Bogor, 14-Dec-2018


Komoditas itik sebetulnya berabad-abad  sudah menjadi bagian usaha tani di Indonesia. Secara tradisi beternak itik itu sudah membudaya. Umumnya,itik dipelihara untuk memproduksi telur karena tipe yang ada di Indonesia adalah tipe petelur.

Kalau secara tradisi, pemeliharan sekitar 90% dilakukan secara tradisional meskipun beberapa ada yang memelihara secara intensif dengan memelihara sekitar 200-300 ekor induk. Dengan kondisi demikian waktu itu, pemenuhan bibit atau DOD (itik umur sehari) terpenuhi oleh sistem pembibitan yang skala kecil dan tradisional dari mesin berkapasitas sekitar 500-700 butir.

Sekitar 10 tahun terakhir minat masyarakat  terhadap daging itik melonjak dengan cepat. Belum diketahui alas an pasti kenapa masyarakat berlomba-lomba memakan daging. Sementara untuk pasar telur mulai ada peningkatan tetapi relatif kecil dibandingkan permintaan pasar akan daging itik yang melonjak.

Dengan situasi itik, sistem pembibitan yang ada tidak siap dengan gejolak yang terjadi. Bahkan sebagai ahli pemuliaan, penulis sangat khawatir bahwa itik yang ada semuanya dipakai untuk memenuhi kebutuhan daging. Imbas berikutnya akan terjadi pengurasan sumber daya genetik atau erosi genetik terhadap plasma nutfah asli. Padahal, awalnya itik yang ada ditujukan untuk petelur dengan kondisi perbibitan yang terbatas.

Sebenarnya, pasar daging itik dari dulu sudah ada tetapi sangat terbatas dan dipenuhi oleh itik peking untuk kelas menengan keatas.sekarang pasar daging itik yang menegah kebawah ini bergejolak dan melonjak dengan tajam.

Kepedulian dinas terkait untuk menggandeng badan litbang (penelitian dan pengembangan) atau perguruan tinggi setempat guna membenahi supaya pembibitan itik yang ada bisa lebih diarahkan sangat penting. Kita tidak menyalahkan masyarakat berlomba-lomba memproduksi itik potong tapi pembibitan itu harus diarahkan supaya sambil memproduksi itik komersial, konservasi itik lokal bisa berjalan bersama-sama.

Benahi Pembibitan

Mengantisipasi terjadinya gejolak dan lonjakan permintaan dengan daging itik, pembenahan pembibitan itik untuk memenuhi permintaan pasar mutlak dilakukan. Dengan pembibitan yang terarah dan benar 1 induk itik bias saja menghasilka 200 ekor DOD. Dengan adanya pembenahan sistem pembibitan  ini kita bisa meredam pengurasan dengan tajam.

Kalau kita mau mendorong peternak memelihara itik kearah intensif dan untung maka harus dikembangkan galur-galur itik yang lebih baik. Alasannya,tuntunan pasar yang lebih modern dan jumlah permintaan itik yang terus meningkat perlu sistem intesifikasi. Juga penyakit flu burung menjadi alasan dan kekhawatiran pemerintah kalau itik diumbar kemana-mana.

Balitnak ( Balai Penelitian Ternak ) mengembangkan galur komersial  yang produksinya lebih bagus sehingga kalau peternak memelihara secara intensif masih untuk. Adapun bibit yang sudah dikembangkan yaitu hibrida petelur yang disebut itik master yang merupakan persilangan anatar itik mojosari jantan dengan itik alabio betina yang keturunannya merupakan (Final Stock ). Untuk galur pedaging, Balitnak menyilangkan itik peking dengan itik mojosari putih yang keturunannya disebut itik PMp. Itik PMp itik berukuran sedang dan tidak sebesar peking guna memenuhi permintaan pasar dari masyarakat menengah kebawah. Itik PMp ini dalam waktu 10 minggu mampu mencapai ukuran sekiar 2-2.2 kg.

Baca juga : Jenis Kelamin Itik MASTER Dapat Ditentukan Berdasarkan Warna Bulu

Dari sisi pelaku usaha swasta, patut diapresiasi beberapa investor yang melakukan pengembangan itik dengan menggarap pembibitan yang terarah bahkan membuat galur baru. Pembibitan yang terarah itu menyangkut sumber telur tetasnya yang akan menjadikan anak itik itu kualitasnya seperti apa apakah  bias distandardisasi baik jumlah maupun kuallitasnya bias dijamin dan tidak merusak plasma nutfah yang ada. Dan itu harus dilakukan oleh pembibitan yang modalnya relatif besar. Dengan danya para pelaku pembibitan ini paling tidak bias menghambat  terjadinya pengurasan genetis. Juga otomatis pembibit itik yang asal-aslan bisa diredam dan tersaingi dengan yang swasta ini karena kualitas DOD yang dihasilkan otomatis lebih baik dan terjamin., serta pasokan permintaan konsumen jumlahnya bisa dipenuhi.

Di bisnis ini, pembibitan itik minimal harus mengarah ke industri tetapi beternak sebaiknya diserahkan ke peternak rakyat. Pemerintah harus bisa mengendalikan melalui aturan-aturan yang dibuatnya. Hal itu juga bisa mendorong masyarakat agar antusias untuk beternak itik dengan iming-iming keuntungan dan pasar. Apalagi teknik beternak itik sudah ada, teknik nutrisi pakan sudah ada, perkandangan ada, tinggal masyarakat mau tidak untuk beternak dan ada investor yang mau melakukan pembibitan itik. Bermunculannya pembibit-pembibit itik yang baik diharapkan tidak terjadi pengurasan genetik itik lokal.

Kondisi Itik Lokal

Dibebrapa daerah, keberadaan itik lokal cukup mengkhawatirkan. Di Mojosari Jawa Timur saat ini mencari itik mojosari murni sudah sulit sekali. Hal itu diakibatkan karena peternak berlomba-lomba mengawinkan itik mojosari dengan itik khaki Campbell  supaya keturunannya bisa dikawinkan dengan itik peking. Pasalnya, muncul  rumor dipternak kalau itik mojosari disilangkan dengan itik peking daya tetas telurnya tidak bagus sehingga harus dikawinkan  dulu dengan itik khaki Campbell.

Dinas pangan dan perikanan mojokerto serta dinas peternakan jawa timur sudah mengusulkan pelepasan galur itik mojosari ini. Namun pertanyaannya, siapa yang akan menjaga dan bertanggung jawab agar itik mojosari ini tidak musnah karena yang memelihara itik mojosari murni ini sudah mulai punah bahkan mencari ditempat asalnya sudah tidak ada padahal dihabitat aslinya seharusnya tetap ada. Untungnya, Blitnak dengan adanya galur itik master ini perlu mempertahankan itik mojosari murninya, juga itik mojosari murni ada di Pt Putra Perkasa Genetika yang mengembangkan itik master serta di BPTU pelaihari Kalimantan Selatan.  

Keterlibatan pihak swasta dalam pengembangan itik lokal ini sangat baik tetapi sebaiknya diikuti dengan konservasi itik lokal yang aslinya serta tetap harus ada yang bertanggungjawab apakah itu pemerintah daerah yang menggandeng kelompok peternak di tempat asalnya. Diharapkan nanti PT Putra Perkasa Genetika pun kalau sudah mengembangkan itik master ini mau menyisihkan dana dan fasilitas untuk melakukan seleksi lebih lanjut.

Untuk itik alabio di Kalimantan Selatan belum terlalu dikhawatirkan keberadaannya. Masyarakat di Hulu Sungai Utara sebagai sumber itik alabio murni masih tinggi minatnya untuk memelihara. Meskipun ada juga yang menyilangkan dengan itik peking namun keturunannya dijadikan itik potong sehingga tidak merusak itik alabio umumnya.

Baca juga : Analisis Finansial Ragam Usaha Itik

Balitnak juga punya pengalaman digandeng pemerintah Brebes Jawa Tengah untuk membenahi itik Tegal. Namnun begitu kepala dinasnya berganti, program tidak berlanjut dan hilang begitu saja. Padahal produksinya mulai meningkat dan peternak mulai minat memelihara. Di Cirebon Jawa Barat sudah terjadi pembibitan itik lokal yang dilakukan secara tidak terarah. Menyilangkan itik lokal dengan lokal dengan itik peking lazim dilakukan karena mampu mendatangkan keuntungan.

Di Sumatera Barat itu ada yang disebut itik pitalah. Masyarakat setempat sangat bangga tetrapi kalau bangga saja tanpa melakukan apapa-apa percuma. Justru yang penting adalah bagaimana memperbaiki itik pitalah ini supaya masyarakat lebih banyak yang berminat dan berlomba-lomba memeliharanya.

Sebetulnya, masing-masing itik lokal itu potensial tapi yangt mau mengembangkan itu siapa. Ke depan mudah-mudahan di setiap daerah sumber itik lokal ada yang minat mengembangkannya dan kita bisa membantu menyusun program pemuliaannya. Kepedulian dinas terkait untuk menggandeng badan litbang (penelitian dan pengembangan) atau perguruan tinggi setempat guna membenahi supaya pembibitan itik yang ada bisa lebih diarahkan sangat penting. Kita tidak menyalahkan masyarakat berlomba-lomba memproduksi itik potong tapi pembibitan itu harus diarahkan supaya sambil memproduksi itik komersial, konservasi itik local bisa berjalan sama-sama.

Masih Timpang

Jika melihat kondisi di hilir saat ini, bisa dikatakan antara pasokan dan permintaan itik masih timpang. Permintaan akan itik potong sangat tinggi dan persoalan tata niaga masih menjadi kendala utama. Yang bisa membenahi dan menentukan tataniaga adalah pedagang karena di satu sisi banyak orang yang bilang kekurangan itik pasokan itik potong tetapi disisi lain banyak peternak yang tidak bisa menjual karena tidak tahu pasar. Hal itu membuat posisi tawar peternak yang sangat lemah.

Untuk meredam persoalan itu, keterlibatan pihak swasta dalam membuat RPHU (Rumah Potong Hewan Unggas) khusus itik yang dilengkapi fasilitas cold storage  sangat penting karena begitu itik dipotong bisa langsung masuk cold storage. Pemerintah perlu mengkoordinasikan, melakukan sinkronisasi dan supervise agar semuanya bisa berjalan dengan baik.

Di setiap sentra itik semestinya terdapat RPHU dan cold storage sebagai buffer jika harga itik ditingkat peternak anjlok dan juga bisa menjadi alat kontrol kualitas. Pemerintah koordinasi dan regulasi dan supervise. Sementara perguruan tinggi bisa memberikan masukan ke pemerintah daerah setempat agar bisa peduli rumpun itik lokal yang ada.

Mulai adanya keterlibatan industri dalam pengembangkan itik ini bisa menarik minat investor lainnya untuk investasi di unggas lokal khususnya itik. Investor melirik bisnis ini karena melihat peluang pasar dan keuntungan yang bisa diperoleh. Dengan adanya para pembibit yang terarah dan jaminan produk yang berkualitas, peternak diharapkan mulai meninggalkan pasokan DOD dari pembibit-pembibit tradisional yang melakukan pembibitan sembarangan.

Di bisnis ini, pembibitan itik minimal harus mengarah ke industri tetapi beternak sebaiknnya diserahkan ke peternak rakyat. Pemerintah harus bisa mengendalikan melalui aturan-aturan yang dibuatnya. Hal itu juga bisa mendorong masyarakat agar antusias untuk beternak itik dengan iming-iming keuntungan dan pasar. Apalagi teknik beternak itik sudah ada, teknik nutrisi pakan sudah ada, perkandangan ada, tinggal masyarakat mau tidak untuk beternak dan ada investor yang mau melakukan pembibitan itik. Bermunculannya pembibit-pembibit itik yang baik diharapkan tidak terjadi pengurasan genetik itik lokal.

Penulis optimis bisnis itik di tanah air akan bangkit karena dari segi telur pasarnya bagus dan dari segi daging itik permintaannya naik terus. Menembus pasar internasional pun kalau proses produksinya bagus kita masih bisa bersaing juga. Di China banyak produk olahan daging itik yang ditawarkan. Di Indonesia daging itik segar saja masih laku keras tetapi dengan keberadaan RPHU khusus itik diversifikasi produk berbahan baku daging itik bisa banyak dihasikan tetapi kembali lagi ke regulasi pemerintah yang harus mendukung untuk pengembangan itu.   

Sumber: Trobos Edisi 214/Tahun XVII/Juli 2017 Hal.30-31

loading...

 

 

 

Layanan Elektronik

 

 

Pro-Tek PPID

 

 

LAYANAN PUBLIK REFORMASI BIROKRASI e-KINERJA SIGAP PENGADUAN