EnglishIndonesian

Pengusulan nilai faktor emisi gas rumah kaca sektor peternakan Indonesia pada 13thExpert Meeting on Data (AFOLU Sector) for the IPCC Emission Factor Database (EFDB)”

Kategori: Informasi Aktual Diunggah Pada: 19 Januari 2017.

13thExpert Meeting on Data (AFOLU Sector) for the IPCC Emission Factor Database (EFDB)”.

Peternakan merupakan salah satu komoditas yang mengemisikan gas rumah kaca. Gas rumah kaca yang dihasilkan dari peternakan adalah gas metana yang dikeluarkan dari proses pencernaan dalam rumen dan proses pengelolaan kotoran ternak,  dan gas N2O yang dihasilkan saat pengelolaan kotoran ternak. Semua ternak menghasilkan  gas rumah kaca, dengan persentase yang berbeda.

Penghitungan emisi gas rumah kaca dari peternakan sampai saat ini masih menggunakan metode Tier-1 IPCC 2006. Pada metode ini data yang digunakan untuk penghitungan adalah populasi ternak dan nilai faktor emisi. Data populasi ternak diperoleh dari BPS sedangkan nilai faktor emisi digunakan default factor dari IPCC untuk wilayah Asia. Nilai faktor emisi dari IPCC pada kenyataannya tidak sesuai dengan kondisi peternakan di Indonesia.

Sejak tahun 2015, Puslitbangnak membuat kegiatan untuk dapat menghasilkan nilai faktor emisi untuk peternakan spesifik untuk kondisi di Indonesia. Berbagai rangkaian kegiatan dilakukan, termasuk didalamnya adalah konsultasi dengan internasional expert. Beberapa tenaga ahli dari lingkup Puslitbangnak dan  instansi lain seperti BPPT, BATAN, danUniversitas dilibatkan dalam penyusunan nilai faktor emisi ini.  Pada bulan Oktober telah dihasilkan nilai faktor emisi untuk gas metana dari enterik dan dari kotoran untuk semua komoditas ternak. Hasil ini telah disetujui oleh internal reviewer yaitu Prof. Dr. Rizaldi Boer dan Dr. Ir. Idat G. Permana.

Pada tanggal 14-15 Desember 2016, IPCC mengadakan sidang untuk menghimpun dan memberikan kesempatan bagi negara-negara untuk mengusulkan nilai faktor emisi spesifik negara untuk dimasukkan dalam buku panduan IPCC, yaitu dalam kegiatan berupa : “13th Expert Meeting on Data (AFOLU Sector) for the IPCC Emission Factor Database (EFDB)’ di Bali, Indonesia. Pertemuan dihadiri oleh para peneliti dari 19 negara pengusul, termasuk di dalamnya Indonesia. 

Indonesia mengirimkan 4 orang peneliti: Prof Fahmuddin Agus (BBSDLP)  mengusulkan nilai faktor emisi untuk lahan gambut. Sedangkan Dr. Haruni Krisnawati dan Dr. I Wayan S Dharmawan (KKLHK) mengusulkan faktor emisi untuk kehutanan yang mengusulkan nila faktor emisi. TErakhirDr. Yeni Widiawati (Puslitbangnak) mengusulkan 5 (lima) nilai faktor emisi untuk sapi potong.Kelima nilai faktor emisi untuk sapi potong, yaitu untuk kategori pra sapih, anak, muda, dewasa, dan sapi import yang diusulkan oleh Puslitbangnak telah dinyatakan layak dan diterima oleh anggota tim IPCC.  Proses selanjutnya adalah sidang pleno oleh tim IPCC dalam penyusunan Database IPCC berdasarkan nilai-nilai yang diusulkan oleh peneliti/pengusul.  

Semuapeneliti mempresentasikanyang diusulkan untuk menjelaskan prosedur dan metode untuk mendapatkan faktor emisi yang diusulkan. Kemudiandilanjutkansidang oleh anggota tim IPCC pada setiap pengusul untuk membahas kelayakan nilai faktor emisi yang diusulkan. (YW/REP)

Bagikan Berita ini