EnglishIndonesian

Survey ke P4S Karya Baru Mandiri

Kategori: Informasi Aktual Diunggah Pada: 15 Februari 2017.

Peneliti Pusat Penelitian dan Pengembangan Peternakan (Puslitbangnak) Priyono  dan M. Ikhsan Shiddieqy serta Bambang Haryanto (Peneliti BPTP Kalimantan Tengah) telah melaksanakan survey ke Pusat Pelatihan Pertanian dan Pedesaan Swadaya (P4S) Karya Baru Mandiri terletak di Desa Kubu, Kecamatan Kumai, Kabupaten Kotawaringin Barat Provinsi Kalimantan Tengah (8/2/2017). P4S mulai usaha pertanian sejak 2003 (tanaman pangan dan hortikultura). Sedangkan usaha peternakan dimulai tahun 2009 melalui penerimaan sapi bantuan dari Dinas Pertanian dan Peternakan Kab. Kotawaringin Barat sebanyak 63 ekor yang terdiri dari 56 ekor betina dan 7 ekor pejantan. Seiring dengan berkembangnya waktu, populasi terakhir sebanyak 150 ekor yang tersebar di 28 orang anggota dan di lokasi kawasan P4S Karya Baru Mandiri. Bangsa/rumpun sapi yang dipelihara adalah Sapi Bali.

Kegiatan utama yang dilaksanakan adalah pengembangbiakan/pembibitan dengan sistem penggembalaan. Bentuk badan hukum usahanya adalah koperasi melalui surat izin usaha dari pemerintah daerah setempat. Saat ini, jumlah karyawan 30 orang (5 orang karyawan tetap dan 25 karyawan lepas). Kegiatan ini didukung oleh aset berupa kebun sawit seluas 15 hektar, kebun hijauan pakan ternak (Taiwan grass) seluas 2 hektar, perkantoran 50 m2, dan perkandangan 130 m2, selain itu ada pula area untuk budidaya hortikultura seluas 2 hektar.

Struktur populasi sapi potong yang ada saat ini terdiri dari sapi dewasa 116 ekor (6 jantan dan 110 betina), sapi muda 20 ekor (10 jantan dan 10 betina), anak 7 ekor. Calving interval selama 15 bulan dengan rata-rata kelahiran 88 ekor/tahun (jantan dan betina). Pada bulan tertentu dilakukan penjualan sapi jantan dengan harga Rp. 10-12 juta/ekor untuk umur 2 tahun.

Pakan hijauan terdiri dari pelepah dan daun sawit, serta rumput unggul Taiwan grass. Sebagian besar kebutuhan hijauan sapi diperoleh dari padang penggembalaan dengan jumlah 15-25 kg/ekor/hari. Penggembalaan dilaksanakan pukul 09.00-17.00. Jika ketersediaan rumput dirasa kurang, maka akan ditambahkan Taiwan grass ketika sapi sudah masuk kandang setelah pukul 17.00. Pemberian hijauan tambahan terutama diberikan kepada sapi yang sedang bunting tua dan menyusui.

Selain dari rumput penggembalaan, kebutuhan serat juga diperoleh dari pelepah dan daun sawit. Pelepah dan daun sawit dibuat dalam bentuk complete feed yang terdiri dari pelepah dan daun sawit, bungkil inti sawit, solid, tetes, garam dan probiotik. Sebanyak 40% dari complete feed tersebut adalah pelepah dan daun sawit. Bungkil dan solid diperoleh dengan membeli dari perusahaan dari uang penjualan pupuk dan urin sapi yang telah diolah dengan harga jual Rp. 20.000/liter.

Selain memproduksi complete feed untuk kebutuhan sendiri, P4S Karya Baru Mandiri juga menjual complete feed dengan harga jual Rp 1.300/kg. Kapasitas produksi complete feed  700 kg dalam satu pekan. Complete feed dibuat dalam bentuk fermentasi yang disimpan dalam tong dengan kondisi anaerob. Complete feed diberikan sebelum sapi digembalakan 0,5 kg/ekor/hari dan setelah penggembalaan sebanyak 2 kg/ekor/hari. Saat produksi rumput penggembalaan berkurang atau pada musim kemarau, pemberian complete feed mencapai 3-3,5 kg/ekor/hari. Palatabilitas complete feed cukup tinggi.

Pelepah dan daun sawit dicacah dengan mesin pencacah yang dimodifikasi khusus oleh pengelola P4S Karya Baru Mandiri melalui kerja sama dengan Dinas Pertanian dan Peternakan Kab. Kotawaringin Barat. Mesin tersebut sudah diproduksi dan disebar ke beberapa wilayah untuk dimanfaatkan sebagai mesin pencacah pelepah dan daun sawit. Mesin tersebut dapat menghancurkan bahan pelepah sawit yang keras dengan hasil yang halus.

Kebutuhan hijauan tersedia kontinyu sepanjang tahun. Pada saat musim kemarau, penggunaan rumput unggul dan penggembalaan akan di substitusi dengan pelepah dan daun sawit. Untuk menjamin ketersediaan hijauan sepanjang tahun, dilakukan rotasi penggembalaan sebanyak satu minggu sekali. Satu blok penggembalaan seluas 2-3 hektar dengan dikelilingi electric fence bertenaga accu.

Pemberian legum sudah mulai dilakukan, namun jumlah pemberian bersifat tidak rutin dan masih terbatas. Sumber legum berasal tanaman di kebun rumput, tapi saat ini belum ada area khusus untuk penanaman legum. Jenis legum yang sudah diberikan adalah Turi. Saat ini sedang dilakukan pengembangan Indigofera dengan benih yang diperoleh dari Puslitbangnak. Pengembangan Indigofera saat ini sudah dalam tahap persemaian pada polybag, dalam waktu dekat akan dipindahkan ke lahan. Rencana pengembangan usaha ke depan adalah pengembangan rumput budidaya dan Indigofera.  (REP)

Bagikan Berita ini