Bogor, 17-12-2017       English Version


Akselerasi produksi kambing Boerawa-Boerka tipe pedaging melalui inovasi teknologi Inseminasi Buatan telah dilakukan di Loka Penelitian Kambing Potong, Sei Putih, guna mengetahui tingkat kebuntingan induk kambing lokal Kacang, Boerka dan Peranakan Etawah yang diinseminasi secara intrauteri dengan menggunakan bantuan alat laparoskopi.

Teknik inseminasi tersebut yaitu menyuntikkan/menyemprotkan sperma langsung ke dalam cornua uteri, sperma yang digunakan berasal dari pejantan unggul jenis Boer dalam bentuk semen beku. Induk yang di inseminasi dikelompokkan ke dalam dua kelompok yaitu betina yang menunjukkan gejala birahi hasil sinkronisasi estrus dengan penyuntikan hormon Glandin-N.

Seluruh induk yang di inseminasi benar-benar menunjukkan gejala birahi melalui deteksi pejantan vasektomi. Setelah inseminasi, induk tersebut dirawat dan pada siklus birahi berikutnya dilakukan test kebuntingan melalui deteksi birahi dengan pejantan vasektomi. Apabila induk menimbulkan gejala birahi kembali akan dilakukan pengulangan inseminasi sampai betina tersebut bunting dan melahirkan.

Hasil penelitian menunjukkan bahwa Conception Rate pada induk kambing yang gejala birahinya secara alam lebih tinggi sebesar 77,78% dibandingkan dengan hasil penyerentakan birahi yaitu sebesar 13,84%. Berdasarkan jumlah pengulangan pelaksanaan inseminasi didapatkan Service per-Conception (S/C) sebesar 2,13 hingga ternak tersebut bunting dan melahirkan.

Teknlogi Inseminasi Buatan secara intrauteri mempunyai peranan penting dalam meningkatkan produktivitas kambing lokal sekaligus meningkatkan efisiensi penggunaan pejantan unggul.

Seluruh induk yang digunakan pada penelitian ini telah dianggap tidak bunting berdasarkan hasil deteksi birahi dengan menggunakan pejantan vasektomi. Dari hasil deteksi seluruh induk yang memperlihatkan tanda birahi, dikumpulkan dan ditempatkan di dalam kandang secara berkelompok, dimana masing-masing kelompok berjumlah 10 – 15 ekor, dengan model pemeliharaan melalui pemberian sumber bahan makanan dalam bentuk konsentrat dan hijauan pakan ternak yang lebih baik.

Dari hasil penelitian ini dapat disimpulkan bahwa penerapan inseminasi buatan secara intrauterin dengan bantuan alat laporoskopi pada induk kambing untuk mempercepat proses pembentukan kambing unggul persilangan seperti kambing Boerka dan Boerawa sangat layak dilakukan, dimana Service per-Conception atau yang sering disebut dengan jumlah pengulangan inseminasi per-ekor induk hingga melahirkan yang diperoleh yaitu sebanyak 2,13.

 

Sumber: Loka Penelitian Kambing Potong

 

 

 

 

 

SISTEM INTEGRASI SAWIT-SAPI (SISASA)

Integrasi sawit-sapi merupakan program terobosan yang strategis, tertuang dalam Renstra Kementerian Pertanian 2015-2019
dalam upaya meningkatkan produksi daging di dalam negeri serta mewujudkan ketahanan pangan nasional

 

 

 

 

Galeri Foto Kegiatan

 

 

 

Layanan Elektronik ( e-Government )

 

International SeminarKP-HSTP

Pro-Tek RECISPPID