EnglishIndonesian

Teknologi Pengolahan Telur, Daging Itik, serta Pengolahan Kotorannya

Kategori: Informasi Aktual Diunggah Pada: 22 April 2022.

Pusat Penelitian dan Pengembangan Peternakan (Puslitbangnak) melaksanakan Seminar Berkala Bulan April pada hari Kamis, 21 April 2022. Seminar dilaksanakan dalam upaya penyebarluasan informasi hasil kegiatan/penelitian sebagai akuntabilitas kinerja Puslitbangnak pada TA 2022. Kegiatan ini sudah menjadi agenda rutin Puslitbangnak. Seminar Berkala Bulan April dilakukan secara daring (online) melalui aplikasi Zoom dan diikuti oleh 284 peserta yang berasal dari akademisi, praktisi, birokrat, dan/atau masyarakat umum.

Seminar dibuka oleh Kepala Puslitbangnak, Dr. drh. Agus Susanto, yang dalam sambutannya menyampaikan bahwa melalui acara Seminar Berkala, Puslitbangnak memberikan kemanfaatan kepada kita semua. Seminar Berkala kali ini membahas tentang ternak itik. Itik merupakan ternak unggas yang berkembang biak dengan bertelur sehingga berkembang lebih cepat dibandingkan ruminansia. Kelebihan itik dibandingkan ternak lainnya adalah dapat memenuhi kebutuhan ekonomi kapan saja diperlukan dibanding ternak ruminansia, dapat menerima pakan seadanya dan tidak menyulitkan penyediaannya, serta tidak memerlukan sistem perkandangan dengan biaya mahal dan mudah pemeliharannya. Sementara, budidaya itik sering menimbulkan permasalahan, yaitu aroma bau yang tidak nyaman di masyarakat. Untuk itu dihadirkan narasumber dengan paparan tentang Bau Kotoran Itik: Dampak dan Cara Pengelolaannya dan Teknologi Penanganan dan Pengolahan Telur Dan Daging Itik.

Seminar Berkala Bulan April menghadirkan 2 narasumber: Poniman, S.P dengan judul paparan Bau Kotoran Itik: Dampak dan Cara Pengelolaannya; dan Maulida Hayuningtyas, S.TP. M.Si. dengan judul paparan Teknologi Penanganan dan Pengolahan Telur Dan Daging Itik. Poniman menyampaikan bahwa sumber bau pada sektor peternakan itik adalah IPAL (Instalasi Pengolahan Air Limbah) yang melepaskan gas berbau seperti NH3 dan H2S; sisa makanan yang mengandung protein tinggi yang tidak segera dibersihkan; sistem perkandangan yang tidak sehat (lembab, becek, basah); dan kotoran padat yang dibiarkan menumpuk tanpa dikelola. Dampak bau pada peternakan itik akan mengganggu estetika sehingga memunculkan protes warga sekitar, serta gangguan produktivitas ternak dan kesehatan manusia. Ada 5 teknologi teknologi yang dapat dijadikan pilihan pengelolaan limbah kotoran itik ramah lingkungan yaitu dengan: Maggot takaran 10 kg/t kotoran; Asap Cair takaran 6 L/t kotoran, mikroba Bacillus aryabhattai takaran 3 L/t kotoran, Tepung Enceng Gondok, 100 kg/t kotoran, dan Biochar takaran 10 kg/t kotoran, menunjukkan tingkat kabauan rendah, dan potensi GWP rendah.

Sedangkan narasumber kedua Maulida menyampaikan telur dan daging itik adalah sumber pangan hewani yang mengandung antioksidan, zinc, folat, dan kalsium. Penanganan telur itik segar setelah panen dimulai dengan pemisahan, sortasi, pencucian, pengeringan hingga siap untuk disimpan. Telur yang disimpan akan mengalami penyusutan. Jika disimpan suhu ruang, persentase susut bobot hingga hari ke-28 mengalami penyusutan hingga 7,9% dari bobot awal. Sedangkan telur yang disimpan di suhu AC selama penyimpanan mampu menahan terjadinya penyusutan bobot sebesar 6,9%. Telur ekstensifikasi (liar/angon) pada suhu AC akan mengalami penyusutan dengan menguapnya air dari dalam telur sebesar 7,1%.

Teknologi tepung telur itik dimulai dengan pengadukan mixer selama 15 menit hingga mengembang, lalu rendaman mencapai 27% tanpa tambahan bahan pengisi. Selanjutnya pengeringan menggunakan oven selama 6 jam. Teknologi tepung telur asin dimulai dengan memisahkan kuning telur, lalu dimasukkan dalam mesin evaporator selama 3-4 jam hingga mengkristal dan mengering. Kemudian ditambahkan bahan pengisi, diayak dan dikeringkan. Proses penanganan daging itik pencucian dan pembersihan karkas dilakukan dengan perendaman dengan air es atau air dingin. (REP)

Bagikan Berita ini