EnglishIndonesian

Kambing Perah, Kambing Peranakan Etawah.

Kategori: Informasi Aktual Diunggah Pada: 22 Juni 2020.

Susu kambing merupakan sumber protein untuk meningkatkan gizi keluarga dan mempunyai potensi sebagai obat dari beberapa penyakit seperti asma, TBC, serta pemulihan kesehatan. Disamping digunakan sebagai obat, susu kambing juga mempunyai nilai gizi yang tinggi karena komposisi lemak, protein, karbohidrat, vitamin, dan mineral lainnya.

Balai Penelitian Ternak mengembangkan rumpun kambing lokal Indonesia yang dinamakan Kambing Peranakan Etawah. Kambing ini merupakan hasil persilangan antara kambing Etawah (Jamnapari) dengan kambing kacang.

Kambing ini berpotensi memproduksi susu cukup tinggi yaitu 1-1.5 liter per hari dengan lama laktasi 4-6 bulan. Komposisi susu Kambing Peranakan Etawah ini adalah air (83-87%), protein (3.3-4.9%), lemak susu (4-7%), Ca (0.129%) dan P(0.106%). Pada program perkawinan setiap delapan bulan dengan masa beranak tiga kali dalam dua tahun, kambing ini sebaiknya diperah (dilaktasi) selama 4-6 bulan dengan masa kering selama 2-3 bulan.

Pakan yang dapat diberikan kepada kambing ini adalah rumput atau ramban segar dengan jumlah 4-5kg/ekor/hari, dan pakan konsentrat dengan jumlah 0.5-1 kg/ekor/hari dengan jumlah air minum yang hendaknya selalu tersedia secara bebas. Kambing peranakan etawah dapat memproduksi anak dengan berat bobot lahir 3-4.5 kg, dengan jumlah anak sekelahiran 1-3 ekor. Bobot sapih kambing peranakan etawah adalah 13-15 kg.

Kambing ini memiliki karakteristik kualitatif antara lain memiliki warna bulu kombinasi putih, hitam dan cokelat, bentuk profil muka cembung dengan telinga panjang dan terkulai. Tanduk kambing Peranakan Etawah melengkung ke belakang. Bulu jenggot jantan kambing ini panjang, sementara kambing betina tidak memiliki jenggot.

Punggung berbentuk lurus, beberapa agak melengkung dan semakin ke belakang semakin tinggi sampai pinggul. Bulu tubuh bagian leher dan pinggul lebih panjang, dan pada jantan bulu lebih panjang mengurai dengan. Kambing ini memiliki ekor pendek.

Kambing ini adaptif dengan kondisi tropis, sehingga cocok untuk dipelihara di hampir seluruh bagian wilayah Indonesia. Pada tahun 2013 Kambing Peranakan Etawah sudah ditetapkan sebagai rumpun kambing lokal Indonesia melalui SK Menteri Pertanian Nomor 695/Kpts/PD.410/2/2013.

Bagikan Berita ini