EnglishIndonesian

Kegunaan Termografi Inframerah Di Era Revolusi Industri 4.0. Dalam Penentu Kondisi Fisiologis, Produksi, Dan Reproduksi Kambing Perah

Kategori: Informasi Aktual Diunggah Pada: 24 Agustus 2021.

Telah dilaksanakan seminar berkala Pusat Penelitian dan Pengembangan Peternakan (Puslitbangnak) bulan agustus pada tanggal 18 Agustus 2021. Seminar dibuka oleh Dr Agus Susanto selaku kepala Puslitbangnak. Dalam sambutannya Kapuslitbangnak menyampaikan puji syukur kita panjatkan kehadirat Allah Yang Maha Esa atas segala kelimpahan kebahagiaan, keselamatan, kesempatan sehingga kita bisa bertemu pada seminar hari ini yang kita selenggarakan tepat waktu .

Selain itu disampaikan juga topik pada hari ini sangat menarik sekali akan dipaparkan tentang kegunaan termografi infra merah di era revolusi industri 4. 0 dalam penentu kondisi fisiologis produksi dan reproduksi kambing perah yang akan disampaikan oleh Fitra Aji Pamungkas. Kita tau bahwa infra red / infra merah itu merupakan suatu panjang gelombang yang menarik dimana bisa berinteraksi dengan material sehingga nanti akan memberikan respon seperti spesifik material itu, seperti sidik jari sehingga banyak data - data itu bisa dikejar, dirunut secara cepat menggunakan infra red, "Saya kira betul di era sekarang industri 4.0 ini teknologi informasi maupun teknologi yang terbaru terpakai di dalam budidaya peternakan supaya peternakan kita lebih maju , mandiri dan modern". Kemudian dilanjutkan dengan paparan berjudul Protein Spesifik Sebagai Biomarker Diagnosa Awal Kebuntingan Pada Urin Sapi PO Betina oleh drh. Yenni Widianingrum.

Bapak / ibu yang kami hormati saya kira kami juga memahami para pembicara ini juga membutuhkan masukan dari para peserta sehingga nantinya bisa menghasilkan suatu yang lebih baik, lebih menarik dan lebih mudah dalam penerapannya.

Oleh karena itu kami mohon para peserta seminar aktif untuk memberikan input baik itu statement, pertanyaan atau itu pengkritisan kami buka selebar – lebarnya. Selain info yang kita lakukan riset dapat tersalurkan ke masyarakat, tapi kami pun juga memperoleh masukan dari para masyarakat, dari bapak / ibu semuanya untuk meningkatkan kualitas dari riset kita.

Narasumber pertama Fitra Aji Pamungkas menyampaikan pembangunan peternakan di jaman modern ini sudah harus dilakukan dan tidak bisa dikesampingkan lagi dengan penggunaan teknologi apalagi di era digital seperti saat ini yang hampir semua sektor mengusung revolusi industri 4.0. Revolusi industri 4.0 sebagai industri generasi berikutnya menggunakan berbagai teknologi canggih seperti cyber-physical system (CPS), Internet of Things (IoT), cloud computing (komputasi awan), artifisial intelijen. Industri 4.0 menjanjikan potensi besar yang dapat meningkatkan industri peternakan khususnya produksi susu. Melalui penerapan teknologi dipastikan produktivitas dari peternakan akan semakin meningkat karena melalui teknologi akan mendorong terciptanya inovasi-inovasi yang bisa digunakan di masa kini maupun yang akan datang.

Di sisi lain, beberapa penilaian parameter fisiologis, produksi, dan reproduksi khususnya pada kambing perah biasanya menggunakan metode invasif, seperti pengukuran suhu rektal, pernapasan, denyut jantung, parameter hematologis, deteksi mastitis, maupun deteksi berahi. Metode invasif menunjukkan hasil yang kurang akurat karena respons anxiogenik prosedur itu sendiri sehingga menyulitkan dalam hal menginterpretasikan hasil. Metode invasif ini juga bersifat subjektif, membutuhkan waktu dan tenaga dan ada kekhawatiran tidak memperhatikan kesejahteraan ternak sehingga penggunaan termografi inframerah menjadi salah satu solusi alternatif yang bisa digunakan apalagi di era revolusi industri 4.0.

Termografi inframerah (IRT) adalah metode penginderaan non-invasif yang digunakan dalam mengukur perubahan transfer panas dan aliran darah melalui deteksi perubahan temperatur tubuh. Setiap bagian tubuh ternak memancarkan jumlah radiasi panas dalam bentuk inframerah berupa spektrum elektromagnetik yang berbeda dan diinterpretasikan dalam sebuah peta termal dengan perbedaan warna yang dihasilkan. Hasil penginderaan yang diperoleh dengan alat termografi inframerah memungkinkan dilakukannya pengamatan langsung pada distribusi temperatur pada suatu objek sehingga informasi tersebut sangatlah membantu dalam monitoring parameter fisiologis, produksi, maupun reproduksi ternak. Aplikasi termografi inframerah dapat dijadikan solusi alternatif di era Revolusi Industri 4.0 untuk menggantikan hasil pengukuran invasif yang selama ini digunakan dalam penentuan kondisi fisiologis, produksi, dan reproduksi terutama pada kambing perah.

Narasumber kedua Yenni Widianingrum peneliti di Loka Penelitian Sapi Potong menyampaikan paparan dengan judul Protein Spesifik Sebagai Biomarker Diagnosa Awal Kebuntingan Pada Urin Sapi PO Betina

Disampaikan bahwa telah dilaksanakan penelitian di Lolit Sapi Potong oleh Lukman Affandhy S, Muchamad Luthfi, S.Pt, M.Si, Drh. Dian Ratnawati, M.P, dan Drh. Dicky M Dikman, M.Phil, Penelitian dilakukan pada Bulan Februari sampai November tahun 2019 di Peternakan rakyat Kec. Nguling, Kab. Pasuruan dan Kandang percobaan Lolit Sapi, serta analisis urin di Lab. ADD,dan Lab. Biologi molekuler Universitas Brawijaya

Materi penelitian adalah Sapi Ongole (PO) induk (n=7) dengan status fisiologis estrus, bunting umur muda (hari ke-5, 6, 22, dan 60) dan tidak bunting (kontrol), berat badan ±350 kg, dan Skor Kondisi Tubuh (SKT) 6,0 – 6,5

Perjalanan penelitian Kit Kebuntingan Diagnosa Awal Kebuntingan sudah dimulai sejak tahun 2017 menghasilkan Pembuatan kit ELISA kebuntingan. Kemudian dilanjutkan tahun 2018 yang menghasilkan Pembuatan Kit Immunodotblot. Dan pada tahun 2019 dengan hasil Pembuatan Kit Lateral flow immunoassay

Penelitian ini bertujuan mengidentifikasi profil protein pada urin sapi PO (estrus), bunting (hari ke-5, ke-16, ke-22, dan ke-60), dan tidak bunting dan mendapatkan isolat protein spesifik dengan berat molekul tertentu dari urin sapi bunting sebagai kandidat biomarker untuk diagnosa awal kebuntingan pada sapi PO

Sementara itu manfaat penelitian ini adalah: 1) memberi informasi terkait profil protein pada urin sapi induk dengan umur kebuntingan yang berbeda.2) Protein spesifik dengan BM tertentu dalam urin dapat digunakan sebagai kandidat biomarker untuk mendiagnosa awal kebuntingan secara akurat dan tepat dan 3) menyempurnakan dan melengkapi diagnosa kebuntingan yang sebelumnya berkembang, lebih mudah dilakukan dan aplikatif di peternakan rakyat. Secara lebih luas penelitian ini berdampak pada efisiensi reproduksi dan kemampuan produksi sehingga mampu meningkatkan manajemen reproduksi sapi potong.

Penelitian ini menyimpulkan: 1)Protein yang muncul mempunyai berat molekul 39.9– 63.0 kDa,serta bersifat imunogenik. 2)Antibodi anti-lectin dan anti-PAG mampu mengenali antigen pada urin sapi bunting dan memberikan hasil positif pada uji konfirmasi dengan WB, sehingga dapat digunakan sebagai biomarker untuk diagnosa awal kebuntingan pada sapi dan 3)Dapat dikembangkan sebagai kit diagnosa awal kebuntingan pada sapi

Penelitian ini belum berakhir disarankan oleh peneliti bahwa perlu dilakukan penelitian lanjutan terhadap protein yang terkait kebuntingan dengan BM 39.9 kDa dan 63 kDa yang bisa digunakan untuk menginduksi lectin dan PAG untuk diagnosa awal kebuntingan. (REP)

Bagikan Berita ini