EnglishIndonesian

Performans Sapi Madura Jantan yang Digemukkan Menggunakan Suplemen Asal Hasil Samping Pengolahan Tetes Tebu

Kategori: Informasi Aktual Diunggah Pada: 28 Juni 2021.

Seminar berkala bulan Juni telah dilaksanakan pada tanggal 23 Juni 2021 di kantor Pusat Penelitian dan Pengembangan Peternakan (Puslitbangnak). Seminar diselenggarakan secara on luring dengan kapasitas terbatas dan menerapkan protokol kesehatan (prokes) serta secara daring menggunakan aplikasi Zoom.

Seminar dibuka oleh Koordinator KSPHP Puslitbangnak Dr. Andi Saenab. Sambutan Kapuslitbangnak yang disampaikan oleh Koordinator KSPHP, agar peserta memanfaatkan kegiatan ini dengan baik. Seminar merupakan wadah diseminasi inovasi teknologi Puslitbangnak.

Selain itu disampaikan juga bahwa Puslitbangnak akan melaksanakan Bimbingan Teknis (Bimtek) budidaya ternak yang akan dilaksanakan secara on line. Bimtek dapat diikut oleh peternak, dosen. mahasiswa dan penyuluh. Peserta dapat mendaftar melalui link konfirmasi yang akan di share dengan mencantumkan nama dan no KTP. Peserta akan mendapat sertifikat. Adapun materi Bimtek meliputi inovasi teknologi Puslitbangnak. Antara lain Ayam KUB, Domba kompas Agrinak, Sapi Pogasi dll.

Narasumber seminar bulan Juni adalah 2021 adalah Noor Hudhia Krishna menyampaikan paparan dengan judul “ Level Optimal Penggunaan “Organik Protein” (OP) pada Ransum Penggemukan Sapi Potong”.

Disampaikan bahwa penelitian ini dilaksanakan oleh peneliti Loka Penelitian Sapi Potong Noor Hudhia Krishna, S.Pt., M.Si., Ir. Mariyono, M.Si., Dr. Ir. Dicky Pamungkas, M.Sc., drh. Dicky M. Dikman, M.Phil, Mozart Nuzul Aprilliza, M.Si., Jauhari Effendy, S.Pt., M.Si., Ach. Husni Mubtadi’in, A.Md.. Penelitian ini bertujuan untuk menentukan level optimal penggunaan OP pada ransum penggemukan sapi potong.

Penelitian ini melibatkan 24 ekor sapi Madura jantan berumur 2-3 tahun dengan berat badan 300-400 kg. Sapi ditempatkan acak dalam 4 kelompok perlakuan pakan (6 ekor ulangan). Ditempatkan pada kandang individu dilengkapi tempat pakan dan minum diberikan secara ad libitum terkontrol.

Penelitian ini dilaksanakan dengan membandingkan 4 perlakuan pakan yaitu: A [Hijauan + (Pakan Penguat + OP 0%)], B [Hijauan + (Pakan Penguat + OP 4%)], C [Hijauan + (Pakan Penguat + OP 8%)] dan D [Hijauan + (Pakan Penguat + OP 12%)]. Hijauan menggunakan rumput gajah sedangkan pakan penguat terdiri atas wheat pollard, bungkil inti sawit, bungkil kopra, corn gluten fibre (CGF), tepung gaplek, dedak padi, kapur dan garam dapur.

Parameter yang diamati adalah dinamika temperature dan kelembaban lingkungan, karakteristik pertumbuhan, pertambahan berat badan harian dan konsumsi dan konversi pakan.

Hasil penelitian menunjukkan bahwa pertambahan berat badan sapi tertinggi pada perlakuan ransum C sebesar 874 (g/ekor/hari), berturut turut diikuti oleh perlakuan ransum B sebesar 682(g/ekor/hari), D sebesar 593 (g/ekor/hari) dan ransum A yang tanpa menggunakan OP (444 g/ekor/hari). Disimpulkan bahwa pertmbahan berat badan tertinggi ditunjukkan pada model pakan dengan komposisi sebagaimana ransum C.

Narasumber kedua adalah Dr.Andi Tarigan.SPt.MSi, menyampaikan paparan dengan judul “Teknologi Processing Pakan Di Loka Penelitian Kambing Potong”. Beliau adalah peneliti di Loka Penelitian Kambing Potong. Disampaikan bahwa pakan merupakan salah satu komponen input yang sangat menentukan keberhasilan usaha peternakan secara finansial (70- 75%).

Teknologi processing pakan dimulai dengan strategi pengolahan pakan lokal yang didukung oleh perluasan penanaman hijauan pakan ternak (HPT) unggul dan penyusunan ransum kombinasi ketersediaan dan kualitas nutrisi.

Tujuan teknologi processing pakan antara lain adalah menghasilkan campuran pakan homogen (feed mix, pellet), peningkatan nilai kecernaan/penyerapan (efisiensi pakan), peningkatan konsumsi dan mengurangi efek anti nutrisi.

Salah satu limbah perkebunan kelapa sawit, adalah pelepah sawit. Proses dimulai dengan pemanenan pelepah sawit. Kemudian dengan teknologi processing menggunakan chopper blender menghasilkan pelepah sawit menjadi dalam bentuk abon pelepah sawit.

Indigofera adalah salah satu legume pakan ternak. Ada 700 spesies indigofera. Tanaman ini, tahan kekeringan, salinitas maupun genangan. Produksinya mencapai 33 - 51 Ton/ha/tahun BK. Kandungan nutrisinya PK 25 - 31%BK, SK13-14%BK. Kecernaan in vitro BK 71-86 %.

Dengan teknologi pakan komplit berbasis limbah perkebunan diberikan pakan berdasarkan beberapa fase produksi dan reproduksi. Pada fase bunting dan laktasi dengan Kandungan Protein Kasar 15% dan Konsumsi 1,2 kg/ekor/hari. Sedangkan pada Pakan Pejantan Kandungan Protein Kasar 14% dengan konsumsi 0,8 kg/ekor/hari. Pada fase lepas sapih diberikan pakan dengan kandungan Protein Kasar 15% dan konsumsi 0,6 kg/ekor/hari. Petambahan bobot badan harian (PBBH) adalah 130-150 gram/ekor/hari.

Seminar Berkala Puslitbangnak bulan Juni 2021 diikuti oleh 181 peserta yang berasal dari lingkup Puslitbangnak (Balai Besar penelitian Veteriner, Balai Penelitian Ternak, Loka Penelitian Sapi Potong dan Loka Penelitian Kambing Potong), Ditjen PKH, , BPTU HPT Indrapuri, BPTU-HPT Pelaihari, BPTP Sulawesi Tenggara, BPTP Banten, Majalah TROBOS Livestock, Universitas Brawijaya, BPMSP, BPP Sukajaya Kota Sabang, Dinas Pertanian Kab. Indramayu, Dinas Perikanan dan Peternakan Kab. Bogor, Dinas Pertanian Pangan Kelautan dan Perikanan Kab. Purworejo, Universitas Sembilanbelas November Kolaka, Fakultas Peternakan, Universitas Udayana, Fapet Unipa, Politeknik Pertanian , egeri Payakumbuh, Universitas Islam Kadiri, Fakultas Peternakan Universitas Brawijaya, Universitas Muhammadiyah Malang, DKPP Kota Bogor, Dinas Pertanian dan Pangan Kab. Kayong Utara, Dinas Pertanian dan Pangan Kabupaten Jembrana, Dinas Pertanian kab. Luwu utara, Dinas Peternakan dan Kesehatan Hewan Kabupaten Donggala, Dinas Pertanian dan Pangan Kab.Demak , Tunggak Semi Farm dll. (REP)

Bagikan Berita ini