EnglishIndonesian

Telur Asin, Salah Satu Komoditas Produk Peternakan yang Sudah Diekspor

Kategori: Informasi Aktual Diunggah Pada: 18 November 2021.

Seminar berkala Pusat Penelitian dan Pengembangan Peternakan (Puslitbangnak) bulan November 2021 dilaksanakan pada tanggal 17 November 2021. Kegiatan ini dibuka oleh Koordinator KSPHP Puslitbangnak Dr. Andi Saenab yang dalam sambutannya menyampaikan ”Kita harus mendukung program Kementerian Pertanian. Salah satunya Gratieks (Gerakan Tiga Kali Lipat Ekspor)”. Harapannya dengan Seminar Berkala Bulan November 2021 agar peternak termotivasi dan semoga kegiatan ini bermanfaat bagi kita semua. Seminar dilaksankan secara on site dan on line melalui zoom.

Seminar bulan November menampilkan 2 narasumber yaitu Dr. Triana Susanti dengan judul paparan Pembibitan dan Budidaya Itik Petelur dan Rulli Lesmana dengan judul paparan Pengolahan dan Pemasaran Telur Asin.

Salah satu inovasi teknologi Puslitbangnak adalah Itik master Ternak ini menghasilkan telor dan dapat diolah menjadi telor asin. Telor asin adalah satu diantara sekian komoditas yang sudah diekspor.

Disampaikan oleh Fr. Triana Susanti bahwa telah dilakukan penelitian terkait itik di Balai Penelitian Ternak. Penelitian dilakukan dengan menyeleksi Rumpun Itik Mojosari yang menghasilkan Galur Mojomaster-1 Agrinak. Sedangkan penelitian yang menyeleksi Rumpun Itik Alabio menghasilkan itik Galur Alabimaster-1 Agrinak.

Kemudian itik Mojomaster-1 Agrinak jantan disilangkan/dikawinkan dengan Alabimaster-1 Agrinak betina menghasilkan Hibrida ‘Master’ (petelur unggul) dan menjadi Final stock/ Bibit Niaga.

Di peternak plasma Itik MASTER (Final Stock) umur 18-20 minggu mulai berproduksi/ bertelur. Puncak produksi produksi telur 93,7%. Rataan produksi telur 260 butir/tahun dengan rasio konversi pakan 3.29

Dengan memelihara itik ada 3 produk yang dihaslkan yaitu: telur itik, daging itik dan Day old duckling (DOD) atau anak itik. Ada 3 tahapan yang dilalui itik berdasarkan umur yaitu: Periode pertumbuhan starter (DOD – 2 bulan), Periode pertumbuhan grower (2 – 5 bulan) dan Periode produksi telur (5 – 24 bulan).

Telur dapat dibedakan menjadi telur konsumsi dan telur tetas. Telur konsumsi tidak memerlukan adanya itik jantan. Sedangkan telur tetas perlu adanya itik jantan dengan perbandingan 1 jantan dengan 4-5 itik betina, dalam kelompok yang tidak terlalu besar .

Untuk memperoleh anak itik (DOD) dengan jumlah yang banyak dalam waktu serentak dapat dilakukan melalui penetasan alami menggunakan induk ayam atau entog: telur yang dierami paling banyak 10 - 20 butir dan melalui penetasan buatan menggunakan mesin tetas/inkubator telur yang akan ditetaskan dapat lebih banyak sesuai kapasitas mesin, minimal 100 butir.

Beberapa penyakit penting yang sering terjadi pada itik yaitu: kolera, kelumpuhan, jamur aflatoksin, kanibal, flu burung dan hepatitis duck virus (HDV). Apabila itik sudah terjangkit penyait akan sulit diobati. Pencegahan melalui bio-security akan lebih baik daripada mengobati,

Narasumber kedua Rully Lesmana menyampaikan paparan dengan judul: Pengolahan dan Pemasaran Telur Asin. Telur asin adalah telur itik segar yang diawetkan mengandung nutrisi yang kaya seperti lemak, protein, berbagai asam amino, kalsium, fosfor, zat besi, berbagai elemen dan vitamin yang dibutuhkan oleh tubuh manusia dan mudah di serap oleh tubuh manusia. Penyajian telur asin itik bisa dengan direbus untuk langsung di konsumsi dan juga dapat digunakan sebagai bumbu yang lezat yang warna, aroma dan rasa yang cukup menarik.

Ada 8 SOP sanitasi pembuatan telor asin yaitu: Keamanan Air, Kondisi Kebersihan, Pencegahan Kontaminasi, Pemeliharaan Fasilitas Sanitasi, Pencegahan Pencemaran, Pelabelan Bahan Toksik, Kesehatan Karyawan Dan Pengendalian Hama.

Pembuatan telor asin sampai dengan jadi melalui 13 langkah yaitu: penerimaan telur, pencatatan data telur masuk, penyiapan bahan tambahan pangan, pencatatan bahan telur/candling, penyortiran dan grader telur, penyiapan pasta, pembalutan telur dengan pasta dan abu, pengemasan plastik dan boks karton, pelabelan boks, pemeriksaan telur dalam boks karton, penyusunan boks karton diatas palet, dan pencacatan produk akhir.

Dengan kapasitas produksi 50.000 butir telur per hari, telor asin produksi Rully Lesmana sudah dipasarkan di dalamdan luar negeri. Dalam negeri meliputi: Jakarta, Jawa Barat, Batam, Bangka Belitung, Sumatra Selatan, Kalimantan. Sedangkan pemasaran ke luar negeri meliputi: Singapura, Hongkong, Jepang, Malaysia, USA, Australia dan Uni Emirat Arab. Target pemasaran lainnya adalah Hotel/Restoran, Catering Industry dan Pasar Tradisional. (REP)

Bagikan Berita ini