Bogor, 23-11-2017       English Version


Tidak produktifnya sapi betina pada kondisi lapang banyak disebabkan oleh tidak tersedianya pejantan di lokasi tersebut. Hal ini disebabkan pejantan telah dijual untuk mendapatkan dana tunai. Hal lain yang menyebabkan tidak produktifnya sapi betina adalah adanya gangguan reproduksi yang dapat disebabkan oleh penyakit maupun oleh faktor kurang pakan. Untuk itu, telah dirancang suatu program Upaya khusus (Upsus) Siwab yang merupakan upaya percepatan peningkatan populasi sapi dan kerbau bunting melalui kegiatan yang terintegrasi untuk percepatan populasi sapi dan kerbau secara berkelanjutan. Percepatan peningkatan populasi dilakukan untuk memenuhi kebutuhan pangan asal hewan dan dilakukan melalui Inseminasi Buatan (IB) atau Intensifikasi Kawin Alam (INKA) dengan menerapkan sistem manajemen reproduksi.
Kegiatan Upsus Siwab ini meliputi kegiatan pemeriksaan status reproduksi dan gangguan reproduksi, pelayananan IB dan INKA, pemenuhan semen beku dan N2 cair, pengendalian pemotongan betina produktif dan pemenuhan hijauan pakan ternak dan konsentrat. Target dari kegiatan Upsus Siwab ini adalah didapatkannya sapi indukan dewasa siap bunting sebanyak empat juta ekor yang terdiri atas 2,9 juta akseptor IB dan 1,1 juta akseptor INKA, berdasarkan pola pemeliharaan intensif, semi-intensif (dengan IB) dan ekstensif (dengan INKA). Pada program ini ditargetkan tingkat kebuntingan 73% atau setara tiga juta ekor betina bunting. Kegiatan dilaksanakan di awal tahun 2017 dan pada akhir 2017 harus sudah ada sapi bunting tiga juta ekor (Kementrian Pertanian 2017). Bila tingkat keberhasilan induk bunting sampai beranak sebesar 70% maka pada akhir 2017 atau awal 2018 akan didapatkan anak sapi yang dipanen sebanyak dua juta ekor. Upaya ini dilakukan sebagai wujud komitmen pemerintah dalam mewujudkan kemandirian pangan asal hewan dan meningkatkan kesejahteraan peternak sekaligus mengejar swasembada sapi 2022 seperti yang ditargetkan oleh Presiden Republik Indonesia.

Beberapa hal yang harus mendapatkan perhatian untuk suksesnya program Siwab dimulai dari:

Penentuan Metode Perkawinan

Secara garis besar, lokasi Upsus Siwab dapat dibagi menjadi dua wilayah berdasarkan pola pemeliharaannya yaitu intensif dan semi-intensif atau ekstensif. Pada lokasi intensif dan semi-intensif dilaksanakan pelayanan IB dan akan lebih baik jika dilakukan kegiatan penyapuan (buffer) dengan INKA. Pada saat terjadi kegagalan sistem IB maka pejantan pemacek yang tersedia dapat menjadi buffer untuk mengawani ternak betina tersebut.
Pada lokasi ekstensif sangat tidak disarankan untuk dilakukan perkawinan secara IB. Pada lokasi ini ternak dilepaskan di padang pengembalaan dan sebagaian besar tinggal di hutan-hutan. Ternak ini sangat sulit untuk dijamah apalagi untuk di-IB. Ternak di wilayah ini sangat liar sehingga keberhasilan pembuntingan ternak betina di wilayah ini akan lebih tinggi bila menggunakan pelayanan INKA dengan pejantan unggul dan memiliki agresifitas tinggi (libido tinggi). Pejantan unggul (sapi PO ataupun Bali, Gambar A dan B)

  
Sapi pejantan unggul. (A) Sapi pejantan PO; (B) Sapi pejantan Bali

dapat berasal dari lokasi setempat atau dari balai-balai pembibitan ternak maupun dari Loka Peneitian Sapi Potong.

Sapi Indukan Siap Bunting

Untuk mendapatkan sapi indukan siap bunting maka perlu dilakukan seleksi sapi betina yang siap bunting yang mempunyai organ reproduksi normal (bebas dari gangguan reproduksi) dan sehat sehingga dapat digunakan untuk pengembangbiakan. Untuk memilih sapi indukan yang baik perlu dukungan data-data karaketristik sapi yang akan dipilih. Pemilihan sapi indukan siap bunting dilakukan oleh petugas PKb dan asisten teknis reproduksi (ATR) atau oleh tenaga medik reproduksi. Berdasarkan hasil pemeriksaan dari sapi indukan kemudian dibuat Surat Keterangan Status Reproduksi (SKSR) oleh tenaga medik reproduksi, berupa sapi bunting, siap bunting (akseptor) atau sapi dengan status gangguan reproduksi. Sapi dengan status gangguan reproduksi diperiksa lebih lanjut untuk menetapkan statusnya, apakah dapat disembuhkan atau permanen. Sapi yang dapat disembuhkan berubah statusnya menjadi sapi siap bunting saat telah bebas gangguan reproduksi. Sedangkan sapi dengan gangguan reproduksi permanen ditetapkan sebagai sapi tidak produktif yang dapat disembelih di RPH (Kementrian Pertanian 2011; Kementrian Pertanian 2016).

Pejantan Pemacek

Infertilitas dari seekor pejantan pemacek merupakan penyebab utama kerugian pada suatu usaha pengembangbiakan sapi. Hal ini dapat disebabkan dari:

  • Semen yang berkualitas buruk;
  • Kurangnya libido (gairah seks);
  • Kelainan fisik yang menyebabkan kesulitan untuk mengawini betina, pejantan yang terlalu gemuk, posisi kaki yang buruk, radang sendi;
  • Testis yang tidak sama besar antara kiri dan kanan, atau testis yang kecil dan tidak kenyal;
  • Kulit preputium yang abnormal yang mempengaruhi struktur penis; dan
  • Penyakit reproduksi, penyakit-penyakit umum ataupun pejantan yang cedera

Inseminasi Buatan

Banyak hal yang harus diperhatikan untuk suksesnya suatu program perkawinan dengan sistem inseminasi buatan, diantaranya adalah hal-hal berikut ini:

  • Dukungan Balai Inseminasi Buatan/Balai Besar Inseminasi Buatan/Balai Inseminasi Buatan Daerah (BIB/BBIB/BBID) dalam penyediaan jumlah straw semen beku dengan kualitas baik sesuai SNI.
  • Jumlah inseminator berkualitas (harus handal mendeteksi ternak berahi, ternak bunting sekaligus mendeteksi adanya gangguan reproduksi);
  • Ketersediaan dan distribusi N2 cair;
  • Peralatan pendukung (peralatan thawing otomatis, insemination gun, cover sheat dan lain-lain);
  • Sarana/prasarana (tangki penyimpanan semen beku besar dan kecil, sarana komunikasi, sarana transportasi);
  • Kecukupan pakan hijauan dan konsentrat (penyediaan benih/bibit hijauan makanan ternak, penyediaan lahan, jenis hijauan pakan ternak yang sesuai spesifik lokasi dan ketersediaan air.

Peran Pakan Ternak Terhadap Penampilan Reproduksi Induk

Studi tentang pentingnya kecukupan pakan (hijauan dan konsentrat) terhadap suksesnya suatu perkawinan (IB dan INKA) sudah banyak sekali dilaporkan. Kebanyakan dari laporan ini menyimpulkan bahwa estrus tidak akan terjadi pada kondisi kurang pakan atau estrus terjadi tetapi gagal bunting, atau bunting terjadi tetapi terjadi keguguran atau kebuntingan selamat sampai anak dilahirkan, tetapi anak lemah karena induk kurang nutrisi.
Metode paling mudah untuk mendeteksi kecukupan nutrisi dari seekor ternak adalah dengan memperhatikan skor kondisi tubuhnya. Skor kondisi tubuh ini erat kaitannya dengan penampilan reproduksi seekor ternak. Pada skala skor kondisi tubuh 1-9, dilaporkan skor kondisi tubuh ideal adalah sekitar skor 5-6 (atau 3 pada skala 1-5) yang dapat menampilkan selang estrus setelah beranak sekitar 52-59 hari. Bahkan persentase induk bunting pada skor kondisi tubuh ini dapat mencapai 93,8-95,6%. Dengan demikian, sapi beranak setiap setahun sekali dapat diharapkan.

Deteksi Kebuntingan Dini

Deteksi kebuntingan dini sangat diperlukan untuk mempertimbangkan pengeluaran betina-betina yang tidak produktif sehingga dapat menghemat biaya pemeliharaan baik pakan maupun tenaga, dapat meningkatkan ruangan kandang yang tersedia. Disamping itu, ternak betina yang tidak produktif dapat segera dijual ke RPH untuk mendapatkan dana tunai. Beberapa metode deteksi dini yang telah banyak dilakukan adalah:

  • Secara palpasi rektal setelah 35-45 hari perkawinan. Metode ini dilakukan oleh dokter hewan yang berpengalaman ataupun oleh ATR atau oleh Petugas PKb;
  • Menggunakan alat ultrasonograph (USG) sekitar 30 hari setelah perkawinan; dan
  • Menggunakan hormonal test sekitar 30 hari setelah perkawinan baik dari cairan darah maupun cairan urin.

Penanganan Gangguan Reproduksi

Gangguan reproduksi pada ternak dapat menyebabkan kegagalan reproduksi yang ditandai dengan kegalan dari betina tersebut untuk menghasilkan anak. Gangguan reproduksi pada sapi potong secara garis besar dapat disebabkan oleh beberapa hal diantaranya adalah kelainan anatomi saluran reproduksi, gangguan fungsional, kesalahan manajemen dan infeksi penyakit. Kementan melaporkan kegagalan program GBIB disebabkan oleh tingginya angka ganguan reproduksi. Dilaporkan bahwa 40% dari betina produktif di Indonesia mengalami gangguan reproduksi (Kementrian Pertanian 2017). Penanganan gangguan reproduksi secara dini sangat mendukung pengembangan usaha sapi potong melalui peningkatan reproduktivitas ternak yang akan berdampak pada pertambahan populasi. Dalam hal ini, peran dokter hewan, petugas PKb dan ATR sangat penting, karena penanganan secara dini setiap kasus gangguan reproduksi sangat menentukan keberhasilan program perkawinan, baik secara kawin alam maupun secara inseminasi buatan.

Penyelamatan Betina Bunting Dan Betina Produktif

Secara umum, apabila program pembuntingan sapi betina ini berhasil, untuk meningkatkan produksi daging masih dibutuhkan kegiatan lain yaitu penyelamatan betina bunting ini untuk sampai dapat melahirkan dengan selamat. Untuk itu, diperlukan petugas PKb dan/atau ATR yang handal yang dapat mengindentifikasi sapi bunting ataupun tidak bunting. Untuk sapi-sapi yang tidak bunting perlu segera dilakukan inseminasi ulang atau kalau memang terjadi gangguan reproduksi segera dilakukan penanganan sebagaimana mestinya. Untuk sapi-sapi yang bunting perlu dilaporkan kepada peternak/pemilik ternak agar dilakukan pemberian pakan sesuai dengan status kebuntingannya.
Hal yang cukup mencemaskan adalah pada saat peternak sangat membutuhkan uang tunai, padahal yang dia punya adalah sapi betina yang bunting hasil program Siwab, maka tidak ada pilihan lain selain menjual sapi buntingnya tersebut untuk kemudian dipotong. Untuk pengendalian pemotongan betina produktif pemerintah melalui Menteri Pertanian telah mengeluarkan peraturan tentang pengendalian pemotongan betina produktif (Kementrian Pertanian 2011). Studi penyelamatan betina produktif di beberapa provinsi menyimpulkan bahwa penyelamatan betina produktif ini dapat dilakukan melalui pembentukan perusahaan atau Badan Usaha Milik Daerah yang menjaring ternak-ternak betina yang masuk ke rumah potong hewan. (rep/ahm)

 

Sumber: Wartazoa Vol.27 Nomor 1 Tahun 2017

 

 

 

 

SISTEM INTEGRASI SAWIT-SAPI (SISASA)

Integrasi sawit-sapi merupakan program terobosan yang strategis, tertuang dalam Renstra Kementerian Pertanian 2015-2019
dalam upaya meningkatkan produksi daging di dalam negeri serta mewujudkan ketahanan pangan nasional

 

 

 

 

Galeri Foto Kegiatan

 

 

 

Layanan Elektronik ( e-Government )

 

International SeminarKP-HSTP

Pro-Tek RECISPPID