EnglishIndonesian

Kepala Puslitbangnak Panelis dalam Webinar FAO: Working Group on Agriculture Food Security and Land Use

Kategori: Informasi Aktual Diunggah Pada: 30 April 2021.

Telah dilaksanakan webinar dengan topik: How countries are reducing agricultural emissions of short-lived climate pollutants to simultaneously reduce air pollution and climate change with benefits for food security. . pada 27 April 2021 pukul 14.00-15.30 waktu Roma. Indonesia diwakili oleh Kepala Puslitbangnak Dr. Agus Susanto sebagai narasumber dalam webinar tersebut. Selain Indonesia, panelis lainnya adalah utusan Costarica, China dan Vietnam. Webinar tersebut adalah bagian dari pertemuan tahunan FAO´s Thematic Working Group on Agriculture Food Security and Land Use´s, Webinar diselenggarakan bersama Oxfam dan World Resources Institute


Adapun tujuan dari webinar adalah untuk bertukar pengalaman tentang aksi negara berkembang terhadap upaya penurunan emisi GRK subsector peternakan. Webinar diikuti oleh 58 orang peserta dari berbagai negara.


Indonesia menyampaikan tentang perhitungan emisi gas rumah kaca (GRK) dari sub sektor peternakan, program nasional peternakan terkait upaya penurunan emisi GRK yang tercantum dalam National Determine Contribution (NDC), serta keterlibatan para pihak (pengambil kebijakan, peneliti, pemerintah daerah, penyuluh) dalam upaya penurunan emisi GRK.


Secara nasional, total emisi GRK sub sektor peternakan adalah 29.897 Gg CO2-e, dengan kontribusi terbesar adalah CH4 dari fermentasi enteric, direct N2O dari pengelolaan kotoran, indirect N2O dari pengelolaan kotoran dan CH4 dari pengelolaan kotoran. Jenis ternak yang memberikan kontribusi terhadap emisi methane terbesar adalah sapi potong, diikuti oleh domba , kerbau, kambing, sapi perah dan kuda.


Perlu digaris bawahi bahwa berdasarkan laporan dari KLHK sebagai nasional vocal point, pada tahun 2018 sektor pertanian hanya berkontribusi sebesar 8,04% dari seluruh emisi GRK nasional 1.637.156 GgCO2-e (dari sektor energy, limbah, proses dan hasil industri, pertanian dan kehutanan), sementara sub sector peternakan mempunyai sumbangan sebesar 0,0227% dari total emisi GRK nasional.


Puslitbangnak bersama dengan BSBDLP aktif melakukan koordinasi nasional dengan Kementerian KLHK dan Bappenas dalam penyiapan penghitungan emisi GRK sub sector peternakan. Peneliti Puslitbangnak menjadi anggota working group perubahan iklim di tingkat kementerian pertanian.


Sementara di tingkat global, kerjasama riset dilakuan dengan berbagai negara serta aktif menjadi tim inti penyusunan guideline tentang penghitungan komponen GRK. Sejak tahun 2018 Puslitbangnak menjalin Kerjasama dengan pemerintah New Zealand terkait peningkatan metode inventory GRK dari Tier 1 ke Tier 2, dan kerjasama ini akan diperpanjang sampai tahun 2025. (REP)

Bagikan Berita ini