Bogor, 17-12-2017       English Version


Cacing tanah (Lumbricus) merupakan hewan tidak bertulang belakang yang hidup dalam tanah. Cacing tanah bersifat hermaprodit atau biseksual yaitu, hewan yang memiliki dua alat kelamin (jantan dan betina) dalam satu tubuhnya. Namun demikian, untuk melakukan pembuahan,tetap harus dilakukan oleh sepasang cacing tanah. Setelah pembuahan masing-masing cacing tanah dapat menghasilkan satu kokon (telur) yang didalamnya terdapat beberapa butir telur. Kopulasi dan produksi kokon biasanya dilakukan pada musim panas.

Terdapat sembilan spesies cacing tanah yang banyak diminati untuk dibudidayakan yaitu: Lumbricus rubellus,Lumbricus terrestris, Eisenia foetida, Allolobophora caliginosa, A. Chlorotica, Pheretima asiatica, Perionyx exavatus, Diplocordia verrucosa, Eudrilus eugeuniae.  
Penelitian tentang kandungan gizinya membuktikan bahwa cacing tanah mengandung protein yang  tinggi. Selain itu, komposisi kandungan asam amino cacing tanah juga lengkap, tidak kalah mutunya jika dibandingkan dengan beberapa sumber protein hewani lainnya. Pada umumnya asam amino  diperoleh sebagai hasil hidrolisis protein, baik menggunakan enzim maupun asam.

kandungan protein, lemak, serat kasar, dan abu tiga spesies tepung cacing tanah (% bahan kering).


Zat gizi

 

Spesies

Lumbricus Rubellus1)

Lumbricus Terestris2)

Perionyx Excavatus3)

Protein

63,08

32,55

57,2

Lemak

18,51

4,24

7,94

Serat Kasar

0,19

0,48

1,12

Bahan Ekstrak Tanpa Nitrogen

12,41

57,55

28,93

Abu

5,81

5,18

4,81

Sumber: Damayanti et al. 20091); Julendra, 20032); Tram et al.20053).

Kandungan protein yang mencapai 63% dari bahan kering, yang paling tinggi dari spesies lainnya. Sementara itu SK sangat rendah (0,19% dari bahan kering).

Komposisi asam amino Lumbricus rubellus (segar) dan tepung (% dari bahan kering)


Asam amino

Lumbricus rubellus (Segar)
(% dari BK)

Lumbricus rubellus (tepung)
(% dari BK)

Phenylalanine

0,45

1,03

Valine

0,52

1,3

Methionine

0,35

1,72

Isoleucine

0,47

1,98

Threonine

0,45

1,03

Histidine

0,63

1,91

Arginine

0,56

1,24

Lysine

0,51

1,43

Leucine

0,54

1,16

Cysteine

0,31

0,39

Tyrosine

0,43

0,82

Aspartic acid

0,98

2,38

Glutamic acid

1,52

3,6

Serine

0,54

0,7

Glycine

0,35

0,55

Alanine

0,32

0,99

Proline

0,54

0,71

Sumber: Istiqomah et al. (2009)

Semakin meningkatnya harga bahan pakan sumber protein, terutama tepung ikan dan tepung daging yang merupakan bahan pakan yang sebagian besar masih didatangkan secara impor sehingga keberadaan bahan pakan inkonvensional seperti cacing tanah dapat menjadi salah satu  sumber protein alternative pada peternakan rakyat.

Cacing tanah mengandung protein dan asam amino yang lebih baik dibandingkan dengan tepung ikan maupun tepung daging. Kandungan nutrisi cacing tanah yang baik, telah mengundang para ahli nutrisi ternak  untuk memanfaatkannya sebagai bahan pakan sumber protein dalam ransum ayam yang mereka buat. Secara umum, penggunaan cacing tanah, baik dalam bentuk segar maupun dalam bentuk tepung cacing tanah (TCT) memberikan pengaruh yang positif terhadap peningkatan produksi ternak unggas, terutama ayam pedaging.

Info Lengkap: Potensi dan Pemanfaatan bahan pakan inkonvensional sebagai Pakan ternak (Pusat Penelitian Dan Pengembangan Peternakan)

 

 

 

SISTEM INTEGRASI SAWIT-SAPI (SISASA)

Integrasi sawit-sapi merupakan program terobosan yang strategis, tertuang dalam Renstra Kementerian Pertanian 2015-2019
dalam upaya meningkatkan produksi daging di dalam negeri serta mewujudkan ketahanan pangan nasional

 

 

 

 

Galeri Foto Kegiatan

 

 

 

Layanan Elektronik ( e-Government )

 

International SeminarKP-HSTP

Pro-Tek RECISPPID