EnglishIndonesian

Prof. Dr. Ismeth Inounu, Sang Inovator Domba Komposit Garut

Kategori: Informasi Aktual Diunggah Pada: 30 Agustus 2016.

Ismeth Inounu dilahirkan di Bandung, Jawa Barat pada 1 Januari 1955, anak ketiga dari 8 bersaudara dari pasangan Bapak H. Ismu Azhar Tk Johansyah (Alm) dan Ibu Hj. B. Zubaedah (Almh).

Lulus S1 di Fakultas Peternakan Universitas Padjajaran Bandung pada tahun 1980, dengan beasiswa dari Departemen Pendidikan dan Kebudayaan. Tahun 1991 lulus S2 dari program Pascasarjana IPB dan pada tahun 1996 lulus S3 dari program Pascasarjana IPB pada bidang ilmu ternak. Pencapaian gelar pendidikan S2 dan S3 tersebut mendapat dukungan biaya dari Small Ruminant-Collaborative Research Support Program (SR-CRSP), University of California Davis, USA.

Jenjang fungsional peneliti dimulai dari Ajun Muda pada tahun 1987, Ajun Peneliti Madya 1990; Peneliti Muda tahun 1994, Peneliti Madya tahun 1998; Ahli Peneliti Muda tahun 2002; Peneliti Utama tahun 2005 dan Ahli Peneliti Utama tahun 2009, serta gelar Profesor Riset bidang Pemuliaan dan Genetika Ternak yang diperoleh pada tahun 2010.

Salah satu penelitian yang dilakukan beliau adalah pembentukkan galur Domba Komposit Garut. Domba Garut sejatinya juga bukan domba asli Indonesia. Jenis ini merupakan hasil persilangan dari domba lokal priangan, domba Merino, dan domba Ekor Gemuk. Percampuran ini membuahkan hasil Domba Garut yang adaptif terhadap iklim di Jawa Barat, khususnya di daerah Priangan (Garut, Tasikmalaya, Sumedang, dan Bandung).

Domba Garut memiliki banyak keunggulan diantaranya dapat beranak sepanjang tahun dan dapat beranak 8 bulan sekali. Dengan demikian bila jumlah per kelahiran satu anak, dalam 2 tahun induk domba dapat menghasilkan 3 ekor anak.

Tetapi ternak ini memiliki kerangka tubuh kecil, sehingga bobot badan anak yang dilahirkan rendah. Selain itu, produksi susu induk juga rendah. Ini menjadi masalah bagi Domba Garut yang bersifat prolifik (melahirkan lebih dari satu ekor anak per kelahiran) dan berakibat laju pertumbuhan anak rendah bahkan menyebabkan kematian.

Dimulai 1995, beliau adalah peneliti yang melakukan pengkreasian jenis domba garut dengan tujuan meningkatkan produktivitasnya. Sebanyak 34 ekor Domba Garut betina (GG) dikawinkan dengan domba pejantan St. Croix (HH) yang mana sebanyak 10 ekor diimpor dari Virgin Island, Amerika Serikat. “Karakteristik St. Croix memiliki kerangka tubuh yang besar dan bulu tipis, sehingga cocok hidup di Indonesia yang beriklim tropis.” Dari persilangan dua bangsa itu terbentuk domba HG (50 % St. Croix : 50 % Garut).

Kemudian di 1996, dilakukan persilangan antara Domba Garut betina (GG) dengan domba jantan Moulton Charollais (MM), asal Perancis. Bangsa domba ini dipilih karena memiliki daya tumbuh tinggi, sifat keindukan bagus, serta produksi susu tinggi.

Setelah dilakukan seleksi berdasarkan bobot sapih dan bobot umur setahun, domba MG dan HG kemudian dikawinkan pada 1997. Hasilnya di 1998 didapat domba persilangan tiga bangsa atau komposit HMG (50 % Garut : 25 % Moulton Charollais : 25 % St. Croix) yang merupakan hasil perkawinan pejantan HG dan betina MG. Sementara komposit MHG (50 % Garut : 25 % Moulton Charollais : 25 % St. Croix) merupakan hasil persilangan pejantan MG dengan betina HG.

Kemudian penamaaan Domba Komposit Garut menurut beliau karena domba ini merupakan hasil persilangan 3 bangsa domba dari beberapa negara. Penyebutan ‘komposit’ digunakan karena merupakan hasil merakit dari beberapa sumber genetik. “Domba garut lokal, domba Moulton Charollais, dan domba St. Croix.”

Keunggulan Domba Komposit Garut ini antara lain mampu beradaptasi pada lingkungan tropis, dapat beranak sepanjang tahun, mempunyai laju pertumbuhan tinggi dan jumlah anak sekelahiran yang tidak berbeda dengan domba lokal sekitar dua ekor per kelahiran.

Beberapa penghargaan yang pernah diperoleh adalah sebagai peneliti berprestasi dari Kepala Badan Litbang Pertanian tahun 1997; sebagai peneliti berprestasi dari Menteri Pertanian RI tahun 1998. Mendapat penghargaan dari presiden Republik Indonesia berupa Satya Lencana Wira Karya tahun 2001 dan Satya Lencana Karya Satya XX tahun 2006. Saat ini beliau bertugas sebagai anggota Tim Ahli Badan Litbang Pertanian dan juga menjadi Ketua Dewan Redaksi Jurnal Ilmu Ternak dan Veteriner, disamping tugasnya menjadi anggota Kelompok Penelitian Analisis Kebijakan. (AHM)

 

Berita terkait:

 

Bagikan Berita ini