dari Gorontalo dan dikoleksi pada kebun plasma nutfah Lolit Kapo.

Kemudian, bibit yang berasal dari tanaman terseleksi ditanam dan diujiadaptasikan pada dua lokasi yang berbeda, yaitu di Kebun Percobaan (KP) Lolit Kapo Sei Putih, Deli Serdang yang merupakan dataran rendah beriklim basah (ketinggian 50-100 m dpl dengan rataan curah hujan 1.200 mm/tahun)  dan KP Gurgur, Toba Samosir, yang memiliki dataran tinggi beriklim sedang dengan total ketinggian 1.180 m dpl serta rataan curah hujan 32-167 mm/bulan.

Berdasarkan data pengamatan, Dr. Achmad Fanindi mengungkapkan produksi segar rumput Steno Agrinak yang baru dilepas  diperoleh rataan produksi segar untuk varietas hasil seleksi mencapai 152,7ton/ha/tahun di lahan dataran rendah dan 98,3 ton/ha/tahun di lahan dataran tinggi. Hasilnya, produksi ini meningkat dibanding varietas asal yang hanya sebesar 60,4 dan 44,9 ton/ha/tahun.

Kandungan nutrisi rumput Steno Agrinak baik untuk mendukung produksi ternak. Selain itu rumput ini juga palatable (disukai oleh ternak). "Selain keunggulan tersebut, rumput Steno Agrinak memiliki palatabilitas yang tinggi pada percobaan menggunakan kambing Boerka dengan kecernaan antara 60,7 hingga 72,8% dan konsumsi bahan kering mencapai 3,25% dari bobot hidup,” ujarnya.

Sementara itu, Kepala Pusat Penelitian dan Pengembangan Peternakan (Puslitbangnak) Dr. drh. Agus Susanto, M.Si. menyatakan varietas Stenotaphrum secundatum yang baru dirilis ini dapat menjadi pilihan dalam pengembangan integrasi ternak dengan tanaman perkebunan seperti karet atau kelapa sawit. “Dengan adanya rumput steno unggul ini diharapkan akan meningkatkan ketersediaan hijauan pakan ternak yang berkualitas dan aman untuk ternak. Rumput ini memiliki ketahanan tumbuh di bawah naungan, sehingga dapat dikembangkan untuk mendukung integrasi tanaman-ternak seperti integrasi kambing-sawit,” imbuhnya.

Selain itu Dr. Agus juga sangat mengapresiasi capaian peneliti Balitnak dan Lolit Kapo tersebut. “Kami mengapresiasi setinggi-tingginya kepada para peneliti yang  dengan ketekunan, ketelitian dan menerapkan ilmunya untuk menemukan rumput unggul untuk ternak ini. Hasil karya ini akan meningkatkan pembangunan peternakan di tanah air tercinta dan jangan lelah untuk berkarya terus,” ujar pria kelahiran Yogyakarta tersebut.

Ketua Tim Penilai Varietas Tanaman Pakan Ternak (TPV TPT) yang juga Direktur Pakan drh. Makmun, M.Sc. berharap ke depannya jenis tanaman pakan lainnya dapat dilakukan pelepasan varietas. Harapannya agar selanjutnya dapat disertifikasi dan diedarkan sesuai ketentuan perundang-undangan. (ICS/NH)