Bogor, 14-Dec-2018


Prospek pengembangan usaha itik Alabimaster-1 Agrinak (Alabio terseleksi) di Kabupaten Hulu Sungai Utara (HSU) dan Hulu Sungai Tengah (HST) Provinsi Kalimantan Selatan sangat besar dengan daya dukung wilayah sebagian besar merupakan lahan rawa. Kabupaten HSU telah ditetapkan sebagai wilayah sumber bibit itik Alabio sesuai Kepmentan Nomor: 4436/Kpts/SR.120/2013 meliputi Kecamatan Amuntai dan Sungai Pandan.

Dalam upaya mendeskripsikan kelayakan ekonomi usaha itik Alabimaster-1 Agrinak ini Tim Kajian Antisipatif dan Responsif Kebijakan Peternakan dan Veteriner (KAR-KSPV) Puslitbangnak telah melakukan Focus Group Discussion (FGD) bertemakan “Analisis Ekonomik Inovasi Itik Alabimaster-1 Agrinak dan Peluang Pengembangan” tanggal 12 Oktober 2017 di Dinas Pertanian, Kabupaten Hulu Sungai Utara. Tujuan FGD adalah menghimpun informasi terkini mengenai itik Alabio sebagai sumberdaya genetik ternak dan sebagai komoditas usaha. Kegiatan FGD dihadiri oleh Sekertaris Dinas Pertanian Kab. HSU, Kabid Peternakan dan staf Dinas Pertanian HSU, BPTU Pelaihari, pelaku usaha pembibitan, pembesaran, penetasan, pedagang/pengepul dan pelaku usaha kuliner dengan jumlah peserta sekitar 45 orang.

FGD diawali dengan ucapan selamat datang dari Kepala Dinas Pertanian HSU (Diwakili oleh Sekretaris Dinas Pertanian). Pada kesempatan tersebut, disampaikan bahwa populasi itik alabio di Kabupaten HSU mencapai 1.494.715 ekor dan produksi telur mencapai 9.975 ton. Sumber bibit itik Alabio  di HSU meliputi Kecamatan Amuntai dan Sungai Pandan. FGD dibuka oleh Kepala Puslitbangnak (diwakili oleh Prof. Dr. Sjamsul Bahri), dalam arahannya disampaikan bahwa Kabupaten HSU merupakan wilayah yang potensial untuk pengembangan itik Alabio dengan daya dukung 85% merupakan lahan rawa. Dengan ditetapkan HSU sebagai wilayah sumber bibit, hal ini perlu diikuti dengan dampak ekonomi bagi peternaknya. Diperlukan suatu kajian analisis ekonomi, untuk mengetahui kelayakan usaha itik dan peluang pengembangannya dari hulu-hilir.

FGD menghadirkan 3 narasumber: H. Syahrani (pelaku usaha pembesaran itik) yang menyampaikan “Analisis Ekonomik Inovasi Pembesaran Itik Alabimaster-1 Agrinak dan Peluang Pengembangannya”; Arsuni (pelaku usaha penetasan itik) yang menyampaikan “Analisis Ekonomik Inovasi Penetasan Itik Alabimaster-1 Agrinak dan Peluang Pengembangannya”; dan H. Suriadi (pedagang/pengepul itik) yang menyampaikan “Tataniaga Perdagangan Itik di Kabupaten Hulu Sungai Utara”.

Selain FGD, pengumpulan informasi dilakukan dengan kunjungan lapang ke 5 farm yang bergerak pada, usaha pembibitan dan penetasan. Produk usaha pembibitan adalah telur tetas, sedangkan produk usaha penetasan adalah anak itik (day old duck/DOD). Terdapat kerjasama antara peternak pembibit dan penetasan dalam bentuk kontrak yaitu telur yang ditetaskan hanya yang berasal dari peternak pembibit pembuat kontrak.

Dalam rangka memperoleh informasi pemasaran itik Alabio, kunjungan dilakukan ke pasar Alabio sebagai pasar khusus unggas di Amuntai Selatan Kab. HSU yang hanya buka setiap hari Rabu. Diperoleh informasi bahwa tataniaga produk itik diawali dari pelaku usaha penetasan yang menjual DOD ke pengepul. Dari pengepul kemudian itik dijual ke pedagang di pasar sebelum sampai ke peternak budidaya sebagai konsumen akhir. Selain itu, informasi yang diperoleh dari pasar adalah bahwa pembeli itik Alabio tidak hanya peternak di sekitar wilayah Kab. HSU, tetapi juga dari daerah lain seperti Kab. HST yang berbatasan langsung dengan Kab. HSU. Oleh karena itu, kunjungan dilakukan pula ke Kab. HST.

Hasil kunjungan di Kab. HST adalah sebagian besar peternak memelihara itik sebagai penghasil telur konsumsi. Pada umumnya pemeliharaan itik di Kab. HST dimulai dengan membeli itik Alabio untuk dikawinkan dengan itik Mojomaster-1 Agrinak sehingga menghasilkan telur tetas itik Master. Telur tersebut kemudian ditetaskan dan menghasilkan DOD itik Master. Selanjutnya DOD itik Master dipelihara oleh pelaku usaha pembesaran di wilayah Kab. HST sampai umur 4-5 bulan dan siap dijual sebagai itik dara (siap bertelur). Selanjutnya itik-itik dara tersebut dijual kepada peternak penghasil telur. Namun, tidak semua peternak pembesaran menjual itik-itiknya pada periode siap telur, karena ada pula peternak yang memliharanya sampai akhir periode bertelur dan menjual itiknya pada periode afkir. Peternak pembeli itik Master dara adalah peternak penghasil telur konsumsi. Oleh karena itu, untuk ternak pengganti induk-induk yang sudah memasuki periode afkir (replacement stock) dilakukan dengan membeli lagi itik Alabio di Kab. HSU.

Berdasarkan informasi alur pemasaran itik Alabimaster-1 Agrinak (Alabio terseleksi) di Kab. HSU dan HST Kalimantan Selatan tampak bahwa peluang pengembangannya sangat tinggi. Usaha ini cukup menguntungkan, terlebih didukung oleh potensi wilayah yang cocok untuk pengembangannya seperti suhu dan kelembaban lingkungan yang cocok untuk penetasan telur itik. Penetasan telur itik di Kab. HSU hanya dilakukan dengan menggelar telur-telur itik di atas meja besar yang dialasi gabah, kemudian dibalik posisinya setiap 3-4 jam sampai telur siap menetas pada umur 28 hari. Selain itu, daya dukung pakan dengan adanya sagu sebagai bahan pakan sumber serat yang cocok untuk itik.

Berdasarkan informasi di lapangan pula bahwa pengembangan itik Master terjadi di wilayah Kab. HST, sehingga tidak perlu khawatir terhadap kemurnian itik Alabio yang ada di wilayah Kab. HSU. Selain itu, itik Master adalah itik hibrida (F1) dari Alabio betina dan Mojosari jantan, sehingga hanya sebagai penghasil telur konsumsi (tidak untuk ditetaskan lagi) dan itik harus diafkir (dipotong) setelah periode bertelur berakhir. Dengan demikian, perkembangan itik Master secara tidak langsung akan menjadi salah satu upaya konservasi itik Alabio. (REP/PR)

loading...

 

 

 

Layanan Elektronik

 

 

Pro-Tek PPID

 

 

LAYANAN PUBLIK REFORMASI BIROKRASI e-KINERJA SIGAP PENGADUAN