Bogor, 22-Oct-2018       English Version


 

Hingga September 2018 telah ada 43 ekor kelahiran sapi Belgian Blue

REPUBLIKA.CO.ID, BOGOR -- Unit Pelaksana Teknis (UPT) Direktorat Jenderal Peternakan dan Kesehatan Hewan (Dirjen PKH) Kementerian Pertanian, yaitu Balai Embrio Ternak (BET) Cipelang, Bogor berhasil mengembangbiakkan sapi jenis unggul Belgian Blue. Sapi jenis ini mulai dikembangkan di Indonesia pada 2016 dan digadang-gadang menjadi masa depan swasembada sapi di Indonesia.

Hingga September 2018, telah ada 43 ekor kelahiran sapi Belgian Blue yang berhasil dikembangbiakkan baik dari hasil inseminasi buatan maupun hasil transfer embrio. Bahkan pada 10 September 2018 lalu, telah lahir pedet kelima hasil transfer embrio yang diberi nama Bimasakti. Anak sapi jenis kelamin jantan itu lahir dengan berat 55 kg.

"Bimasakti adalah pedet ke lima jenis Belgian Blue murni, keturunan dari pejantan Folon De Cras Avernas dan induk Judy Van Daisel. Sebelumnya ada Gatot Kaca, Belgian Blue murni yang lahir pada Juni 2017. Lalu ada Srikandi (betina), Denur (jantan), dan Arimbi (betina)," kata Direktur Perbibitan dan Produksi Ternak, Sugiono saat berkunjung ke BET Cipelang, Bogor, Rabu (19/09).

Program pengembangan sapi jenis ras baru Belgian Blue ini merupakan instruksi dari Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman sebagai upaya pemenuhan kebutuhan daging dan bibit sapi unggul nasional. Belgian Blue memang bukan sapi biasa, pertambahan bobot badannya tinggi sekali, per hari bisa mencapai 1 - 1,5 kg. Sejak dicanangkannya, Kementan menargetkan kelahiran 1.000 pedet Balgian Blue pada mendatang 2019 baik melalui Inseminasi Buatan maupun transfer embrio.

“Saat ini kami masih menunggu kelahiran pedet-pedet Belgian Blue lainnya karena berdasarkan informasi dari masing-masing UPT bahwa pada tiga bulan ke depan, mulai Oktober, November dan Desember 2018, merupakan bulan-bulan yang dinanti untuk kelahiran,” ujar Sugiono.

Sugiono menjelaskan sapi yang dilaporkan bunting dari hasil transfer embrio saat ini sudah ada 126 ekor, sedangkan sapi yang bunting dari hasil inseminasi saat ini sebanyak 145 ekor. Ia berharap pedet-pedet Belgian Blue tersebut dapat lahir dengan selamat dan meramaikan keanekaragaman bangsa sapi di Indonesia.

Saat ini pengembangan sapi Belgian Blue masih bersifat tertutup di 11 UPT lingkup Kementerian Pertanian, dengan beberapa kajian yang dilakukan oleh peneliti dan tim pakar pendukung. Program ini dilaksanakan melalui kerjasama antara Ditjen PKH, Badan Litbang Pertanian, Badan Pengembangan Sumber Daya Manusia, dan Perguruan Tinggi.

 

Seribu Cara Untuk Seribu Belgian Blue

Pada kesempatan yang sama, Kepala BET Cipelang Oloan Parlindungan mengatakan, pengembangbiakkan Belgian Blue dilakukan dengan beberapa cara. Salah satunya adalah transfer embrio, dengan komposisi darah 100% Belgian Blue, metode ini menghasilkan jenis Belgian Blue murni. Sedangkan sapi yang merupakan hasil persilangan dengan sapi eksotik/lokal dengan semen beku memiliki komposisi darah 50% Belgian Blue atau disebut dengan sapi persilangan.

“Cara lain terus dikembangkan, seperti mengawinkan kembali sapi Belgian Blue 50 persen ini dengan menggunakan semen beku Belgian Blue untuk menghasilkan sapi Belgian Blue dengan komposisi darah 75 persen. Lalu dilakukan kawin suntik lagi dengan semen beku Belgian Blue untuk menghasilkan pedet komposisi darah Belgian Blue 87,5 persen, demikian seterusnya," tutur Oloan.

Oloan mengungkapkan sapi-sapi keturunan Belgian Blue yang telah mencapai dewasa mulai dicoba untuk produksi semen dan produksi embrionya. Untuk pengembangannya ke seluruh Indonesia, bibit Belgian Blue ini akan disebar ke masyarakat peternak setelah mendapat rekomendasi dari komisi bibit. “Sapi jantan hasil transfer embrio akan digunakan sebagai pejantan untuk diambil semennya, sedangkan sapi betina akan digunakan sebagai sapi donor (pemberi embrio) untuk diproduksi embrionya,” ungkap Oloan.

Saat ini BET Cipelang merupakan satu-satunya UPT Ditjen PKH Kementan yang dilengkapi dengan sarana dan prasarana untuk produksi embrio dan telah dilakukan uji coba untuk memproduksi embrio dari sapi-sapi donor, baik dari sapi lokal maupun eksotik dengan semen beku Belgian Blue. Uji coba produksi embrio dengan semen beku Belgian Blue dilakukan pada sapi donor Simmental, Limousin, Angus, Madura, Bali, PO dan Aceh.

" BET Cipelang telah mampu menghasilkan embrio sapi persilangan (Belgian Blue 50 persen dan 75%) sebanyak 27 embrio. Embrio dihasilkan sesuai dengan SNI embrio, dan mengacu pada standar IETS (International Embryo Transfer Society). Sementara untuk embrio dengan komposisi darah 75% ini akan dicoba transfer pada sapi resipien (penerima embrio) untuk memastikan kelahiran anaknya, apakah dapat lahir secara normal ataukah harus melalui operasi caesar,” paparnya.

Oloan menambahkan, jika anak keturunan BB dengan komposisi darah 75% dapat lahir secara normal, maka dimungkinkan sapi dengan komposisi darah Belgian Blue 75% dapat dikembangkan lebih banyak lagi di masyarakat. Selain itu, sapi resipien yang melahirkan pedet Belgian Blue melalui operasi caesar dapat dibuntingkan kembali setelah kondisi reproduksinya normal. Demikian juga dengan sapi donor yang melahirkan pedet BB juga dapat diproduksi embrionya kembali.

"Dengan demikian, populasi sapi keturunan Belgian Blue di Indonesia akan semakin banyak dan pemenuhan kebutuhan protein akan dapat menjadi kenyataan dalam waktu yang tidak lama lagi. Target seribu sapi Belgian Blue di 2019 terus diupayakan," ujar Oloan.

Sejauh ini, percobaan persilangan sapi Belgian Blue dengan sapi Aceh, Madura dan sapi Bali juga dilakukan dengan cara melakukan produksi embrio dari sapi-sapi tersebut dengan menggunakan semen Belgian Blue. Hasilnya, produksi embrio dengan donor sapi Bali dan semen Belgian Blue belum menunjukkan keberhasilan, sedangkan donor sapi Aceh lebih responsif ketika dilakukan produksi embrio.

“Uji coba produksi embrio sapi Aceh dengan semen BB menghasilkan dua embrio layak transfer. Kedua embrio tersebut langsung ditransferkan pada sapi resipien jenis Limousin dan FH, dan berhasil lahir secara normal pada bulan Mei dan Juni 2018,” pungkasnya.

Dalam Nota Kesepahaman ini, para pihak terkait akan melakukan pengembangan dan promosi produk pangan lokal segar yang aman dan sehat, dan pengembangan usaha pengolahan pangan lokal. Acara ini dihadiri lebih dari 2500 peserta yang merupakan alumni dan mahasiswa Fakultas Teknologi Pertanian dari 54 angkatan serta masyarakat umum.

Sumber: https://www.republika.co.id/berita/ekonomi/pertanian/18/09/19/pfaebg453

 

 

 

SISTEM INTEGRASI SAWIT-SAPI (SISASA)

Integrasi sawit-sapi merupakan program terobosan yang strategis, tertuang dalam Renstra Kementerian Pertanian 2015-2019
dalam upaya meningkatkan produksi daging di dalam negeri serta mewujudkan ketahanan pangan nasional

 

 

 

loading...

Galeri Foto Kegiatan

 

 

 

Layanan Elektronik

 

 

Pro-Tek PPID

 

 

LAYANAN PUBLIK REFORMASI BIROKRASI e-KINERJA SIGAP PENGADUAN