EnglishIndonesian

Seminar Berkala bulan Maret 2021

Kategori: Informasi Aktual Diunggah Pada: 17 Maret 2021.

Pusat Penelitian dan Pengembangan Peternakan kembali menggelar Seminar berkala pada tanggal 17 Maret 2021 di Bogor. Ini merupakan seminar kedua di tahun 2021 dan diselenggarakan secara on luring di Aula Puslitbangnak dengan kapasitas terbatas dan menerapkan protokol kesehatan serta secara daring menggunakan aplikasi Zoom. Seminar diikuti oleh 25 peserta on site dan 200 lebih lewat zoom.

Seminar dibuka oleh Kepala Puslitbangnak Dr. drh. Agus Susanto, M.Si. yang dalam sambutannya menyampaikan bahwa Seminar ini adalah pembelajaran bagi kita semua. Karena sains dengan teknologi itulah sebuah peradaban. Masyarakat akan mengalami kemajuan ditengah - tengah persaingan era global ini. Kita harus memiliki pekerjaan yang efesien dan efektif tentu harus didukung oleh teknologi.

Selain itu beliau juga menyampaikan “Harapannya dengan adanya seminar berkala ini dapat terjalin komunikasi, aliran informasi. Tentu saja diharapkan adanya respon dari para peserta sehingga akan timbulah pengertian dan pemahaman yang akan memacu inspirasi sehingga menimbulkan aksi-aksi berikutnya.

Dr. Elizabeth Wina, peneliti di Balai Penelitian ternak menyampaikan paparan dengan judul: Zink Metionin, Produk Balitnak Dan Pemanfaatannya Untuk Ternak Ruminansia. Disampaikan bahwa pakan adalah faktor utama yang menentukan performa produksi dan reproduksi ternak. Pakan, mengandung protein dan karbohidrat, serat dll. Selain itu juga ada mineral dan vitamin yang sering kurang mendapat perhatian oleh peternak. Ada 2 macam mineral yaitu makro dan mikro. Ca, P, Mg, Na, K termasuk dalam kelompok mineral makro. Sedangkan Fe (iron/besi), Mn (Mangan), Zn (Zinc/Seng), Se (Selenium), Cu (Copper/tembaga), Co (Cobalt), Cr (Chromium) termasuk dalam mineral kelompok mikro.

Fungsi mineral mikro dalam tubuh adalah: Meningkatkan fertilitas (Zn, Mn, Cu), Pertumbuhan janin (Zn, Mn, Cu), Ketahanan thd penyakit (Zn, Mn, Cu), Integritas kuku dan kulit (Zn, Mn, Cu), Sistim saraf (Cu), Pelapis bulu (Cu, Zn), Meningkatkan nafsu makan (Zn, Co), Pembentukan tulang (Mn, Cu), , Meningkatkan Produksi susu (Zn), Pembentukan otot (Zn)

Dari penelitian ini dapat disimpulkan bahwa: Teknologi pembuatan mineral organik (Zn-metionin) dapat diperoleh, Kelarutan rendah dalam rumen dan bentuknya dapat dibuat “nano”, Penambahan Zn-organik (Zn-metionin) meningkatkan fermentasi rumen dengan total gas yang lebih tinggi (17.7%), Penambahan Zn metionin lebih baik dibandingkan dengan Zn anorganik atau campurannya terhadap nilai kecernaan in vitro, Kalem + Zinc organik meningkatkan produksi susu, volume dan antioksidan sperma sapi pejantan dan meningkatkan PBBH anak jantan.

Narasumber kedua Mozart Nuzul Aprilliza AM, M.Si, peneliti di Loka Penelitian sapi Potong menyampaikan paparan dengan judul Program Diseminasi Sapi Bibit Unggul untuk Meningkatkan Populasi Sapi Potong Lokal dan Nilai Ekonomi Usaha Ternak.

Loka Penelitian Sapi Potong adalah UPT Puslitbangnak yang tusinya adalah melaksanakan penelitian. Salah satu inovasi yang dihasilkan Lolit Sapi adalah sapi Pogasi. Sapi Pogasi Agrinak, adalah galur unggul baru hasil program seleksi dan pengaturan perkawinan dalam rumpun Sapi Peranakan Ongole (PO), serta inovasi teknologi budidaya model Lolitsapi.

Keunggulan sapi Pogasi adalah: mampu beradaptasi terhadap perbedaan kondisi agroekosistem, mampu dibudidayakan di daerah marjinal dan terintegrasi dengan usaha pertanian, serta produktivitas lebih tinggi daripada rumpun asalnya, Sapi Peranakan Ongole yang ada di Indonesia jarak beranaknya: 13 bulan dengan bobot lahir: 31,1 kg. Pada umur 7 bulan bobot sapi sebesar: 113 -115 kg. Sedeangkan pertambahan bobot badan harian sapi jantan umur 2 tahun sebesar 0,8-1,0 kg dengan berat karkas 50,9% dan konsumsi pakan lebih efisien.

Selain Sapi Pogasi Inovasi teknologi budidaya model Lolitsapi adalah Kandang Model Litbangtan. Adapun keistimewaan nya adalah adanya Bank Pakan, Ternak dilepas di kandang kelompok, jantan dan betina dicampur sehingga terjadi kawin alam dan pembersihan feses tidak perlu dilakukan setiap hari sehingga terjadi dekomposisi secara alami. (REP)

Bagikan Berita ini