EnglishIndonesian

Pengembangan Kawasan Domba Unggul Berbasis Jagung Kearah Model Agribisnis Berkelanjutan

Kategori: Informasi Aktual Diunggah Pada: 17 Maret 2022.

Pusat Penelitian dan Pengembangan Peternakan (Puslitbangnak). laksanakan Seminar Berkala. Kegiatan ini sudah menjadi agenda rutin. Bulan Maret dilaksanakan 16 Maret 2022 secara daring (Zoom) diikuti kurang lebih 400 peserta dari berbagai instansi. Kegiatan ini dibuka oleh Kepala Puslitbangnak Dr. drh. Agus Susanto yang dalam sambutannya menyampaikan Seminar berkala ini merupakan acara yang ditunggu–tunggu setiap bulannya oleh para peneliti, mahasiswa, praktisi dan peternak.

Beliau juga mengharapkan kolaborasi di Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian (Balitbangtan) dalam riset dan pengembangan inovasi dapat memberikan manfaat dan hasil penelitian ini dapat disampaikan ke masyarakat. “Seminar bulanan ini dapat dimanfaatkan sebagai komunikasi antara peneliti dan stakeholder. Sehingga andil dari Puslitbangnak dapat dirasakan oleh masyarakat Indonesia. Membangun peternakan melalui seminar akan mencerdaskan dan menambah wawasan peserta. Pada akhirnya akan meningkatkan kecerdasan dan kesejahteraan peternak” ungkap Agus Susanto

Seminar bulan Maret 2022 ini menampilkan 2 narasumber yakni Dr. Simon P Ginting, peneliti di Loka Penelitian Kambing Potong dan Ir. Dwi Priyanto, B.Sc., M.Si, peneliti di Balai Penelitian Ternak.. Simon Ginting menyampaikan paparan dengan judul "Kemandirian Pakan dalam Integrasi Kambing dan Tanaman Jagung" dan Dwi Priyanto menyampaikan paparan dengan judul "Pengembangan Kawasan Domba Unggul Berbasis Jagung Kearah Model Agribisnis Berkelanjutan".

Simon Ginting menyampaikan telah dilaksanakan kegiatan Riset dan Pengembangan Inovatif Kolaboratif (RPIK) di Sumataera Utara. RPIK: adalah program terobosan Balitbangtan 2021-2024 yang menekankan unsur kolaborasi multipihak dalam melaksanakan kegiatan riset dan pengembangan yang inovatif. Penelitian yang dilakukan terkait: Pengembangan Tanaman Pakan, Formulasi Pakan, Kambing Unggul Boerka, Pengolahan susu, VUT jagung untuk pakan, Processing biomassa dan legum, kesehatan dan penyakit, dampak dan transfer teknologi.

Biomassa jagung sebagai pakan kambing terdiri dari produksi biomasa dan kualitas biomasa. Pengembangan hijauan pakan (rumput dan Legum ) dilakukan di Desa Perpanden dan Desa Sukarende. Seluas Stenotaphrum secundatum 3,5 Ha, Indigofera gozoll agribun 1,5 Ha dan Kaliandra 0,5 Ha. Setelah dianalisis ternyata kandungan batang atas mengandung protein lebih tinggi daripada batang bawah dan lebih mudah dicerna ternak. Begitu juga dengan daun atas kandungan protein lebih tinggi daripada daun bawah dan lebih mudah dicerna ternak.

Pengembangan Alsintan pabrik pakan ternak kambing berbahan baku produk jagung dan legum dilakukan dengan tujuannya merekayasa dan mengembangkan mesin pabrik pakan mini terintegrasi berbasis biomasa jagung sebagai sumber pakan ternak kambing dan mengembangkan pabrik pakan terintegrasi dengan tanaman jagung/legum skala kelompok/gabungan kelompok tani yang layak secara teknis dan ekonomis.

Paparan kedua disampaikan oleh Dwi Priyanto dengan judul "Pengembangan Kawasan Domba Unggul Berbasis Jagung Kearah Model Agribisnis Berkelanjutan". Disampaikan bahwa filosofi konsep pengembangan agribisnis (pertanian/peternakan) dibagi menjadi 2 yaitu keunggulan komparatif dan keunggulan kompetitif. Populasi domba di Provinsi Banten tahun 2020 sebanyak 294.230 ekor atau 1,7% dari total populasi domba nasional (BPS Banten, 2021) vs Jabar 12.272.435 ekor atau 67,6% dari populasi nasional (Ditjen PKH, 2020). Domba banyak dipelihara di pedesaan dan mudah beradaptasi di berbagai wilayah agroekosistem. Usaha domba di Provinsi Banten dilakukan secara ektensif (digembalakan).

Kebutuhan daging sapi setiap tahun meningkat dan pemenuhannya 70% masih impor. Daging domba bisa mensubstitusi daging sapi. Untuk itu pengembangan domba di Banten perlu dilakukan, mempertimbangkan permintaan pasar tinggi, dekat dengan pasar ibukota dan luar negeri.

Balitbangtan punya beberapa rumpun domba unggul (Compas Agrinak, Bahtera Agrinak, Komposit Garut Agrinak, St. Croix). Perlu dikembangkan domba unggul untuk memperbaiki mutu genetik domba lokal. Konsep pengembangan kawasan domba difokuskan pada persilangan untuk perbaikan performa domba lokal di pedesaan.

Pabrik pakan dan dukungan alsin dalam merancang pabrik pakan adalah bisnis usaha pakan ternak. Dari hasil penelitian disimpulkan silase jerami jagung bisa menggantikan rumput. Kualitas konsentrat standar setara dengan green concentrate.

Program penanggulangan penyakit kecacingan berbasis sumberdaya lokal mendukung produktivitas domba. Dukungan kelembagaan dan korporasi petani dengan stekeholder diharapkan mampu terbentuk pengembangan kawasan berkelanjutan. (REP)

Bagikan Berita ini