EnglishIndonesian

Partisipasi Puslitbangnak dalam Pameran di Balai Penelitian Tanaman Jeruk dan Buah Subtropika

Kategori: Informasi Aktual Diunggah Pada: 20 Oktober 2021.

Dr. Andi Saenab selaku Koordinator Kerjasama dan Pendayaguaan Hasil Penelitian (KSPHP) dan Rahmawati, Pranata Humas Pusat Penelitian dan Pengembangan Peternakan (Puslitbangnak) hadir dalam acara Kunjungan Kerja (Kunker) Menteri Pertanian Syahrul Yasin Limpo di Instalasi Penelitian dan Pengkajian Teknologi Pertanian (IP2TP) Punten, Balai Penelitian Tanaman Jeruk dan Buah Subtropika (Balitjestro) pada tanggal 19 Oktober 2021. Kunker dihadiri oleh, Kepala Badan Penelitian dan Pertanian (Balitbangtan) Dr. Ir. Fadjry Djufry, M.Si , Walikota Batu Dra. Dewanti Rumpoko, M.Si., pejabat Eselon II lingkup Balitbangtan dan petani.

Kegiatan kunjungan kerja dilaksanakan dalam rangka Gelar Teknologi Inovatif Perbenihan Jeruk Bebas Penyakit Mendukung Pengembangan Kawasan. Dalam sambutannya Menteri Pertanian menyampaikan "Satu-satunya jalan untuk perbaiki negara adalah dengan perbaiki makanan. Perbaiki gizi dan nutrisi untuk rakyatnya. Merupakan rangkaian kegiatan dilaksanakan juga pameran inovasi teknologi. Puslitbangnak melalui Lolit Sapi Potong yang merupakan salah satu UPT Puslitbangnak ikut serta memeriahkan pameran.

Beberapa teknologi yang ditampilkan pada pameran ini diantaranya pengolahan limbah sapi potong dalam bentuk pupuk cair yaitu bio-urine dan kompos feses sapi yang siap digunakan. Teknologi manajemen pemeliharaan sapi potong seperti kandang kelompok model Litbangtan, pemilihan ransum pakan murah, aplikasi android untuk manajemen recording (SIDIK Peternakan), pendugaan bobot badan sapi (SIboba), cek kebuntingan sapi (Sicebun), dan sapi potong lokal unggul Pogasi Agrinak.

Limbah sapi potong adalah feces dan urin. Feces dapat diolah menjadi menjadi pupuk. Begitupun urin dapat diolah menjadi pupuk cair. Proses pengolahan urin menjadi pupuk cair dimulai dengan menampung urin dalam bak penampungan. Hasil tampungan didiamkan 3-4 hari. Tujuannya adalah untuk mengendapkan feces dan kotoran. Setelah 4 hari dipindahkan ke bak penampungan kedua. Lalu didiamkan selama 14 hari. Tujuannya dari pendiaman 14 hari adalah untuk mengurangi bau pesing dan kadar ammonia. Setelah 14 hari dimasukkan dalam tabung fermentor. Dalam tabung fermentor ditambah fermentor ( bisa pakai EM4 peternakan atau empon-empon ) dan tetes tebu. Kemudian diamkan selama 25 hari. Setelah didiamkan 25 hari bio urin sudah jadi dan dapat dimanfaatkan sebagai pupuk cair untuk pupuk tanaman. Untuk aplikasinya larutkan bio-urine dengan takaran 5 tutup botol dengan 1 liter air bersih. Aduk hingga larut dan siramkan ke bagian tanah tanaman. (REP)

Bagikan Berita ini