EnglishIndonesian

Peneliti Puslitbangnak Sampaikan Perkembangan RPIK Sumbawa dan Situbondo di Seminar Berkala Pelayanan Informasi Inovasi Teknologi Peternakan dan Veteriner

Kategori: Informasi Aktual Diunggah Pada: 15 Februari 2022.

Awal tahun 2022 Pusat Penelitian dan Pengembangan Peternakan (Puslitbangnak). kembali melaksanakan Seminar Berkala, kegiatan ini sudah menjadi agenda rutin. Edisi Februari dilaksanakan pada 15 Februari 2022 secara daring (zoom) yang diikuti kurang lebih 300 peserta dari berbagai instansi. Seminar ini dibuka oleh Kepala Puslitbangnak Dr. Agus Susanto yang dalam sambutannya menyampaikan "seminar berkala ini merupakan acara yang ditunggu-tunggu setiap bulannya oleh para peneliti, mahasiswa, praktisi dan peternak. Seminar bulan ini istimewa karena salah satu narasumbernya baru saja meraih gelar Profesor". Beliau juga menyampaikan harapannya kegiatan seminar berkala ini menjadi suatu pendorong kemajuan dunia peternakan kemajuan di bidang pertanian Ini akan meningkatkan pembangunan lebih cepat terutama untuk peternakan.

Seminar bulan Februari 2022 menampilkan 2 narasumber yakni Prof. Atien Priyanti, peneliti Puslitbangnak dan Dr. Dicky Pamungkas peneliti Loka Penelitian Sapi Potong dengan tema utama mengenai Riset dan Pengembangan Inovasi dan Kolaborasi (RPIK). Prof Atien menyampaikan paparan dengan judul Implementasi Integrasi Sapi – Jagung di Nusa Tenggara Barat dan Dr. Dicky Pamungkas dengan judul paparan Implementasi Integrasi Sapi – Sorgum di Jawa Timur.

Prof Atien Priyanti menyampaikan "Riset dan Pengembangan Inovatif Kolaboratif (RPIK) adalah program terobosan Balitbangtan 2021-2024 yang menekankan unsur kolaborasi multipihak dalam melaksanakan kegiatan riset dan pengembangan yang inovatif. Program RPIK bertujuan 1) meningkatkan keterpaduan, efektifitas program dan efisiensi sumber daya riset Balitbangtan, 2) meningkatkan kuantitas dan kualitas riset yang mampu bersaing secara nasional dan global, dan 3) meningkatkan output dan outcome riset yang fenomenal, bermanfaat, dan berdampak bagi percepatan capaian kinerja dan sasaran pembangunan pertanian maju, mandiri dan modern". 

Beberapa kegiatan yang dilakukan dalam implementasi RPIK integrasi sapi-jagung di Sumbawa adalah uji kinerja Varietas Unggul Baru (VUB) jagung, sosialisasi dan tanam perdana VUB jagung, demfarm, analisis mutu pupuk organik kompos di Labangka, pelatihan petani dalam membuat pupuk organik kompos, pemanfaatan kompos untuk efisiensi pupuk anorganik, membuat pakan silase berbasis biomassa jagung, bunker pengawetan biomassa jagung, pengujian pakan penggemukan, aplikasi vaksin SE dan IBR, rekayasa kelembagaan dan model bisnis serta analisis rantai pasok integrasi jagung-sapi.

Dr. Dicky Pamungkas menyampaikan Ketahanan pangan menjadi salah satu target utama global dalam pencapaian Sustainable Development Goals (#2), dimana Kementerian Pertanian bercita-cita untuk menjadikan Indonesia sebagai Lumbung Pangan Dunia Tahun 2045. Hal ini dapat dicapai dengan meningkatkan produktivitas dan produksi, yang akhirnya akan meningkatkan kesejahteraan petaniSaat ini kebutuhan daging adalah 683,29 ribu ton. Sementara itu, produksi daging hanya 404,59 ribu ton. Dengan jumlah penduduk 267 juta, konsumsi daging 2,56 kg/kapita/tahun terjadi defisit produksi daging: 278,70 ribu ton (40,79%) atau setara 1,24 juta ekor. 

Provinsi Jawa Timur ada 4 Kabupaten yang menanam sorgum yakni Situbondo dengan luas tanam 220 Ha, Probolinggo dengan luas 545,9 ha; Gunung Kidul 600 Ha dan Lamongan 500 Ha. Sorghum pada fase vegetatif mengandung Protein Kasar (PK) 13,76% – 15,66%, Serat Kasar (SK) 26,06% - 31,85%. Setiap hektar tanaman sorgum dapat menghasilkan jerami 2,62 ton Bahan Kering (BK). Potensi daun sorgum 14-16% dari bobot segar batang, atau sekitar 3 ton daun segar/ha dari total produksi 20 ton/ha.

Sorgum dapat dipanen pada umur pendek (60-70 hari, pola ratun/regrowth). rataan produksi biomassa 30-40 ton/ha, tinggi tanaman mencapai 3 meter dan produksi 1 batang mencapai bobot 1 kg. Sorgum yang telah dijadikan silase mempunyai kadar protein kasar 12% dengan harga jual Rp. 1.000/kg. Hasil penjualan batang sorgum dengan integrasi teknologi dapat mencapai 171.800.000/12 bulan/ha. (REP)


Sumber: Loka Penelitian Sapi Potong

Bagikan Berita ini