Bogor, 20-Jun-2018       English Version


BOGOR (6/6/2018) – Deteksi kebuntingan pada ternak sapi yang ada saat ini dengan pengecekan fisik secara langsung seperti perogohan/palpasi rektal. Seiring perkembangan dan kebutuhan inovasi teknologi tersebut, Balitbangtan melakukan inovasi dengan menemukan teknologi pendeteksi kebuntingan dini yang bisa dilakukan oleh peternak secara umum. Kit E-Pregnancy BPS ImunoDB merupakan teknologi Badan Litbang Pertanian Kementerian Pertanian untuk mendiagnosis kebuntingan yang cepat dan akurat serta dapat dilakukan pada umur kebuntingan kurang dari satu bulan.

Kepala Loka Penelitian Sapi Potong (Dr. Dicky Pamungkas) pada Seminar Bulanan di Pusat Penelitian dan Pengembangan Peternakan mengatakan bahwa teknologi deteksi kebuntingan dini pada sapi induk dapat meningkatkan efisiensi reproduksi sehingga sapi induk yang diketahui belum bunting dapat segera dikawinkan kembali. Kit Imunodotbloting Pregnancy ini merupakan teknologi diagnosis kebuntingan berbasis protein spesifik dengan kepekatan perubahan warna (gradient density) yang akan terjadi ikatan antara antigen dalam serum darah sapi bunting umur 1-3 bulan dengan antibody poliklonal. Kit deteksi kebuntingan ini mempunyai tingkat akurasi mencapai 90% dan mempunyai keunggulan antara lain bisa memberi informasi keberhasilan perkawinan lebih awal, pengaplikasian yang mudah dan akurat, serta tidak menimbulkan trauma pada ternak dan hanya membutuhkan waktu 60 menit dalam pelaksanaannya.

Dalam seminar bulanan kali ini juga, Kepala Loka Penelitian Kambing Potong (Dr. Simon Elieser) membahas rencana pelepasan kambing Boerka Galaksi yang merupakan kambing pedaging unggul hasil persilangan kambing boer dengan kambing kacang. Penelitian kambing ini dilakukan mengingat kontribusi kambing terhadap suplai daging nasional yang relatif masih rendah (6,86 ton/tahun dibanding produksi daging nasional 3.175 ton/tahun). Kambing ini merupakan kambing pedaging unggul yang mempunyai produktivitas tinggi sesuai permintaan konsumen. Saat ini berubahnya preferensi konsumen untuk mendapatkan daging yang empuk dengan perlemakan yang rendah menuntut peternak harus menghasilkan produk yang sesuai. Kambing ini juga diproyeksikan untuk menghasilkan ternak bakalan yang memenuhi standar berat badan untuk ekspor yaitu 35 kg.

Direncanakan akan dibangun pusat perbenihan kambing Boerka Galaksi di beberapa wilayah Indonesia seperti di NTB, Bali, Sulawesi, Jawa, Papua dan Kepulauan Riau. Selain itu juga dikembangkan di daerah perkebunan sawit, karet, hortikultura dan tanaman pangan (YBH/REP/MIF).

 

 

 

SISTEM INTEGRASI SAWIT-SAPI (SISASA)

Integrasi sawit-sapi merupakan program terobosan yang strategis, tertuang dalam Renstra Kementerian Pertanian 2015-2019
dalam upaya meningkatkan produksi daging di dalam negeri serta mewujudkan ketahanan pangan nasional

 

 

 

loading...

Galeri Foto Kegiatan

 

 

 

Layanan Elektronik

 

 

Pro-Tek