Bogor, 17-12-2017       English Version


Melalui metode PGC(primordial germ cell), ayam lokal bisa dilestarikan dalam bentuk sel yang dapat dikriopreservasi dalam jangka waktu lama dan bisa dihidupkan kembali

 Berdasarkan temuan arkeologi, Sungai Kuning di Henan China dan Lembah Indus di India sebagai pusat domestikasi ayam di dunia. Namun hasil kajian Pusat Penelitian Biologi - LIPI (Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia) bekerjasama dengan ILRI (The International Livestock ResearchInstitute) di 2005 dan 2006 melalui teknologi modern dengan pendekatan molekuler menunjukkan Indonesia pun menjadi salah satu pusat domestikasi ayam di dunia.

Di Indonesia terdapat sekitar 43 jenis ayam lokal yang secara ekonomi sangat potensial untuk dikembangkan. "Dari survei yang kami lakukan ternyata beberapa ayam lokal sudah hampir punah. Sebagai contoh ayam ciparage yang pernah menjadi maskot kota Karawang Jawa Barat serta ayam wareng di daerah Tangerang ternyata sudah tidak ada." Sesal Soni Sopiyana, Peneliti Muda Balai Penelitian Ternak (Balitnak) Ciawi kepada TROBOS Livestock.

Ahli fisiologi dan reproduksi ternak non ruminansia ini menyayangkan, sumber daya ayam lokal Indonesia terus dikeruk tanpa memperhatikan upaya pelestariannya. Beranjak dari hal itu, sejak 2007, Soni bersama Argono Rio Setioko dan Tatan Kostaman berinisiatif mengembangkan upaya pelestarian ayam lokal menggunakan metode PGC (primordial germ cell) atau sel yang berisi gen atau bakal kelamin/leluhur dari jantan dan betina yang belum berdiferensiasi. "Melalui PGCini, ayam lokal bisa dilestarikan dalam bentuk sel yang dapat dikriopreservasi di nitrogen (N2) cair dalam jangka waktu lama bahkan sampai ratusan tahun." jelas Soni.

Kriopreservasi adalah suatu proses penghentian untuk sementara kegiatan hidup dari sel tanpa mematikan fungsi sel dan proses hidup dapat berlanjut setelah pembekuan dihentikan. Pada spesies unggas tidak bisa mengkriopreservasi telur karena berukuran besar sehingga PGC menjadi alternatif untuk mempreservasi materi genetik jantan dan betina pada unggas."PGC yang dikonservasi atau disimpan ini sebagai bank gen ayam lokal yang dapat dihidupkan kembali sesuai keinginan misalnya di saat ayam lokal tersebut sudah punah," tandas Soni.

Tatan Kostaman menambahkan dengan metode konservasi ayam lokal melalui PGC ini menunjukkan fertilitas lebih tinggi dibandingkan menggunakan sperma. Kalau konservasi ayam lokal menggunakan sperma terbukti tidak efektif. "Di Balitnak sudah ada sekitar 10 jenis dari 43 jenis ayam lokal yang sudah dikonservasi melalui metode PGC seperti ayam ketawa, gaok, sentul, merawang, gaga, kedu hitam, pelung, KUB, dan sensi." Ungkap Peneliti Madya bidang fisiologi dan reproduksi ternak non ruminansia, Balitnak Ciawi ini.

Soni mengakui, di Indonesia metode ini baru untuk konservasi atau pelestarian. Tetapi di negara lain seperti Jepang dan Korea, metode PGC ini sudah dimainkan sedemikian rupa untuk tujuan tertentu seperti pembentukanhewan-hewan transgenik dalam rangka pengujian obat manusiake hewan.

TeknikKoleksi PGC

Terdapat 3 cara untuk mengisoIasi atau mengoleksi PGC yaitu dari  telur segar yang fertil atau tidak diinkubasi, lewat sirkulasi darah dari telur yang diinkubasi seIama3 hari, dan lewat gonad dari telur yang diinkubasi selama 5-6 hari. "Kami baru koleksi PGC melalui sirkulasi darah ini. Menerapkan 2 cara yaitu melalui sirkulasi darah.  dan gonad. Dari sirkulasi darah memang ada kelemahannya karena jumlah PGC yang didapat sedikit tetapi bisa mendapatkan PGC yang murni lebih mudah dan lebih tinggi. Sedangkan dari gonad jumlah PGC yang diperoleh lebih banyak tetapi agak sulit untuk pernurniannya." papar Tatan yang ahli dalam koleksi PGC melalui sirkulasi darah ini.

Sebagai gambaran ,jika akan mengoleksi PGC dari gonad misalnya untuk ayam lokal KUB maka prosesnya adalah telur fertil ayam KUB diinkubasi pada suhu 38oC dengan kelembapan 60% dan diputar 90oC setiap 30 menit menggunakan inkubator portabel.

Setelah telur mencapai stadium yang diinginkan, kerabang telur dipecahkan, embrio dipisahkan dari kuning telur dan dimasukkan ke dalam petri dish yang telah diisi larutan Phospat Buffered Salineatau PBS (-). Kegiatan pengambilan gonad dimulai dengan mengambil embrio dan ditempatkan di dalam charcoal plate yang telah diisi larutan PBS(-).  Bagian abdomen dan isinya dipisahkan dan gonad  diambil menggunakan tweezer (mencabut dengan penyepit) di bawah mikroskop.

Gonad hasil koleksi disimpan didalam tabung eppendorf 1.5 ml berisi 500 ul larutan PBS(-). Selanjutnya dilakukan pemurnian PGC-gonad menggunakan metode Nakajima et al. (2011). Tabung eppendorf yang berisi gonad ditempatkan di dalam inkubator pada suhu 37,80C selama satu jam. Gonad kemudian  dikeluarkan dan larutan disentrifugasi dengan kecepatan 1.250 rpm selama 6 menit. Supernatan dibuang (sisakan 50 ul), kemudian tambahkan 50 ul PBS (-) dicampurkan secara homogen dengan menggunakan pipet), dipindahkan ke petri dish untuk dievaluasijumlah PGc.  Sel-sel yang sudah dimurnikan kemudian diperiksa di bawah mikroskop. Selanjutnya PGC segar ini bisa langsung digunakan atau disimpan dalam N2 cair

Soni menjelaskan, jika PGC ayam KUB yang disimpan di N2 cair dan akan digunakan maka terlebih dahulu harus di thawing atau dicairkan agar hidup. kembali. Setelah itu, PGC ayam KUB sebagai donor disuntikan ke embrio telur ayam resipien sampai menetas. Biasanya sebagai ayam resipien menggunakan white leghorn karena memiliki bulu yang putih semua agar bisa dibedakan dengan ayam lokal yang bulunya warna-warni. "Ketika menetas, anak ayam yang muncul masih dalam bentuk ayam white leghornjantan atau betina yang disebut germline chimera. Padafase ini belum muncul ayam KUB-nya meskipun sebenarnya performanya ayam white leghorn tetapi selkelamin padajantan atau betina itu adalah ayam KUB. Setelahgermline chimerajantan dan betina ini dewasadan dikawinkan maka keturunan yang muncul adalah ayam KUB," urai pria yang ahli dalam mengoleksi PGCdari gonad ini.

Sinergi dan Kolaborasi

Ke depan, dari 43 jenis ayam lokal yang terancam punah harus segera di konservasi salah satunya dengan menggunakan metode PGC ini. "Korea saja yang hanya punya 1 jenis ayam lokal sudah fokus melakukannya apalagi kita yang memiliki banyak jenis ayam lokal.' tandas Soni yang mendalami ilmu koleksi PGC pada gonad di Seoul National University  Korea Selatan di 2015. la menyatakan, tidak mudah mempelajari metode PGC ini dan kini teknologinya sudah dikuasai sehingga harus termanfaatkan secara optimal. Apalagi baru Balitnak yang menerapkan dan mengembangkan teknologi ini. "Teknologi ini menjadi aset kita dan sebagai salah satu cara yang baik dan efisien untuk konservasi sumber daya genetik terutama ayam lokal saat ini. Kami terbuka untuk berkolaborasi misalnya dengan LIPI atau Kementerian Riset dan Teknologi dan Pendidikan Tinggi dalam mengembangkan teknologi ini.' tegasnya. Soni pun berencana ingin membuat hewan transgenik bekerjasama dengan ahli biologi molekuler agar yang ditransferkan betul-betul PGC ayam lokal. Selain itu, ke depan akan mengkonservasi itik-itik lokal yang ada di Indonesia. SedangkanTatan berharap bisa bekerjasama dan bersinergi dengan berbagai pihak dalam pengembangan metode PGC ini sehingga ayam lokal akan tetap ada. "Karni ingin bekerjasama dengan Balai Besar Biogen untuk menyimpan PGC ayam lokal karena memiliki bank gen yang besar dengan peralatan lebih lengkap," harap pria yang mendalami ilmu koleksi PGC pada sirkulasi darah di Jepang (2013) dan Korea selatan (2016) ini.

 

Sumber: TROBOS Livestock - EDISI 218/TAHUN XIX/Nopember 2017.

 

 

 

 

SISTEM INTEGRASI SAWIT-SAPI (SISASA)

Integrasi sawit-sapi merupakan program terobosan yang strategis, tertuang dalam Renstra Kementerian Pertanian 2015-2019
dalam upaya meningkatkan produksi daging di dalam negeri serta mewujudkan ketahanan pangan nasional

 

 

 

 

Galeri Foto Kegiatan

 

 

 

Layanan Elektronik ( e-Government )

 

International SeminarKP-HSTP

Pro-Tek RECISPPID