Bogor, 21-11-2017       English Version


Pusat Penelitian dan Pengembangan Peternakan (Puslitbangnak) mengkoordinir beberapa Unit Kerja di lingkup Kementan, Kemenristekdikti, dan Perguruan Tinggi untuk melakukan perubahan metode penghitungan emisi gas rumah kaca dari sektor peternakan dari Tier 1 menjadi Tier 2.

Pada metode Tier 2, penghitungan dilakukan dengan mengacu kepada bobot badan dan status produksi ternak serta mengakomodasi perbedaan kualitas dan jenis pakan yang diberikan kepada ternak.

Sebelumnya yaitu pada bulan April 2016, Puslitbangnak telah mendatangkan 2 tenaga ahli dari tim Inventory GRK New Zealand yaitu Dr Harry Clark untuk melakukan bimbingan pengembangan metode penghitungan dengan Tier-2.

Untuk mengetahui perkembangan aktivitas inventory GRK peternakan Indonesia dengan menggunakan metode Tier-2. Puslitbangnak meyelenggarkan Workshop International inventory GRK lingkup Asia Tenggara dan Asia Selatan (16-17 Agustus 2016 di Ina Grand Hotel Beach Bali).

Acara workshop diselenggarakan dengan bekerja sama dengan New Zealand Agricultural Greenhouse Gas Research Center dan Global Research Alliance.

Tema yang yang diangkat pada International Workshop Tier 2 yaitu: “Improving GHG Inventories from Livestock in South dan South East Asia”.

Peserta pertemuan sebanyak 30 orang yang berasal negara-negara di Asia Tenggara (Malaysia, Thailand, Filipina, Vietnam), Asia Selatan (Srilangka), Papua Nugini. Uruguay sebagai salah satu negara peserta yang tidak dapat hadir, mengikuti kegiatan melalui video conference.

Workshop juga dihadiri oleh perwakilan organisasi internasional, di antaranya Food and Agriculture Organization of the United Nations (FAO) dan CGIAR Research Program on Climate Change, Agriculture and Food Security (CCAFS).

Narasumber dalam workshop ini terdiri dari Dr. Harry Clark dan Victoria Hatton (AgResearch), Dr. Andrea Pickering (Ministry of Primary Industries).

Selain itu, perwakilan dari masing-masing negara juga menyampaikan perkembangan penghitungan emisi yang dilakukan, kemudian mendapat masukan dari narasumber dan peserta lainnya.

Pada workshop tsb. juga dilaksanakan diskusi kelompok, acara dipandu oleh narasumber/fasilitator untuk membahas kemajuan/kendala penghitungan emisi di masing-masing negara, beserta rencana yang akan dilakukan ke depan.


Kesepakatan di akhir workshop adalah kerjasama regional antara negara asia tenggara dan asia selatan akan ditingkatkan untuk meningkatkan kualitas inventory GRK dengan dukungan tenaga ahli dan suport dana dari AgResearch – LG New Zealand dan FAO. Setiap negara telah membuat rencana kerja dan target pencapaian untuk 1-5 tahun kedepan. (IKH/REP)

 

 

 

SISTEM INTEGRASI SAWIT-SAPI (SISASA)

Integrasi sawit-sapi merupakan program terobosan yang strategis, tertuang dalam Renstra Kementerian Pertanian 2015-2019
dalam upaya meningkatkan produksi daging di dalam negeri serta mewujudkan ketahanan pangan nasional

 

 

 

 

Galeri Foto Kegiatan

 

 

 

Layanan Elektronik ( e-Government )

 

International SeminarKP-HSTP

Pro-Tek RECISPPID