EnglishIndonesian

Kebijakan Pemerintah dalam Penanganan Penyakit Mulut dan Kuku

Kategori: Informasi Aktual Diunggah Pada: 26 Mei 2022.

Pusat Penelitian dan Pengembangan Peternakan (Puslitbangnak) melaksanakan Seminar Berkala pada 25 Mei 2022. Seminar dilaksanakan dalam upaya penyebarluasan informasi hasil kegiatan/penelitian sebagai akuntabilitas kinerja Puslitbangnak pada TA 2022. Kegiatan ini sudah menjadi agenda rutin. Seminar dilaksanakan secara daring (online) melalui aplikasi Zoom dan diikuti 300 lebih peserta yang berasal dari akademisi, praktisi, birokrat, dan/atau masyarakat umum.

Seminar dibuka oleh Kepala Puslitbangnak, Dr. drh. Agus Susanto, yang dalam sambutannya menyampaikan, "Penyakit Mulut dan Kuku (PMK) merupakan penyakit yang menular. Sebagai bangsa yang besar kita tidak boleh kalah, tetap optimis melakukan tindakan-tindakan menghadapi wabah penyakit PMK. Semoga seminar ini bisa memberikan manfaat kepada kita semua."

Kegiatan diawali dengan penyampaian Diseminasi Inovasi Teknologi Peternakan dan Veteriner oleh Dr. Andi Saenab selaku Koordinator Kerjasama dan Diseminasi Hasil Penelitian (KSPHP) Puslitbangnak tentang Sapi Pogasi.

Seminar bulan Mei 2022 menampilkan 2 narasumber, yaitu drh. Dicky MDikman, M.Phil., Kepala Loka Penelitian Sapi Potong, dan drh. Siti Yulianti, Sub Koordinator Pencegahan Penyakit Hewan Direktorat Kesehatan Hewan.

Narasumber pertama menyampaikan paparan dengan judul “Budidaya Ternak Sapi yang Baik sebagai Upaya Pencegahan PMK”.  Disampaikan bahwa pola pemeliharaan terbagi menjadi 3, yaitu intensif, semi intensif, dan ekstensif. Pada pemeliharaan intensif adalah ternak dikandangkan, kebutuhan pakan dan air minum disediakan. Sedangkan pada pemeliharaan semi intensif adalah ternak dikandangkan dan atau digembalakan, kebutuhan pakan dan air minum tidak seluruhnya disediak. Sementara itu pada pemeliharaan ekstensif adalah ternak tidak dikandangan, pakan dan air minum seluruhnya dari padang penggembalaan.

Pemeliharan ternak dilakukan sesuai status fisiologis, umur, dan jenis kelamin: indukan, induk bunting, pejantan, pedet, pedet lepas sapih dan dara. Pakan yang diberikan dapat berupa hijauan dan konsentrat, baik segar maupun yang telah di awetkan (hay, silase, dan amoniasi). Pemanfaatan limbah pertanian di wilayah sekitar  peternakan  dapat membantu pemenuhan kebutuhan pakan ternak.

Hay adalah pakan hijauan yang disimpan dalam bentuk kering dengan kadar air 20 – 30%.  Silase adalah rumput atau leguminosa yang diawetkan dengan cara fermentasi secara anaerob sehingga awet dan dapat digunakan pada musim kemarau. Amoniasi adalah proses peningkatan kualitas hijauan pakan ternak asal limbah pertanian menggunakan bahan kimia seperti urea. 

Ternak sapi dapat dikawinkan dengan 2 cara yaitu kawin alam dan dengan inseminasi buatan (IB) . Dengan perkawinan alam, 1 ekor pejantan dapat mengawini 15-20 ekor betina. Sedangkan dengan IB, menggunakan straw yang sesuai SNI.

Narasumber kedua menyampaikan paparan dengan judul ”Kebijakan Pemerintah dalam Penanganan Penyakit Mulut dan Kuku. Disampaikan bahwa penyakit mulut dan kuku disebabkan oleh virus RNA; menyerang hewan berkuku belah serperti sapi, kambing, domba, dan babi; menyebar sangat cepat; ditularkan melalui udara dan masa inkubasi 1-14 hari. Penularan bisa melalui virus yang ada di semua sekresi dan eksresi, aerosol pernapasan, kontak langsung dan tidak langsung.

Kebijakan dan strategi adalah tindakan karantina dan pengaturan/pembatas lalu lintas hewan dan produknya; pemusnahan terbatas, vaksinasi dan pengobatan supportif; biosecurity dan surveilans, komunikasi, informasi dan edukasi masyarakat; dan perlakuan bagi produk dan produk sampingnya. Upaya-upaya yang dilakukan antara lain: posko, lalintas , distribusi obat, penyediaan vaksin dan pelatihan. (REP)

Bagikan Berita ini