EnglishIndonesian

Kepala Puslitbangnak Buka Lokakarya Nasional Bisnis Unggas Lokal dengan Produk Berdaya Saing Export

Kategori: Informasi Aktual Diunggah Pada: 11 Juli 2022.

Indo Livestock adalah pameran peternakan terbesar 𝘆ang dilaksanakan tanggal 6-8 Juli 2022 di JCC Jakarta. Selain pameran pameran, Masyarakat Ilmu Perunggasan Indonesia (MIPI) juga melaksanakan lokakarya Bisnis Unggas Lokal dengan Produk berdaya saing ekspor.

Presiden MIPI 2020-2024 Prof. Ir. Arnold P. Sinurat M.S. PhD., dalam sambutannya menyampaikan Lokakarya Nasional ini dilaksanakan atas kerjasama antara MIPI, Ditjen PKH, Puslitbangnak dan Fapet UNHAS. Semoga dengan bekerjasama bisa menghasilkan yang lebih baik untuk masyarakat perunggasan di Indonesia. “BERSAMA KITA BISA BERBUAT LEBIH BAIK” Lokakarya kali ini fokuskan perhatian dan diskusi tentang bisnis itik tanpa mengabaikan unggas lokal lain seperti ayam lokal, puyuh dan lainnya.

Lokakarya ini bertujuan untuk meningkatkan kesadaran pelaku usaha dan konsumen tentang pentingnya standarisasi kualitas produk itik dan menghimpun saran dan masukan tentang langkah-langkah menuju standarisasi produk utama itik lokal yaitu telur dan daging.

Kegiatan lokakarya dibuka oleh Kepala Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian (Balitbangtan) yang diwakili oleh Kepala Pusat Penelitian dan Pengembangan Peternakan (Puslitbangnak) Dr. drh. Agus Susanto M.Si. dalam sambutannya menyampaikan unggas lokal diharapkan mampu bersaing dengan penerapan standarisasi yang berdaya saing ekspor untuk pertanian yang maju mandiri dan modern.

Lokakarya menghadirkan 4 narasumber, Drh. Syamsul Maarif , M.Si, dengan judul paparan Persyaratan Standar Administrasi Produk Hewan Untuk Ekspor. Kemudian dilanjutkan narasumber kedua Dr. Andi Baso Lompengeng Ishak, Kepala Balai Penelitian Ternak dengan judul paparan Kebijakan Standar Perbibitan Itik.

Paparan dengan judul Pengolahan dan standar telor itik disampaikan narasumber ketiga Rully Lesmana. Narasumber terakhir Dr. Hardi Prasetyo menyampaikan paparan dengan judul Persyaratan Standar Kualitas Daging Untuk Bisnis Kuliner.

Dalam paparannya Andi Baso Lompengeng menyampaikan bahwa kedepannya untuk membuka peluang daya saing perunggasan khususnya itik, perlu menyiapkan banyak pusat perbibitan itik seperti Food Estate. Dengan demikian peternak lebih siap dan mampu mandiri untuk memenuhi permintaan daging itik dan telur itik yang semakin hari semakin bertambah, sehingga permintaan di setiap daerah di Indonesia dapat dipenuhi”.

Selain itu strukturisasi unggas lokal dilakukan dengan perbaikan pola dari ekstensif menjadi kearah intensif dan penguatan kelembagaan peternak seperti pengembangan korporasi peternak unggas lokal berbasis kawasan yang dijadikan titik perbibitan.

Peningkatan usaha lainnya dengan peningkatan akses permodalan, kemitraan, akses pasar dan hilirisasi produk. Jika semua aspek sudah terpenuhi kedepannya Indonesia akan lebih siap untuk membuka peluang ekspor.

Lokakarya ini merumuskan antar lain prospek budidaya itik berkembang sangat potensial seiring dengan meningkatnya permintaan konsumen dan meningkatnya variasi kuliner khas daging itik secara nasional, perlu kolaborasi antara stakholder untuk mengembangkan titik titik pusat breeding itik unggul untuk memicu peningkatan populasi. Ditargetkan 200.000.000 populasi secara nasional, perlu adanya pembentukan strain komersial dengan spesifikasi yang jelas, dan dengan program breeding yang terstruktur. (REP)

Bagikan Berita ini