Bogor, 22-Oct-2018       English Version


Dunia peternakan di Indonesia dihadapkan kepada permasalahan berat dan kompleks yang harus segera diatasi, termasuk belum tercapainya swasembada daging sapi yang menjadi target utama Kementerian Pertanian. Permasalahan panjangnya jarak kelahiran dan gangguan reproduksi serta penyakit merupakan salah satu faktor yang menyebabkan rendahnya produktivitas ternak selain faktor teknis, seperti kurangnya nutrisi dan rendahnya pengetahuan peternak seputar manajemen pengelolaan ternak.

Menghadapi permasalahan tersebut yang terus berulang sepanjang tahun, Kementerian Pertanian pada tahun 2017 melakukan upaya sistematis dan komprehensif untuk meningkatkan produktivitas ternak melalui program Upaya Khusus Sapi Indukan Wajib Bunting (UPSUS SIWAB) yang ditetapkan melalui Peraturan Menteri Pertanian Nomor 48jPermentanjPK.210jl0j2016 tentang Upaya Khusus Percepatan Peningkatan Populasi Sapi dan Kerbau Bunting. Dengan UPSUS SIWAB tersebut, sapi/kerbau betina produktif milik peternak dipastikan dikawinkan, baik melalui Inseminasi Buatan (IB) maupun Intensifikasi Kawin Alam (INKA). Upaya khusus tersebut merupakan kegiatan yang terintegrasi melalui sistem manajemen reproduksi yang terdiri dari unsurunsur : 1) pemeriksaan status reproduksi dan gangguan reproduksi; 2) pelayanan inseminasi Buatan (IB) dan Intensifikasi Kawin Alam (INKA); 3) pemenuhan semen beku dan nitrogen cair; 4) pengendalian pemotongan sapi/kerbau betina produktif; dan 5) pemenuhan hijauan pakan ternak dan konsentrat. Upaya ini diLakukan sebagai wujud komitmen pemerintah daLam mengejar swasembada sapi yang ditargetkan PresidenJoko Widodo agar dapat dicapai pada 2022 mendatang serta mewujudkan Indonesia yang mandiri daLam pemenuhan pangan, sekaligus meningkatkan kesejahteraan peternak rakyat.

Untuk mengawaL perkembangan kinerja UPSUS SIWAB, Kementerian Pertanian teLah menerbitkan Pedoman PeLaksanaan yang mengatur tentang metode percepatan peningkatan popuLasi ternak ruminansia besar, pembentukan keLompok kerja, kesekretariatan keLompok kerja, dan Tim Supervisi. Sementara untuk memantau perkembangan capaian kinerja Program UPSUS SIWAB secara cepat dan real time harian digunakan instrumen Sistem Informasi Kesehatan Hewan NasionaL (ISIKHNAS) yang diintegrasikan dengan Sistem Monitoring dan PeLaporan SMS Kementerian Pertanian.

Sasaran awaL impLementasi Program UPSUS SIWAB pada tahun 2017 ditargetkan akan ada 3 juta ekor mencapai kebuntingan dari 4 juta akseptor sapi dan kerbau dan pada gilirannya nanti akan menghasilkan 2,4 juta pedet (anak sapi) pada tahun 2018. Sementara untuk program intensifikasi kawin aLam, pemerintah akan menyiapkan infrastruktur yaitu bibit pakan rumput dan Legum, prasarana sumber air berupa embung serta obat-obatan dan vaksin. HaL ini diLakukan bagi ternak yang dikembangkan di padang gembaLa (ranch) sehingga ada jaminan ketersediaan pakan, air, dan kesehatan ternak. Sedangkan untuk ternak yang dikembangkan dengan poLa kandang komunaL, pemerintah akan memberikan bibit pakan rumput dan Legum, fasiLitas kesehatan, semen beku, N2 cair, dan tenaga inseminator.

Program UPSUS SIWAB memiLiki tujuan muLia yakni meningkatkan popuLasi sapi nasionaL, maka seharusnya indikator sukses dari program ini adaLah berupa angka jumLah keLahiran pedet pada akhir periode program. Meskipun dari segi nama program hanyaLah sampai kepada wajib bunting dengan output berupa kebuntingan, target program ini dapat dikatakan masih bersifat antara dan beLum final. Yang Lebih penting dan urgent adaLah berapa banyak indukan yang berhasiL meLahirkan pedet sehingga akan menambah popuLasi.

Suksesnya Program UPSUS SIWAB sangat tergantung pada kerjasama dan komitmen semua unsur peternakan termasuk pemerintah daerah. Beberapa hal yang perlu mendapat penekanan dan menjadi catatan bagi pemerintah daerah antara lain: 1) melanjutkan pembangunan peternakan dan kesehatan hewan sesuai Renstra 2015-2019 yang difokuskan pada UPSUS SIWAB; 2) memprioritaskan komoditas sapi dan kerbau, komoditas lain difasilitasi dengan porsi terbatas; 3) melakukan upaya terobosan untuk meningkatkan sumber daya di luar APBN; 4) menjabarkan strategi pengembangan kawasan untuk meningkatkan nilai ekonomi usaha agribisnis peternakan; dan 5) kegiatan pokok lain: seperti perbaikan mutu bibit lokal, pembebasan penyakit tertentu, penanaman hijauan pakan ternak di kawasan integrasi ternak-tanaman tetap dilanjutkan dan disinergikan dengan UPSUS SIWAB. Selain terus meningkatkan populasi sapi di tingkat peternak, kinerja UPT perbibitan juga harus terus ditingkatkan untuk dapat menghasilkan lebih banyak bibit-bibit sapi ungguL Tahun 2017, terdapat 3 (tiga) cluster dalam pelaksanaan UPSUSSIWAByaitu intensif, semiintensif, dan ekstensif.

 

Download: Fullteks (SIWAB Solusi Cerdas Swasembada Daging Sapi dan Kerbau)

 

 

 

 

SISTEM INTEGRASI SAWIT-SAPI (SISASA)

Integrasi sawit-sapi merupakan program terobosan yang strategis, tertuang dalam Renstra Kementerian Pertanian 2015-2019
dalam upaya meningkatkan produksi daging di dalam negeri serta mewujudkan ketahanan pangan nasional

 

 

 

loading...

Galeri Foto Kegiatan

 

 

 

Layanan Elektronik

 

 

Pro-Tek PPID

 

 

LAYANAN PUBLIK REFORMASI BIROKRASI e-KINERJA SIGAP PENGADUAN