Bogor, 17-12-2017       English Version


“Peranan Toksikologi dalam Mengungkapkan Kasus Kriminal (Forensik) dan Mendukung Keamanan Pangan Asal Ternak” menjadi judul yang diangkat oleh Prof. Dr. drh. Sjamsul Bahri, M.S dalam kesempatan orasi purna bakti pada 29 November 2017 di Ruang Rapat TP2I, Bogor dan dihadiri oleh Kepala Pusat Penelitian dan Pengembangan Peternakan (Puslitbangnak), Direktorat Jenderal Kesehatan Hewan, Kepala Balai Besar Penelitian Veteriner, Perwakilan Pusat penelitian Bioteknologi LIPI, PT AIM, peneliti lingkup Puslitbangnak, serta pejabat dan karyawan/karyawati lingkup Puslitbangnak. Acara ini dibuka oleh Kepala Puslitbangnak (Dr. Atien Priyanti) yang dalam sambutannya menyampaikan apresiasi setinggi-tingginya atas pengabdian Prof. Sjamsul bahri dalam bidang penelitian dan ilmu pengetahuan yang telah diemban selama 30 tahun kedinasannya. Selain itu, juga meminta agar tetap menjaga silaturahmi serta mohon tetap memberikan sumbangan ilmu pengetahuan dan pemikiran kepada Puslitbangnak.

Sebagai peneliti bidang Patologi dan Toksikologi Veteriner, judul yang diangkat dalam orasinya menampilkan tiga aspekt Toksikologi Veteriner yang perlu mendapat perhatian, yaitu: (1) keracunan pada kasus kriminal; (2) aspek keamanan pangan asal ternak; (3) permasalahan mikotoksin dan mikotoksikosis pada pakan dan hewan. Adapun contoh kasus yang pernah terjadi pada hewan dan manusia terkait dengan keracunan ini adalah kasus kematian puluhan ekor sapi pada tahun 1980-2000an di Lampung dan Jawa menggunakan Potas (NaCN/ KCN) yang mudah diperoleh dan murah. Disebutkan pula terdapat 56 kasus selama 5 tahun dengan rata-rata 10-11 kasus per tahun. Yuningsih (2013) melaporkan bahwa hampir semua kasus tersebut terkait kasus Zn Phospate yang dibungkus dengan daun sawit untuk umpan gajah, Potas (KCN/Na2CN) dan lain sebagainya.

Penyediaan pakan yang aman untuk dikonsumsi merupakan masalah yang krusial. Dampak pangan yang tidak aman selain dapat mengganggu kesehatan, juga menggerogoti perekonomian negara karena: (1) menambah biaya pengeluaran pemerintah untuk mengobati dan memelihara kesehatan; (2) menurunkan daya saing komoditas pangan dan (3) menurunkan produktivitas bangsa. Pangan yang dikategorikan aman adalah pangan yang terbebas dari mikotoksin, logam berat, pestisida, obat-obatan yang digunakan sebagai growth promotor dan cemaran lainnya. Toksikologi Veteriner merupakan spesialis dari kedokteran hewan yang fokus terhadap senyawa kimia, mempunyai peranan sangat luas meliputi keamanan pakan, keamanan pangan, serta terkait dengan toksikologi lingkungan termasuk residu kimia yang mengkontaminasi hewan penghasil pangan. Para Toksikologi veterner dapat memberikan rekomendasi pengobatan maupun percegahan masuknya residu berbagai toksikan ke dalam rantai pangan untuk manusia.

Kontaminasi mikotoksin pada pakan dan pangan telah menjadi permasalahan dunia akibat perdagangan global. Keberadaan mikotoksin pada pakan dan pangan menjadi ancaman tersendiri bagi kesehatan hewan dan manusia dikarenakan adanya kontaminasi langsung dari komoditas pertanian atau akibat adanya carry over dari mikotoksin dan metabolitnya ke dalam daging, susu maupun telur (produk hewan). Oleh karena itu, teknik pencegahannya dalam pakan, manajemen pakan serta teknik deteksi terhadap lima jenis mikotoksin (aflatoksin, ochratoxin, fumonisin, deoxynivalenol, dan zearalenone) harus dikuasai agar dapat meminimalisir cemaran mikotoksin pada pakan dan produk ternak. (CTR)

 

 

 

SISTEM INTEGRASI SAWIT-SAPI (SISASA)

Integrasi sawit-sapi merupakan program terobosan yang strategis, tertuang dalam Renstra Kementerian Pertanian 2015-2019
dalam upaya meningkatkan produksi daging di dalam negeri serta mewujudkan ketahanan pangan nasional

 

 

 

 

Galeri Foto Kegiatan

 

 

 

Layanan Elektronik ( e-Government )

 

International SeminarKP-HSTP

Pro-Tek RECISPPID