EnglishIndonesian

Kunjungi Manoko, Kapuslitbangnak Tinjau Lokasi Integrasi Sapi - Serai Wangi

Kategori: Informasi Aktual Diunggah Pada: 24 Januari 2021.

Kepala Pusat Penelitian dan Pengembangan Peternakan (Puslitbangnak) Dr. drh. Agus Susanto MSi. bersama Kepala Pusat Penelitian dan Pengembangan Perkebunan (Pusitbangbun) Ir. Syafaruddin, M.Sc. Ph.D. mengunjungi Instalasi Penelitian dan Pengkajian Teknologi Pertanian (IP2TP) Manoko, Lembang, Jawa Barat pada Jumat, 22 Januari 2021. Kunjungan ini dalam rangka meninjau lokasi revitalisasi dan integrasi ternak sapi dan serai wangi.

Selain Kapuslitbangnak dan Kapuslitbangbun, hadir mendampingi antara lain Kepala Balai Penelitian Tanaman Rempah dan Obat (Balittro) Dr. Ir. Evi Savitri Iriani, M.Si., Koordinator Kerja Sama dan Pendayagunaan Hasil Penelitan (KSPHP) Puslitbangnak Dr. Andi Saenab, Peneliti Puslitbangnak Dr. Endang Romjali, Kepala IP2TP Manoko Jajat Darajat dan jajarannya. IP2TP Manoko merupakan UPT dibawah pengelolaan Balittro yang salah satu kegiatannya mengembangkan tanaman serai wangi penghasil minyak atsiri.

Pada kesempatan tersebut, Kapuslitbangnak bermaksud memastikan perkembangan dan adaptasi 17 sapi perah yang dikirim Balai Penelitian Ternak (Balitnak) Ciawi berkembang secara baik. “Seperti diketahui pada 15 Januari (2021, red.) yang lalu, Balitnak telah mengirim sapi perah ke Manoko dalam rangka penyebaran bibit unggul sapi perah. Saya ingin memastikan perkembangan dan adaptasi dari sapi-sapi tersebut,” ungkap Dr. Agus.

Kunjungan ini sekaligus dimanfaatkan Dr. Agus untuk menggali kendala dan permasalahan dalam manajemen teknis pemeliharaan atau kesehatan ternaknya.

Sementara itu Kapuslitbangbun menyatakan bahwa sapi perah yang terdiri dari 14 ekor betina dan 3 ekor jantan ini menjadi bagian dari model integrasi sapi serai wangi yang menjadi ikon Agro Eduwisata Manoko. “Harapannya kegiatan revitalisasi dan integrasi sapi dengan serai wangi ini dapat menjadi tempat edukasi masyarakat mengenai tanaman atsiri (serai wangi) dan sapi ternak,” imbuh pria yang akrab disapa pak Deden ini.

Dr. Agus pun menambahkan bahwa model bioindustri sapi-serai wangi ini diharapkan nantinya kembali berkembang di IP2TP Manoko yang dulu dikenal sebagai lokasi percontohan. “Penyulingan serai wangi menghasilkan minyak atsiri sebagai output utama dan hasil sampingnya dapat digunakan langsung untuk pakan sapi perah sebagai pengganti hijauan,” ujarnya.

Untuk diketahui, produk utama serai wangi adalah minyak serai wangi (Citronella oil) yang dihasilkan dari hasil penyulingan bagian daun, tumbuhan serai wangi (Cymbopogon nardus. L). Minyak jenis ini dikenal sebagai salah satu minyak atsiri yang bernilai ekonomi tinggi. Minyak serai wangi memiliki kandungan antiseptik, antimikroba dan antijamur, sehingga selain dapat digunakan sebagai pengharum ruangan yang menenangkan, juga dapat mengusir serangga seperti nyamuk, lalat dan kecoa yang mengganggu. (GET/REP/NH)

Bagikan Berita ini