Bogor, 21-11-2017       English Version


Rumput steno amat istimewa karena tinggkat kecernaan tinggi, kaya protein, dan toleran naungan.

 

Namanya mentereng rumput st. augustine. Ada pula yang menyebut rumput charleston atau rumput kerbau, mengacu pada nama ilmiahnya, yakni stenotaphrum  secundatum. Rumput pakan ternak itu istimewa karena tingkat kecernaanya lebih dari 60%. Bandingkan dengan tingkat kecernaan rumput lain, rata-rata 50%. Kambing, domba, atau sapi menggemari pakan itu.

Sebab,  cita rasanya lembut, batang agak lunak, pendek, dan tanpa berbulu. Kandungan protein kasar rumput steno lebih tinggi dari pada rumput alam lain. Hasil analisis menunjukan, protein kasar rumput steno pada umur panen 45 hari 11,81%. Adapun kandungan serat deterjen netral dan serat deterjen asam masing-masing  69,22% dan 35,15%. Kandungan nutrisi itu cukup untuk menyokong pertumbuhan ternak ruminansia.

Ladang Gembala

Nilai nutrisi tanaman turun seiring pertambahan umur tanaman. Oleh karena itu, frekuensi pengembalaan maupun pemotongan harus dilakukan teratur. Kelebihan lain rumput steno tahan naungan. Pantas rumput steno manjadi pilihan jitu dalam pengembangan integrasi ternak dengan tanaman perkebunan. Pembangunan padang pengembalaan dapat dilakukan dengan menanam rumput steno di lahan kelapa, kelapa sawit, maupun karet.

Bila lahan itu untuk pengembalaan sebaiknya penanaman secara bergiliran. Caranya dengan membagi lahan menjadi beberapa petak yang dilengkapi dengan pagar pembatas. Lama pengembalan paling optimal 7 hari untuk setiap petak. Peternak akan kembali mengembalakan ternak nya ke petak yang pertama setelah 45-60 hari. Tujuannya untuk memberikan kesempatan bagi tanaman untuk tumbuh kembali.

Meski di bawah pelepah kelapa sawit, rumput steno tumbuh subur. Warna daunnya hijau menyegarkan mata. Tajuk sawit yang rimbun tak membuat rerumputan itu mengering. Tanaman anggota keluarga Poaceae itu justru tumbuh hebat. Lantaran tahan terhadap terhadap naungan, rumput steno menjadi pilihan bagi pekebun karet, kelapa, atau jeruk. Mereka bisa membudidayakan rumput di lahan bawah tegakan tanpa khawatair rumput merana.

Petrnak di berbagai provinsi seperti Sumatera Utara, Nangroe Aceh Darussalam, dan Jambi membudidayakan rumput steno. Hasil penelitian periset di Loka Penelitian Kambing Potong, Sei Putig, Kabupaten Deli Serdang, Sumatra Utara, membuktikan rumput steno mampu baradaptasi pada lahan ternaungi di dataran rendah beriklim basah. Produktivitas steno di lahan terbuka tanpa naungan justru rendah, hanya 32,4 ton per hektare setiap tahun.

Itu berbanding terbalik dengan pertumbuhan rumput steno di bawah naungan. Pada naungan 55% produktivitas tanaman mencapai 46,7 ton segar per hektare setiap tahun. Adapun pada naungan 75% produktivitas tanaman melambung hingga 53,7 tonsegar per hektare setiap tahun. Produksi rumput steno sangat rendah jika ditanam di lahan terbuka karena zat hujau daun rusak.

Klorofil mengalami reaksi fotooksidasi sehingga daun berwarna kemerahan. Akibatnya tanaman tumbuh kurang sempurna sehingga produktivitas anjlok. Rumput steno kurang menyukai sinar matahari. Lingkungan hidup dengan sinar matahari melimpah justru  membuat tanaman merana. Rumput steno lebih nyaman hudp di lokasi dengan sinar matahari rendah. Buffalo grass toleran terhadap tingkat naungan hingga 75%.

 

 

Cepat Tumbuh

Yang menarik pertumbuhan rumput steno tergolong cepat. Pada musim hujan tanaman siap panen pada umur 30-40 hari. Adapun pada musim kemarau tanaman siap panen pada umur 60 hari. Rumput steno juga memiliki perakaran sangat kuat, serta rhizoma dan stolon yang padat. Karakter itu membuat tanaman mampu berkompetisi dengan gulma dan tanaman pengembalaan berat.

Rumput steno yang ditanam pada lahan naungan juga mempunyai tingkat kecernaan lebih tinggi dibandingkan dengan rumput yang ditanam di lahan tanpa naungan. Meski demikian, steno juga memiliki kelemahan. Rumput steno jarang berbunga sehingga perbanyakan generative kurang menguntungkan. Perbanyakan terbaik menggunakan pols yakni bibit dari pencahan atau sobekan rumpun.

Pols diambil dari rumpun sehat dan banyak anakan. Setiap pols minimal terdiri atas 2-3 anakan. Kebutuhan bibit untuk satu hektare mencapai 40.000 pols. Pekebun membudidayakan pols berjarak 50 cm x 50 cm. Loka Penelitian Kambing Potong, Sei Putih, Sumatera Utara, memasok hingga 12.000 pols ke sejumlah provinsi seperti Sumatera Utara, Nangroe Aceh Darussalam, Jambi, dan Sumatera Barat.

Tanaman pakan ternak merupakan komponen penting dalam manajemen usaha ternak ruminansia, termasuk kambing, ketersediaan pakan ternak dengan jumlah cukup dengan kualitas yang baik akan mendukung keberhasilan pengembangan ternak. Integrasi tanaman pakan ternak di lahan perkebunan sebagai upaya optimalisasi pemanfaatan lahan membutuhkan jenis tanaman yang toleran terhadap naungan untuk dapat tumbuh dengan baik. (Juniar Sirait, M.Si., peneliti madya di Loka Penelitian Kambing Potong).

 

Sumber: Trubus, November 2017/XLVIII

 

 

 

 

SISTEM INTEGRASI SAWIT-SAPI (SISASA)

Integrasi sawit-sapi merupakan program terobosan yang strategis, tertuang dalam Renstra Kementerian Pertanian 2015-2019
dalam upaya meningkatkan produksi daging di dalam negeri serta mewujudkan ketahanan pangan nasional

 

 

 

 

Galeri Foto Kegiatan

 

 

 

Layanan Elektronik ( e-Government )

 

International SeminarKP-HSTP

Pro-Tek RECISPPID