EnglishIndonesian

Teknologi Berbasis Molekuler Untuk Mengidentifikasi Marka Genetik Gen-Gen Kasein Susu

Kategori: Informasi Aktual Diunggah Pada: 29 Juli 2021.

Seminar Berkala adalah salah satu kegiatan rutin yang dilaksanakan setiap bulan oleh Puslitbangnak. Bulan ini, Juli 2021 dilaksanakan pada tanggal 28 Juli 2021. Sambutan Kapuslitbangnak disampaikan oleh Koordinator KSPHP Dr Andi Saenab, bahwa seminar adalah wadah diseminasi Puslitbangnak dalam menyebarkan inovasi teknologi hasil penelitian dan pengembangan peternakan. Semoga ilmu yang disampaikan narasumber bermanfaat bagi kita semua. Peserta silahkan manfaatkan waktu sebaik-baiknya berdiskusi dengan narasumber. Tetap semangat dan jaga kesehatan agar terhindar dari wabah Covid-19.

Narasumber dalam seminar bulan Juli adalah Dr. Santiananda Arta Asmarasari, SPt, MSi, peneliti di Balai Penelitian Ternak menyampaikan paparan dengan judul “Aplikasi Pemanfaatan Gen Kasein Susu Pada Program Pemuliaan Sapi Perah Friesian Holstein Berkadar Protein Susu Tinggi”. Kemudian dilanjutkan oleh Rijanto Hutasoit, SP., M.Sc peneliti di Loka Penelitian Kambing Potong dengan judul paparan “Identifikasi hama pada benih Indigofera zollingeriana dan pengendaliannya secara in vitro”.

Dr. Santi Ananda menyampaikan populasi sapi perah di Indonesia sebanyak 561.061 ekor yang menghasilkan produksi susu sebesar 997.35 ribu ton. Populasi sapi FH tersebar di Jatim (46%), Jabar (25.2%) dan Jateng 24.9%). Konsumsi susu adalah 16.23 kg/kapita/tahun. Secara nasional kebutuhan susu adalah 4.3 jjuta ton. Kebutuhan sebesar itu hanya dapat dipenuhi sebesar 22%. Sisanya dipenuhi dengan melalui impor.

Pendapatan usaha sapi perah sangat ditentukan oleh produksi susu dan kualitas susu (protein, lemak, SNF, TPC). GKSI menginformasikan bahwa IPS mulai membutuhkan susu segar berkadar protein tinggi sebagai bahan baku untuk diolah menjadi produk berkualitas. Susu berkadar protein tinggi dapat mendukung industri persusuan nasional (keju, milk designer untuk terapi kesehatan dan pangan sehat asal ternak.

Berbagai upaya dilakukan untuk meningkatkan jumlah produksi dan kualias susu. Upaya tersebut antara lain perbaikan genetik sapi FH. Selain diprioritaskan untuk meningkatkan jumlah produksi susu, perlu juga dilakukan seleksi terhadap sifat protein susu. Seleksi dengan keunggulan kadar protein susu ini sangat mungkin dilakukan karena protein susu dikontrol oleh gen major.

Manfaat yang diharapkan dari penelitian ini adalah menghasilkan paket teknologi berbasis molekuler untuk mengidentifikasi marka genetik gen-gen kasein susu (CSN1S1, CSN2, CSN1S2, dan CSN3) pada sapi FH sebagai salah satu upaya dalam menentukan strategi pemuliaan sapi SH

Hasil penelitian menunjukkan bahwa kandungan protein susu dipengaruhi oleh varian genetik gen c.192G>A gen CSN1S1 dan c.67A>C gen CSN2. Genotipe AA dari SNP dan c.67A>C gen CSN2 menghasilkan kadar protein susu tertinggi. Geneotipe AA dari gen c.192G>A gen CSN1S1 dan c.67A>C gen CSN2 dapat dijadikan sebagai penciri genetik untuk dijadikan dasar dalam proses seleksi untuk menghasilkan bibit sapi perah FH yang dapat menghasilkan kadar protein susu tinggi.

Narasumber kedua Rijanto Hutasoit, SP., M.Sc menyampaikan Indigofera zollingeriana merupakan tanaman pakan yang memiliki kandungan nutrisi tinggi, dapat menunjang produktivitas ternak ruminansia. Namun kualitas benih yang rendah menjadi kendala dalam perkembangannya, karena adanya hama pada benih mengakibatkan benih rusak dan busuk.

Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi jenis-jenis hama pada benih Indigofera, dan mengevaluasi pengaruh beberapa jenis pestisida (kimia dan hayati). Identifikasi hama dilakukan dengan membuat perangkap hama. Kemudian diidentifikasi di laboratorium zoologi LIPI Bogor. Penelitian pengendalian hama dilakukan secara in vitro di Laboratorium Loka kenelitian kambing potong.

Penelitian menggunakan empat perlakuan pengendalian hama yaitu : kimiawi (bahan aktif Deltametrin); hayati (jamur Beauvaria bassiana), hayati (jamur Metarizium anisopliae), dan air (kontrol). Hama dimasukkan ke dalam toples (tiga ekor/toples). Penelitian dilakukan lima kali ulangan. Kematian hama diamati selama lima hari.

Hasil penelitian menunjukkan bahwa identifikasi hama yang menyerang benih Indigofera adalah: Nezara viridula, Halyomorpha nr halys, Tineidae sp. Hasil pengendalian hama menunjukkan bahwa penggunaan insektisida kimia memperoleh jumlah kematian tertinggi (91,67-100%) pada hari pertama pengamatan, berbeda nyata dengan ketiga jenis perlakuan lainnya. Sedangkan perlakuan secara hayati >50% dimulai pada hari ketiga dan terus meningkat hingga 100% pada hari kelima.

Disimpulkan bahwa pengendalian hama secara kimia lebih efektif dari pada tiga perlakuan lainnya. Pengendalian hama secara hayati menggunakan jamur Beauveria bassiana lebih efektif dibandingkan dengan Metarizium anisopliae. (REP)

Bagikan Berita ini