EnglishIndonesian

Puslitbangnak Siapkan Strategi Penyediaan Ayam KUB dan Teknologi Produksi Pakan

Kategori: Informasi Aktual Diunggah Pada: 02 September 2022.

Pusat Penelitian dan Pengembangan Peternakan (Puslitbangnak) kembali melaksanakan Seminar Berkala pada tanggal 31 Agustus 2022. Seminar dibuka oleh Kepala Puslitbangnak Dr. Agus Susanto M.Si, yang dalam sambutannya  menyampaikan seminar kali ini mengangkat topik strategi pengembangan ayam KUB dan penggunaan teknologi pakan. Harapannya dalam seminar ini terjadi interaksi komunikasi dua arah antara peserta dan narasumber.

“Kita harus mampu menggunakan sumber daya lokal dan menggunakan teknologi pakan sehingga kita bisa mandiri dalam penyediaan daging ayam khususnya ayam kampung” tegas Kapuslitbangnak

Narasumber seminar kali ini adalah Prof. Atien Priyanti dengan judul paparan “Pengembangan Ayam KUB melalui Penguatan Model Pembibitan 3 Strata” dan Prof. Dr. Arnold P. Sinurat dengan judul paparan “Enzim Pemecah Serat (BS4): Teknologi Produksi dan Khasiatnya sebagai Imbuhan Pakan Unggas”

Prof. Atien Priyanti menyampaikan bahwa  sampai saat ini Balitbangtan sudah melepas 6 ayam ayam lokal yakni ayam KUB, ayam Sensi-1 Agrinak Bulu Abu, ayam Sensi-1 Agrinak Bulu Pucak Putih, ayam GaoSi-1 Agrinak, Ayam KUB Janaka Agrinak, dan Ayam KUB Narayana Agrinak.

Ayam Kampung Unggul Balitbangtan (KUB) sudah hadir diseluruh negeri. Ketersediaan bibit bermutu masih terbatas serta produksi daging dan telur masih rendah akibat rendahnya mutu bibit, disamping sistem pemeliharaan yang kurang baik. Untuk itu siperlukan pembentukan galur unggul ayam lokal secara nasional

Pembibitan Ayam Lokal Unggul dilaksanakan dalam 3 Strata yaitu Strata -1, Pembibitan di Balitnak/BPTP; Strata -2, Pembibitan/ pengembangan di Tingkat Peternak (Inti-Plasma) dan Strata -3, Pengembangan di Tingkat Rumah Tangga

Pengembangan model pembibitan ayam KUB yaitu Model penghasil bibit unggul Ayam KUB mulai diinisiasi pada tahun 2017 dengan 3 model dan dilakukan secara bertahap sampai dengan tahun 2019

Ssuai dengan arahan Menteri Pertanian terkait pengembangan usaha dapat dilakukan melalui mekanisme pembiayaan. KUR. Aksesibilitas pembiayaan perbankan menuntut kelayakan usaha secara ekonomi. Kendala yang dihadapi dalam pengembangan usaha peternakan pada umumnya karena masih  dilakukan parsial dan inefisien. Untuk menjawab kendala itu penting adanya model pengembangan usaha terintegrasi dari hulu sampai hilir dan dilaksanakan secara berkelompok

Prof. Arnold P. SInurat dalam paparannya menyampaikan pakan merupakan tantangan terbesar Industri Peternakan di Indonesia dan dengan adanya bioteknologi akan menjadi  salah satu solusi untuk memenuhi kebutuhan pakan.

Bioteknologi adalah teknologi pemanfaatan organisme hidup untuk menghasilkan suatu produk baru atau mengembangkan produk yang sudah ada agar lebih unggul. Beberapa aspek bioteknologi yang berhubungan dengan pakan adalah meningkatkan produktivitas bahan pakan (dengan rekayasa genetik); peningkatan kandungan gizi bahan pakan/pakan dan produksi bahan pakan berkualitas tinggi dan imbuhan pakan.

Keuntungan penggunaan enzim non starch polysaccharide (NSP) secara umum adalah meningkatkan metabolisme energy (ME), kecernaan lemak, kecernaan protein, kualitas litter, status kesehatan ternak, dan dapat menggunakan bahan pakan yg mengandung antinutrisi (serat) lebih banyak dengan menghasilkan harga pakan murah.

Pemanfaatan enzim dapat meningkatkan ketersediaan /kecernaan zat gizi pakan . Teknologi produksi enzim Pemecah Serat (BS4) sudah dikembangkan di Balitnak, namun perlu ada  kerjasama untuk produksi secara komersil/ industri. Pengujian di peternak broiler maupun layer komersil menunjukkan bahwa khasiat enzim BS4 tidak berbeda dengan khasiat enzim komersil (impor) yang beredar (REP)

Bagikan Berita ini