Bogor, 19-01-2018       English Version


Tanaman Pulai (Alstonia scholaris) merupakan salah satu jenis tanaman yang mempunyai banyak manfaat. Jenis ini termasuk Indegenous species dan cepat tumbuh (fast growing spesies), serta banyak tersebar hampir di seluruh wilayah Indonesia ( Seoerianegara dan Lemmens, 1994). Pulai dapat tumbuh baik pada lahan kritis sehingga sangat cocok untuk perbaikan kualitas lingkungan. Pulai juga termasuk spesies cepat tumbuh. Pada umur 10 tahun dapat mencapai tinggi 15 meter dengan diameter 30 cm dengan perkiraan volume 0,5 m2 setiap pohon.

Budidaya tanaman pulai sebagai berikut:

  1. Stek batang tanaman pulai Alstonia scholaris ditanam di polibag berukuran 1 kg, disiram 2 x sehari selama 2 minggu.
  2. Setelah tanaman tumbuh 2 bulan kantong plastik dibuka dan tanaman dipindahkan ke lahan percobaan.
  3. Lahan tanam diolah dengan memberikan pupuk dasar berupa pupuk kandang sebanyak 10 ton/ha dan kapur sebanyak 1 ton/ ha.
  4. Jarak tanam 2x2 m, panen pertama umur 8 bulan dengan interval pemanenan 30 hari dan tinggi potong yaitu 40-120 cm dari tajuk tanaman.
  5. Rataan produksi pada interval panen 30 hari mencapai 34,33 t/ha/thn, dengan rataan kandungan protein 18,41%.

Berdasarkan kandungan nutrisinya, tanaman pulai potensial untuk pakan. Kandungan protein kasar, NDF, ADF, bahan organik, tanaman pulai berturut-turut sebesar 18%, 25%, dan 17%, 91-92%. Kandungan bahan organiknya setara dengan kandungan bahan organik pada G.sepium 87-91% dan S. sesban 89-90% yang dipotong pada umur 6 minggu. Terlihat dari kualitas yang dimiliki, tanaman pulai (Alstonia scholaris) sangat berpotensi sebagai sumber pakan ternak, serta merupakan alternatif sumber protein murah untuk peningkatan produktivitas ternak ruminansia. Tanaman pulai juga mengandung tannin sebesar  0,67%, tanin terkondensasi (condensed tanin) 0,009% dan saponin 1,92%. 

Namun kandungan kedua bahan  sekunder tersebut pada tanaman pulai relatif rendah, sehingga diharapkan ternak yang mengkonsumsi tanaman ini tidak akan mengalami ganggguan dalam pencernaan dan pertumbuhannya.

Informasi lebih lanjut: Loka Penelitian Kambing Potong (Andi Tarigan, Juniar Sirait, Anwar)

 

 

 

 

SISTEM INTEGRASI SAWIT-SAPI (SISASA)

Integrasi sawit-sapi merupakan program terobosan yang strategis, tertuang dalam Renstra Kementerian Pertanian 2015-2019
dalam upaya meningkatkan produksi daging di dalam negeri serta mewujudkan ketahanan pangan nasional

 

 

 

 

Galeri Foto Kegiatan

 

 

 

Layanan Elektronik ( e-Government )

 

International SeminarKP-HSTP

Pro-Tek RECISPPID