EnglishIndonesian

Pembiayaan, faktor penting untuk usaha penggemukan sapi potong di Indonesia

Kategori: Informasi Aktual Diunggah Pada: 22 April 2021.

Kepala Bagian Tata Usaha (Kabag TU Pusat Penelitian dan Pengembangan Peternakan (Puslitbangnak) Ir. Narta MSi membuka Seminar Berkala bulan April yang dilaksanakan 22 April 2021. Sambutan Kepala Puslitbangnak Dr. drh Agus Susanto MSi yang disampaikan Kabag TU bahwa seminar adalah wahana bagi para peneliti untuk bisa saling sharing pengetahuan dan hasil penelitian.


Selain itu disampaikan juga “Seminar adalah wahana untuk aktualisasi diri dalam diseminasi hasil penelitian, tempat membangun jejaring sehingga kualitas penelitian meningkat. Tujuannya adalah untuk meningkatkan kemampuan peneliti dan pada akhirnya akan meningkatkan kesejahteraan peternak.


Narasumber seminar bulan April 2021 adalah Dr. IGAP Mahendri dengan judul paparan “Pembiayaan untuk usaha penggemukan sapi potong di Indonesia”. Beliau adalah peneliti di Puslitbangnak. Disampaikan bahwa penelitian bertujuan untuk: 1) menganalisis faktor-faktor yang menentukan pembiayaan, 2) menganalisis faktor-faktor yang menentukan penyediaan pembiayaan dari bankkan, 3) mengidentifikasi pengaturan kelembagaan, kebijakan dan agribisnis yang menghubungkan (link) dari bank ke peternak dan 4) merekomendasikan pengaturan yang meningkatkan aliran pembiayaan (sisi bank, peternak, intermediate actors).


Disimpulkan bahwa: kapital atau permodalan berperan penting dalam penggemukan sapi. Bank merupakan. suplai kredit untuk usaha penggemukan sapi. Agar suplai kredit effisien, untuk usaha penggemukan sapi lebih efisien maka perlu didukung oleh pengaturan kelembagaan seperti kelompok atau koperasi untuk membantu pengelolaan termasuk kredit.

Dukungan pelaku usaha juga penting dalam proses aplikasi kredit menjamin marketing. Sementara dukungan lembaga penelitian diperlukan dalam mengedukasi sarana teknis pendampingan analisis kelayakan usaha sehingga dapat menurunkan resko bagi peternakan


Narasumber kedua adalah Riyadi ismail, SPt, MSi peneliti di Loka Penelitian Kambing Potong Sei Putih dengan judul paparan “Keragaman dan Asosiasi Fragmen 5’utr Gen Myostatin terhadap Bobot Lahir Kambing Boer, Kacang dan Hasil Persilangannya”. Disampaikan bahwa penelitian ini bertujuan mengidentifikasi keragaman fragmen 5’UTR gen Myostatin (MSTN) dan asosiasinya terhadap bobot badan kambing Boer, Kacang, dan hasil persilangannya (Boerka). Sebanyak 149 buah Sampel DNA diambil dari Loka Penelitian Kambing Potong Sungei Putih, Sumatera Utara. Identifikasi polimorfisme menggunakan metode direct sequencing dan Polymerase Chain Reaction - Restriction Fragment Length Polymorphism (PCR-RFLP). PCR-RFLP menggunakan enzim restriksi DraI terhadap indel g.1256/TTTTA. Analisis bobot badan dilakukan menggunakan Uji-t.


Hasil penelitian menunjukkan bahwa fragmen 5’UTR gen MSTN monomorfik pada kambing Kacang namun polimorfik pada kambing Boer dan Boerka. Frekuensi genotipe kambing Boer 0.40(AA), 0.43(AB), 0.17(BB); Kacang 1.00(AA); Boerka 0.53(AA), 0.37(AB), 0.10(BB). Frekuensi alel kambing Boer 0.62(A), 0.38(B); Kacang 1.00(A); Boerka 0.72(A), 0.28(B).


Frekuensi genotipe AB paling tinggi pada Boer, namun frekuensi genotipe AA paling tinggi pada Kacang dan Boerka. Indel g.1256/TTTTA berpengaruh signifikan (P<0.05) pada bobot badan umur 3 bulan, 12 bulan dan pertambahan bobot badan harian (PBBH) kambing Boer, namun tidak signifikan (P>0.05) terhadap parameter bobot badan kambing Boerka. Genotipe BB memiliki bobot badan paling tinggi (P<0.05) pada umur 3 bulan, sedangkan genotipe AB memiliki bobot badan (P<0.05) paling tinggi pada umur 12 bulan dan PBBH. Indel g.1256/TTTTA dapat dijadikan sebagai penciri genetik untuk sifat pertumbuhan kambing Boer namun tidak pada Boerka.


Seminar Berkala Inovasi Teknologi Peternakan dan Veteriner (TPV) bulan April 2021. dilakukan secara on-site di kantor Puslitbangnak dan dengan peserta terbatas dan daring (online) melalui aplikasi Zoom. Selain peserta dari lingkup Puslitbangnak dan lingkup Balitbangtan serta lingkup Kementerian Pertanian seminar diikuti oleh 200 peserta yang berasal dari berbagai instansi antara lain: Universitas Diponegoro, Universitas Brawijaya, Universitas Djuanda, Universitas Jember, Politeknik Pertanian Negeri Pangkajene Kepulauan, Universitas Pattimura, Universitas Tribhuwana Tunggadewi, Universitas Hasanuddin , Universitas Boyolali, Dinas Pertanian Kab. Bantaeng, Dinas Perikanan dan Peternakan Kuningan, Dinas Perikanan dan Peternakan Kabupaten Bogor, Dinas Ketahanan Pangan dan Peternakan Provinsi Jawa Barat, Dinas Peternakan dan Perikanan Kab. Ciamis, Dinas Pertanian Peternakan dan Perkebunan Kota Palopo, Dinas Ketahanan Pangan, Pertanian dan Perikanan Kota Serang, Dinas Pangan, Peternakan, dan Kesehatan Hewan Provinsi Kalimantan Barat , Dinas Pertanian Pangan Perikanan Kab. Bangka Selatan, swasta dll. (REP)

Bagikan Berita ini